Rabu, 24 September 2014

News /

KEKAYAAN LAUT

Terumbu Karang di Bunaken Kritis

Rabu, 7 Desember 2011 | 04:22 WIB

Manado, Kompas - Terumbu karang di Teluk Manado dan Bunaken dalam kondisi kritis. Bahkan, terumbu karang jenis acropora itu tersisa 20 persen dari luas terumbu karang di wilayah perairan tersebut.

Pakar terumbu karang, Mineo Okamato, dari Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan Tokyo, Jepang, di Manado, Selasa (6/12) mengatakan, berkurangnya areal terumbu karang acropora akibat pemanasan global sehingga banyak memutih. Kondisi ini selalu menghambat proses perkembangan terumbu karang.

Untuk menyelamatkan terumbu karang di Bunaken dan Teluk Manado, pihak Tokyo University bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Utara melakukan program restorasi. Penandatanganan kerja sama dilakukan Mineo Okamato dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut Happy Joy Korah, di Manado, Selasa siang.

Pakar terumbu karang Kakaskasen Andris Roeroe dari Universitas Sam Ratulangi menjelaskan, kerja sama penyelamatan terumbu karang di Teluk Manado dan Bunaken berlangsung selama lima tahun. Pendanaan kegiatan ini berasal dari bantuan Tokyo University senilai 3 juta yen per tahun. ”Kerja sama ini sangat penting bagi pemulihan karang di Bunaken dan Teluk Manado,” katanya.

Sementara itu, pembudidaya di sejumlah desa di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, memilih menunda menanam rumput laut akibat serangan hama dan menurunnya harga jual rumput laut. Kedua masalah itu kerap dihadapi petani rumput laut Maluku Tenggara.

Yamlean (25), petani rumput laut di Desa Sathean, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, Selasa (6/12), mengatakan, bulan lalu, tujuh bentang tali rumput lautnya diserang hama hingga seluruh rumput lautnya memutih dan mati. Virus juga menyerang rumput laut lain di desanya.

”Satu rumput laut terserang hama langsung menjalar ke lainnya, sehingga seluruh rumput laut di daerah ini mati,” tambahnya. Padahal, rumput laut itu sekitar dua minggu lagi dipanen.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara Babaranda Lili Letelay mengatakan, untuk serangan hama, pemerintah masih meneliti cara efektif guna menangkalnya. Serangan hama itu diduga akibat perubahan musim karena hama hanya menyerang saat masa peralihan musim. (APA/ZAL)


Editor :