Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 08:02 WIB
Sumpil, Makanan Khas Kaliwungu
Slamet Priyatin | Tri Wahono | Sabtu, 4 Februari 2012 | 23:12 WIB
|
Share:
Slamet Priyatin Sumpil, makanan khas Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, yang diberikan saat tradisi weh-wehan menjelang Maulid Nabi Muhammad.

KENDAL, KOMPAS.com - Bagi masyarakat yang tinggal di luar Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mungkin belum mengenal makanan yang disebut sumpil. Makanan ini memang khas Kaliwungu dan hanya dibuat umumnya setiap menjelang peringatan Maulid Nabi Muhamad saja. Bagi masyarakat Kaliwungu, makanan ini menjadi bagian tradisi yang dibuat untuk tradisi weh-wehan atau saling mengirim makanan.

Sumpil adalah makanan berbahan dasar beras, sejenis ketupat. Kalau ketupat umumnya berbentuk kotak dan dibungkus dengan daun kelapa muda, sumpil berbentuk limas segitiga dan dibungkus dengan daun bambu. Cara memakannya dicampur dengan sambal kelapa.

Menurut salah satu warga Kaliwungu, Edi Prayitno (45), bentuk limas segitiga mempunyai arti sendiri. Yaitu, garis segitiga yang ke atas menandakan hubungan antara manusia dengan Allah atau habluminnallah, sementara yang ke bawah menandakan hubungan sesama umat atau habluminnanas.

"Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu," kata Edi , Sabtu (4/2/2012). Masyarakat meyakini, tradisi weh-wehan dengan sumpil konon diperkenalkan sejak zaman Sunan Kalijogo.

Sebenarnya, selain weh-wehan, ada tradisi lain disetiap Maulid Nabi Muhammad, yaitu tradisi teng-tengan. Teng-tengan ini, sejenis lampion tapi bentuknya prisma yag dipasang di depan rumah. Meskipun masih ada yang memasang teng-tengan di depan rumah, tapi sudah mulai berkurang. Sumpil pun mulai sedikit yang membuat dan sebagian masyarakat memilih menggunakan makanan modern.