Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Kalteng Kekurangan Manggala Agni

Jumat, 25 Maret 2011 | 19:44 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Jumlah petugas yang berperan mencegah dan memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan masih amat kurang. Kondisi itu disebabkan hutan di Kalteng termasuk mudah terbakar namun jumlah petugas terbatas sehingga amat memerlukan partisipasi dari semua pihak, terutama masyarakat.

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Sipet Hermanto di Palangkaraya, Jumat (25/3/2011), mengatakan, jumlah polisi hutan (polhut) di Kalteng misalnya, tak lebih dari 320 orang. Idealnya setiap polhut menjaga lahan dengan luas sekitar 500 hektar (ha). Adapun luas hutan di Kalteng sekitar 10,25 juta ha atau 67 persen dari seluruh provinsi sekitar 15,3 juta ha. Berdasarkan itu, rasio luas lahan dengan setiap polhut amat jauh dari memadai yakni satu petugas untuk 32.000 ha.

Tanggung jawab terbesar penanggulangan bencana terletak pada pemerintah kabupaten/kota, terutama untuk menyadarkan warganya. Banyak masyarakat yang masih melakukan usaha berladang yang didahului dengan penebasan, penebangan, pengeringan, dan pembakaran.

"Cara itu amat berisiko menimbulkan bahaya kebakaran terutama di lahan gambut. Masyarakat diimbau untuk melakukan kegiatan itu secara terbatas dan terkendali. Sebelum membuka ladang, minta izin dulu kepada kepala desa atau camat," tutur Sipet.

Karena itu masyarakat diminta ikut aktif terlibat dengan menerapkan 3C yakni cegah sebelum terjadi kebakaran, cepat menanggulangi, dan cermati situasi. Selain perladangan, kawasan gambut terbuka yang tidak dinaungi dengan pohon-pohon juga mudah terbakar.

Koordinator Lapangan Tim Serbu Api (TSA) Kalteng, Haga Salmin, mengungkapkan, ia dan timnya menjaga wilayah Kalampangan. Tim yang dibentuk masyarakat setempat secara swadaya itu beranggotakan hanya sekitar 40 orang untuk menjaga lahan seluas 30.000 ha. Padahal, lahan seluas itu seharusnya diawasi minimal 100 orang.

"Sementara, ancaman diserang hewan buas seperti beruang, ular, dan buaya sudah tentu harus diterima. Kami juga kekurangan peralatan," katanya.

Menurut Haga, TSA hanya memiliki pompa air manual yang digerakkan dengan tangan. Pompa digunakan untuk membuat sumur jika sumber air cukup jauh. Jumlah pompa yang dimiliki TSA Kalteng hanya 15 pompa. Ia berharap, setidaknya untuk saat ini pompa yang bisa dioperasikan di Kalampangan 20 unit saja.

Kepala BKSDA Kalteng, Mega Riyanto menjelaskan, pihaknya memiliki kelompok petugas pemadam kebakaran yang disebut Manggala Agni dengan jumlah anggota sebanyak 205 orang. "Kalau terjadi kebakaran besar, kami sering kewalahan. Kalau sudah meluas, tinggal berdoa saja berharap api mengecil atau turun hujan," tuturnya.

Para anggota tersebar di daerah-daerah operasi yakni Kapuas Palangkaraya, Pangkalan Bun, dan Muara Teweh. Mereka dibagi-bagi dalam regu, masing-masing beranggotakan sekitar 15 orang. "Manggala Agni mengandalkan masyarakat setempat. Sekitar 185 anggota adalah warga lokal dan sisanya pegawai negeri sipil," kata Mega.

Sebagai upaya menambah personel pendukung, BKSDA Kalteng membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA). Warga setempat yang berada di daerah operasi Manggala Agni diberi pembinaan. Di setiap daerah, rata-rata terdapat lebih dari dua regu MPA. Setiap regu masing-masing beranggotakan sekitar 15 orang.


Editor : I Made Asdhiana