Kamis, 31 Juli 2014

News / Regional

Petani Sambut Harga Karet

Rabu, 5 Januari 2011 | 18:27 WIB

JAMBI, KOMPAS.com - Petani di Jambi menyambut antusias harga karet yang mencapai rekor tertingginya. Harga karet melambung karena terjadi penurunan hasil panen pada sejumlah negara produsen akibat anomali cuaca dan musibah banjir belakangan.

Harga karet pada pekan ini mencapai Rp 21.500 per kilogram, dengan kondisi kadar karet kering 60 hingga 65 persen. Ketua Kelompok Tani Budi Utomo di Desa Pondok Meja Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Kliwon mengatakan, harga karet terus naik sejak tiga bulan lalu. Kenaikan dimulai pada September lalu, dimana harga mencapai Rp 13.000, lalu naik menjadi Rp 18.000 pada November, dan Rp 20.000 pada bulan lalu.

"Belum pernah harga karet setinggi ini. Para petani sangat gembira, karena akhirnya bisa melunasi utang-utangnya dan juga menabung," ujar Kliwon yang merintis upaya penangkaran tanaman karet di Jambi. Di wilayahnya, telah lebih dari 500 keluarga menangkar bibit karet melalui binaannya.

Kliwon memperkirakan kenaikan harga karet masih akan terus berlanjut. Kondisi ini, lanjutnya, semakin memacu petani terus menyadap karet. Kliwon yang memiliki dua hektar kebun karet unggul bisa memanen 40 kilogram per hektar setiap harinya. Itu berarti Kliwon memperoleh hasil sekitar Rp 800.000 per hari.

Kenaikan harga karet, kata Kliwon, turut memicu tingginya minat petani akan bibit karet. Dalam sebulan terakhir, jumlah pesanan bibit karet di kelompoknya mencapai 60.000 batang. Padahal, jumlah pesanan rata-rata hanya mencapai 20.000 hingga 25.000 batang per bulan. "Sekarang ini petani berlomba-lomba ingin menanam karet, setelah mengetahui harga karet terus naik," ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Usaha Baru, Legiso mengatakan hal serupa. Kenaikan harga karet telah membuat petani semakin bersemangat untuk bertanam karet.

Akan tetapi, kondisi cuaca pada musim penghujan ini telah berdampak mengurangi produktivitas hingga sekitar 20 persen. "Tanaman karet kami jenis lokal biasanya menghasilkan 20 kilogram per hektar setiap hari, sekarang ini hasil panennya berkurang jadi sekitar 15 hingga 17 kilogram per hari," ujarnya.

Perkebunan karet di Provinsi Jambi mencapai keluasan 640.000 hektar. Meski areal penanamannya luas, tingkat produktivitas karet petani Jambi masih rendah. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tagor Mulia mengatakan, produktivitas karet di Jambi mencapai 821 kilogram per hektar per tahun.

"Ini jauh lebih rendah dibandingkan produktivitas karet seperti di Thailand yang mencapai 1,5 ton per hektar per tahun. Rendahnya produktivitas karet di Jambi disebabkan banyaknya tanaman karet tua yang belum diremajakan. Saat ini baru 25 persen tanaman karet di Jambi yang sudah diremajakan. Sebagian besar tanaman sudah tidak produktif lagi," tuturnya.

Tagor mengimbau para petani untuk memperhatikan usaha tani. Dalam pertumbuhan harga yang membaik, petani jangan memikirkan keuntungannya saja, namun juga memperhatikan upaya pemeliharaan tanaman. "Petani sebaiknya menggunakan bibit unggul yang dapat menghasilkan produksi lebih tinggi," katanya.


Editor : I Made Asdhiana