Kamis, 23 Oktober 2014

News / Megapolitan

Peringatan 27 Juli 1996

Marihot : SBY Terlibat Tragedi 27 Juli

Rabu, 27 Juli 2011 | 15:53 WIB

JAKART, KOMPAS.com - Susilo Bambang Yudhoyono dianggap ikut teribat dan harus bertanggung jawab atas tragedi berdarah 27 Juli 1996. Pernyataan ini disampaikan Marihot Napitupulu, salah seorang pelaku dan saksi sejarah 27 Juli.

"(Brigjen) Susilo Bambang Yudhoyono saat itu Kasdam Jaya. Dia yang memimpin rapat tanggal 24 Juli (1996) yang merencanakan perebutan kantor PDI," ungkap Marihot saat berorasi dalam acara Mimbar Bebas peringatan Tragedi 27 Juli di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2011) .

Operasi perebutan kantor PDI, menurut Marihot, dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada waktu itu. Operasi dilakukan karena menganggap mimbar bebas di Kantor PDI saat itu telah merencanakan kegiatan makar.

"Faisal Tandjung, Pangab waktu itu sudah menyatakan di Diponegoro 58 ada gerakan dan program-program makar. Syarwan Hamid (Kasospol ABRI saat itu) juga menyatakan hal yang sama," kata Marihot yang ikut terlibat mempertahankan kantor PDI.

Kewenangan untuk menjalankan operasi kemudian dilimpahkan ke Kodam Jaya. SBY yang saat itu menjabat Kepala Staf Kodam memimpin koordinasi. "Operasi lapangannya memang dipimpin oleh (Kolonel) Tritamtomo dari Brigif 1 Kodam Jaya," ujarnya.

Menurut Marihot, pernyataan bahwa yang menyerbu adalah kubu PDI Soerjadi hanyalah informasi yang keliru. "Yang menyerbu adalah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Itulah sebabnya kasus ini tidak pernah dituntaskan," katanya.

Marihot menyayangkan pernyataan Komnas HAM periode lalu bahwa tidak ada indikasi pelanggaran HAM dalam peristiwa yang dikenal dengan Sabtu Kelabu itu. "Itu memang menyakitkan karena banyak teman yang terluka bahkan ada yang meninggal dunia," katanya.


Editor : Hertanto Soebijoto