Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dugaan Krisis Lingkungan di Balik Banjir Bandang dan Lahar di Sumbar yang Tewaskan 47 Orang

Kompas.com - 14/05/2024, 06:06 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com - Tim penolong masih terus mencari korban yang dilaporkan hilang. Dan di sisi lain, proses evakuasi warga terdampak banjir bandang juga sudah dilakukan pada Senin (13/5/2024).

Ratusan warga yang terdampak banjir bandang lahar di tiga daerah di Sumatera Barat telah evakuasi ke sejumlah posko pengungsian, ungkap Badan Penanggulangan Bencana (BNPB).

Banjir terjadi di Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang.

Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kota Padang, Sumatera Barat, melaporkan, korban meninggal dunia akibat banjir lahar dingin Gunung Marapi maupun banjir bandang di tiga wilayah di provinsi itu mencapai 47 orang per Senin (13/5/2024) pukul 16.30 WIB.

Baca juga: Korban Meninggal Akibat Banjir Lahar di Sumatera Barat Kembali Bertambah, Kini 44 Orang

Rinciannya, 20 orang korban meninggal dunia dari Kabupaten Agam, 23 orang di Kabupaten Tanah Datar, dua orang di Kabupaten Padang Pariaman, dan dua korban asal Kota Padang Panjang. Dari jumlah itu, Basarnas melaporkan korban yang sudah berhasil teridentifikasi berjumlah 44 orang.

"Sampai saat ini tim pencarian masih mencari keberadaan warga yang dilaporkan hilang," kata Kepala SAR Kota Padang, Abdul Malik.

Abdul menjelaskan, pencarian korban hilang yang diduga terseret arus banjir bandang tersebut dilakukan dari Kota Padang Panjang hingga aliran Sungai Batang Anai.

Adapun banjir bandang ini mengakibatkan 193 rumah warga di Kabupaten Agam mengalami kerusakan.

Sementara itu, di Tanah Datar, dilaporkan ada 84 rumah yang rusak ringan hingga berat.

Baca juga: Pj Gubernur Riau Berupaya Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Sumbar

Kerusakan juga terjadi di sejumlah sarana prasarana, yakni jembatan hingga rumah ibadah. Kondisi lalu lintas dari Kabupaten Tanah Datar menuju Padang dan Solok juga dilaporkan lumpuh total.

“Tim Basarnas, TNI, Polri, dan unsur terkait lainya masih terus berupaya melakukan penanganan darurat, pendataan, serta pertolongan untuk warga terdampak,” kata Abdul.

Kerusakan lingkungan

Warga melihat sebuah mobil yang terdampak banjir bandang di Nagari Bukik Batabuah, Agam, Sumatera Barat, Minggu (12/5/2024)ANTARA FOTO via BBC Indonesia Warga melihat sebuah mobil yang terdampak banjir bandang di Nagari Bukik Batabuah, Agam, Sumatera Barat, Minggu (12/5/2024)
Sebelumnya, aktivis lingkungan menilai bencana terjadi karena kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan pembangunan yang serampangan.

Untuk Kabupaten Agam, hujan deras bahkan disebut menyebabkan air sungai yang berhulu di Gunung Marapi meluap, sehingga tercipta aliran di "jalur baru" yang membawa "batu-batu besar" dari gunung berapi paling aktif di Sumatera itu ke permukiman di sekitarnya,

"Karena saking derasnya hujan, dia membuat jalur tersendiri," kata Budi Perwira Negara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam.

"Banjir ini diikuti dengan material batu besar dari Gunung Marapi."

Baca juga: TNI AL Terjunkan Satgas SAR Bantu Cari Korban Banjir Sumbar

Selain korban jiwa, ada pula 16 korban luka dari Kecamatan Canduang, Kecamatan Sungai Pua, dan Kecamatan IV Koto di Kabupaten Agam, kata Budi.

Sedikitnya 110 rumah warga dan tempat usaha serta satu sekolah di tiga kecamatan itu tergenang air, sementara tiga rumah disebut "terbawa arus".

Budi bilang bencana ini adalah yang "paling parah" yang pernah terjadi di Kabupaten Agam dalam "150 tahun".

Kabupaten Agam pun telah resmi berstatus tanggap darurat untuk periode 12-25 Mei.

Hujan lebat juga memicu tanah longsor di Desa Malalak Timur, Kabupaten Agam, sehingga akses jalan yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi terputus.

Menurut Budi, longsoran tanah sempat menutup jalan itu dengan panjang 12 meter dan ketinggian 3-4 meter.

Baca juga: Korban Banjir Sumbar Terseret Air 72 Km, dari Padang Panjang sampai Padang

Sementara itu, banjir melanda lima kecamatan di Kabupaten Tanah Datar: Kecamatan X Koto, Kecamatan Batipuh, Kecamatan Pariangan, Kecamatan Lima Kaum, dan Kecamatan Sungai Tarab.

Ada setidaknya 25 keluarga, 24 rumah, dan 12 jembatan yang terdampak, berdasarkan data terakhir BPBD Kabupaten Tanah Datar.

Ermon Revlin, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tanah Datar, mengatakan banjir yang terjadi di wilayahnya merupakan kombinasi banjir lahar dingin Gunung Marapi dan banjir bandang akibat naiknya debit air sungai.

"Kalau dilihat sungainya, ada beberapa yang [banjir] lahar dingin, ada yang tidak," kata Ermon.

"Yang bukan banjir lahar dingin itu ada yang di Rambatan, terus ada yang di Pandai Sikek. Itu karena debit air sungai tinggi. Karena hulu sungainya bukan di Gunung Marapi itu kalau Pandai Sikek."

Baca juga: Banjir Padang Panjang, 2 Warga Hilang, Belasan Rumah Terendam

Kondisi jalan nasional Padang - Bukittinggi yang putus

Keluarga korban menangis saat mengikuti evakuasi korban pasca banjir bandang di Nagari Bukik Batabuah, Agam, Sumatera Barat, Minggu (12/5/2024).ANTARA FOTO via BBC Indonesia Keluarga korban menangis saat mengikuti evakuasi korban pasca banjir bandang di Nagari Bukik Batabuah, Agam, Sumatera Barat, Minggu (12/5/2024).
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan banjir telah meninggalkan endapan lumpur setinggi "betis orang dewasa".

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com