Kamis, 24 Juli 2014

News / Regional

Harga Gabah

Harga Gabah Melonjak, Bulog Ogah Beli

Selasa, 5 April 2011 | 22:39 WIB

JEMBER, KOMPAS.com — Menjelang akhir panen raya, harga gabah di Jember, Jawa Timur, kembali melonjak sangat drastis hingga mencapai harga Rp 2.900-Rp 3.100 per kg, dan semakin jauh dari harga pembelian pemerintah sebesar Rp 2.640 per kg. Sebelumnya, meski juga masih di atas HPP, tetapi di tingkat petani hanya berkisar Rp 2.700-Rp 2.900 per kg.

Kenaikan harga gabah ini kian mempersulit perolehan atau pemenuhan target Perum Bulog Sub Divre Jember untuk mendapatkan beras dari petani atau mitra sebanyak 89.000 ton.

"Saat ini kami baru dapat sekitar 7.000 ton beras. Tim satuan tugas unit penggilingan gabah dan beras dikerahkan dan bekerja keras membeli gabah dari petani," kata Kepala Perum Bulog Sub Divisi Regional Jember Tri Wahyudi Saleh di Jember, Selasa (5/4/2011).

Sewaktu ditanyakan oleh sejumlah petani saat dialog pada panen raya padi di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Jember, mengenai permintaan petani agar Perum Bulog membeli gabah petani, Tri Wahyudi Saleh mengaku siap membelinya. Akan tetapi, harga yang ditetapkan masih sebatas pada harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Perum Bulog hingga saat ini belum berani melangkah lebih jauh dengan membeli gabah dari petani sesuai harga pasar yang sudah melejit sangat tinggi. "Melalui satgas, kami keliling desa siap membeli gabah sekalipun hanya dapat 5 kuintal," kata Tri Wahyudi Saleh.

Ketua Forum Komunikasi Petani Pangan Jatim Jumantoro mengusulkan supaya pemerintah menaikkan harga gabah kering panen dari Rp 2.640 jadi Rp 3.000, gabah kering giling dari Rp 3.345 jadi Rp 3.600 per kg, dan beras dari Rp 5.060 jadi Rp 5.400 per kg.

Menurut dia, saat harga di atas HPP, petani memang sangat diuntungkan.

"Tetapi kita prihatin saat Bulog tidak dapat beras, maka ketahanan pangan kita mengkhawatirkan."

"Kita mengkhawatirkan akan masa depan karena pada saat musim gadu dan tidak ada panen, maka petani juga akan bertindak sebagai konsumen, terutama buruh tani," kata Jumantoro.

Sekretaris Kontak Tani dan Nelayan Andalan Jember Rahwini mengakui, sulit bagi Perum Bulog untuk memperoleh gabah sesuai prognosis. Apalagi, banyak gabah petani sekarang ditimbun di gudang perusahaan penggilingan padi.

"Mungkin mereka (perusahaan penggilingan padi) berharap agar ada kenaikan harga gabah secepatnya sehingga meraih keuntungan lebih besar," kata Rahwini.


Editor : Benny N Joewono