Selasa, 25 November 2014

News / Regional

Kecabulan

Inilah Pengakuan Gigolo dari Surabaya

Sabtu, 4 Desember 2010 | 03:06 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Polisi Surabaya baru saja mengungkap praktik bisnis seks yang melibatkan anak di bawah umur sebagai gigolo atau lelaki pekerja seks komersial (PSK). Di Surabaya, selain ada gigolo yang dikoordinasi germo, juga ada yang beroperasi mandiri.

Seperti dalam dunia kerja, di kalangan gigolo ada juga istilah naik pangkat. Setidaknya itulah yang dipahami Andi (27), seorang gigolo mandiri. Berawal sebagai gigolo panggilan atau freelance, kini Andi sudah ‘naik pangkat’ menjadi gigolo yang sudah dipelihara oleh seorang wanita yang jadi pelanggan setianya.

Beda gigolo freelance dan peliharaan adalah pada sifat penghasilannya. Gigolo peliharaan mendapatkan `gaji` rutin, sedangkan penghasilan gigolo freelance tidak menentu, tergantung naik-turun jumlah penggunanya.

Menurut Andi yang lulusan SMA, mengikat pelanggan bukanlah perkara mudah bagi gigolo. Karena jumlah tante-tante girang yang jadi konsumen tidak banyak di Surabaya, maka para gigolo harus pandai-pandai mempromosikan diri.

Andi berbeda dengan Muhlisin (27), gigolo merangkap germo yang telah ditangkap aparat Polrestabes Surabaya pada 26 November lalu. Karena mempekerjakan gigolo di bawah umur, Muhlisin dianggap melakukan perdagangan anak dan diciduk.

Muhlisin tidak pilih-pilih sasaran, dan bahkan mengiklankan jasanya secara terbuka di surat kabar. Asalkan ada yang berminat dan harga sesuai, dia dan anak buahnya siap melayani, termasuk melayani para gay (lelaki yang tertarik pada sesama lelaki).

Gigolo seperti Muhlisin ini adalah gigolo jenis pencari makan. Ia tak banyak pilah-pilih pengguna, yang penting dapat duit, selesai. Unsur `cita rasa` menjadi nomor dua.

Biasanya Muhlisin menyepakati tarif di depan. “Tapi, kalau pelanggan merasa puas, biasanya bayarannya dilebihkan,” kata Muhlisin.

Andi, dalam hal ini, beruntung. Pekerjaan resminya sebagai staf bagian public relations (PR) di sebuah apartemen mewah di Surabaya membuat Andi mengenal banyak warga kelas atas di sini, serta cukup memahami gaya hidup mereka.

“Ternyata, banyak orang berduit yang hidupnya kesepian, tak hanya kaum pria tapi juga perempuan,” tutur Andi.

Entah bagaimana belajarnya, Andi mengaku bisa membedakan mana perempuan yang kesepian dan `miskin kasih sayang`, serta mana yang tidak.

Bertinggi badan sekitar 172 cm dan berat 66 kg, postur tubuh Andi memang terlihat cukup ideal. Dengan penguasaan teknik pemasaran dan komunikasi sebagai seorang PR, Andi akhirnya mampu memikat seorang wanita karir yang menjadi pejabat di sebuah bank swasta nasional besar.

Sebelum bertemu wanita berusia 35 tahun itu, Andi hanyalah gigolo freelance. Namun sejak 8 bulan lalu, Andi `naik pangkat` menjadi gigolo peliharaan wanita yang sudah memiliki suami dan anak itu.

“Dia wanita yang cantik dan saya suka. Dia tidak pelit untuk memenuhi apa yang saya minta,” aku Andi yang sebetulnya juga sudah beristri dan beranak satu.

Untuk ‘pangkat’ yang baru ini, Andi mendapatkan penghasilan rutin setidaknya Rp 3 juta per bulan. Nilai ini lebih besar dari penghasilannya selama sebulan sebagai karyawan PR.

`Gaji` rutin itu masih ditambah bonus setiap kali sang tante merasa senang dengan servis seksnya. Tak jarang, tante tersebut juga membelikannya barang. Pokoknya, soal duit, bagi gigolo peliharaan seperti Andi, hal itu sudah urusan kedua. Tinggal telepon sang tante, Andi sudah bisa mendapatkan uang dengan mudah darinya.

“Sebagai balasan, saya harus siap untuk diajak. Bisa di rumahnya, bisa juga di hotel berbintang,” ungkapnya.

Dari tampilannya, Andi bisa dibilang seperti pria metroseksual. Aroma badannya wangi dan kulitnya bersih. Selain bersolek, Andi juga secara rutin mengikuti latihan fitness untuk menjaga bentuk tubuhnya yang sebetulnya sudah terbilang cukup ideal.

“Kalau tidak six pack (perut berotot sehingga membentuk bidang-bidang berjumlah enam, red) seperti ini, ya, saya tidak laku, Mas,” ujarnya sembari menyingkap bajunya, menunjukkan otot perut.

Perawatan tubuh yang dilakukan Andi ini semakin mempertegas segmen wanita apa yang dibidiknya. Untuk sekali perawatan, Andi bisa berjam-jam di salon langganannya.

Namun, Andi memiliki target untuk tidak menjadi peliharaan selama tahunan. “Sembilan bulan jadi peliharaan sudah cukup. Ini agar tidak ada kejenuhan yang berujung pada keteledoran dalam menjaga kerahasiaan hubungan,” ucapnya. (Miftah Fari)


Editor : yuli
Sumber: