Sabtu, 22 November 2014

News / Regional

Kesehatan

Tinggi, Tingkat Kemandulan di Sumut

Jumat, 13 Mei 2011 | 20:54 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Kasus infertilitas atau kemandulan di Sumatera Utara mencapai 15 persen hingga 17 persen per tahun dari semua pasangan suami istri (pasutri).

Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat infertilitas di Indonesia yang mencapai 12 persen sampai 15 persen. Untuk dunia, tingkat infertilitas hanya 8 persen sampai 15 persen.

Dokter dari Rumah Sakit Umum Provinsi H Adam Malik, Medan, dr Ichwanul Adenin, SpOG (K), menjelaskan, pemicu infertilitas bisa datang, baik dari pria maupun wanita. Infertilitas dari pria biasanya disebabkan oleh abnormalitas sperma, ejakulasi, abnormalitas ereksi, abnormalitas cairan semen, infeksi pada saluran genital, dan lingkungan.

Adapun pada wanita, infertilitas antara lain dipicu oleh gangguan organ reproduksi, gangguan ovulasi, kegagalan implantasi, endometriosis, abrasi, genetis, faktor imunologis, dan lingkungan.  

"Menghindari infertilitas pada pria antara lain dengan cara mengobati infeksi pada organ reproduksi, menghindari alkohol dan zat adiktif, serta menghindari obat yang mempengaruhi jumlah sperma," kata Ichwanul dalam acara Media Edukasi bertema "Infertilitas pada Pasutri dan Upaya Pemecahannya" yang digelar di Klinik Yasmin RSCM Kencana di Medan, Jumat (13/5/2011).

Menurut Ichwanul, masalah infertilitas pada wanita dapat diatasi dengan memberikan terapi obat (hormonal, antibiotik), atau bisa juga dengan langkah inseminasi buatan, bayi tabung (in vitro fertilization).  

Dokter dari Klinik Yasmin RSCM Kencana, dr Budi Wiweko, SpOG (K), menambahkan, kemampuan wanita dalam memproduksi sel telur semakin menurun sejalan dengan bertambahnya usia. Perlu diingat bahwa kronologis ovarium bisa saja berbeda dengan usia biologisnya.

Usia kronologi ovarium dihitung sejak kehidupan intrauteri, sementara usia biologis ovarium lebih menggambarkan cadangan ovarium dan responsnya terhadap stimulasi ovarium. Fungsi reproduksi lebih banyak dipengaruhi oleh usia biologis ovarium daripada usia kronologisnya.

"Pada usia 30 tahun-35 tahun, fertilitas wanita menurun, diikuti penurunan yang cepat pada usia sesudahnya," kata Budi.    

 

 

 

 


Editor : Agus Mulyadi