Sabtu, 1 November 2014

News /

BENCANA ALAM

Gunung Sinabung Meletus Minggu

Senin, 30 Agustus 2010 | 03:54 WIB

Kabanjahe, Kompas - Hingga pukul 20.00, Minggu (29/8), tak kurang dari 18.194 orang dari 32 desa mengungsi, menyusul meletusnya Gunung Sinabung—sekitar 70 kilometer arah barat daya Kota Medan—di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Minggu pukul 00.08.

Meski Kementerian Sosial dan pemerintah daerah setempat telah mengedrop bantuan sedikitnya 250 ton beras—antara lain dari Kementerian Sosial 50 ton, Gubernur Sumatera Utara 200 ton, dan wali kota/bupati di Sumut sebanyak 100 ton—hingga Minggu petang para pengungsi belum memperoleh bantuan memadai.

Gunung Sinabung (berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut) tercatat meletus terakhir kali pada tahun 1600, dan sejak Jumat lalu status kegunungapiannya berubah dari Tipe B, yakni ”tidak berbahaya” dan tidak dipantau terus-menerus, menjadi Tipe A, yakni ”awas” dan dipantau terus-menerus.

Jumlah pengungsi tersebut sebatas yang tercatat di Posko Utama Tim Penanggulangan Bencana di pendapa Kabupaten Karo di Kabanjahe. Mereka tersebar di 16 tempat pengungsian, terutama di jambur-jambur. Jambur merupakan bangunan mirip aula atau pendapa yang biasanya dijadikan tempat pertemuan para tetua adat dan lelaki subetnis Karo. Gelombang pengungsi mulai terasa sejak Minggu dini hari sampai sore hari. Mereka datang dengan menumpang truk, mobil angkutan umum, dan sepeda motor.

Di tempat pengungsian, mereka tidur beralas tikar atau karpet. Di Jambur Taras, pengungsi dibagi berdasarkan desa masing-masing untuk memudahkan koordinasi. Di tempat ini semalam terjadi hujan deras. Warga hanya duduk di tikar, dan tidak terlihat kepanikan.

”Mereka berkumpul berdasarkan desa asal untuk memudahkan penghitungan,” kata Camat Berastagi Swingli Sitepu. Di tempat itu pengungsi juga dihibur dengan musik dan lagu rohani serta lagu tradisional.

Suasana desa-desa di sekitar kaki gunung kini sepi. Sementara itu, di beberapa desa yang berjarak 7-10 kilometer dari kaki gunung, belasan laki-laki bertudung sarung berjaga-jaga.

Langit kota Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo, maupun di Berastagi, sepanjang hari Minggu cerah dan tidak ada lagi hujan debu seperti sehari sebelumnya. Pasar, toko, terminal, dan warung-warung buka seperti biasa. Sebagian besar warga beraktivitas dengan menggunakan masker karena jalan dan atap rumah masih diselimuti debu vulkanik.

Perlu pemantauan

Di Jakarta, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono menyatakan, di masa depan gunung-gunung Tipe B tidak lagi bisa dibiarkan tanpa pemantauan seperti selama ini terjadi.

Selama ini, PVMBG hanya memantau gunung api Tipe A, yaitu yang tercatat pernah meletus setelah tahun 1600-an. Gunung api yang meletus terakhir sekitar tahun 1600, yaitu gunung api Tipe B tidak dipantau secara terus-menerus.

”Meletusnya Gunung Sinabung memberi pelajaran amat berharga dan mengubah pola pikir bahwa gunung api Tipe B tidak dapat ’dianaktirikan’,” katanya. Yang terdekat akan dilakukan adalah memantau Gunung Sibayak yang paling dekat jaraknya dengan Sinabung. Di masa mendatang, intensitas pemantauan gunung api Tipe B harus ditingkatkan. Ini berarti PVMBG akan memasang berbagai peralatan untuk memantau aktivitas seismik dan kimiawi gunung bersangkutan.

Secara logika, tambahnya, ”Gunung yang jarang meletus berarti energinya besar karena menumpuk, maka risikonya pun besar. Proses yang terjadi adalah proses termodinamika yang melibatkan tekanan, volume, dan temperatur, maka proses saat ini tidak harus sama dengan di masa lalu. Bisa sama bisa tidak. Oleh karena itu, besarnya energi bergantung pada proses saat itu, saat mau meletus,” paparnya.

Meletusnya Gunung Sinabung juga belum bisa diketahui apakah akan memicu letusan Gunung Sibayak. Untuk memantau kedua gunung tersebut, PVMBG sudah meminta lokasi kepada bupati untuk pemantauan tim PVMBG. ”Jadi, jika Sibayak ’tertular’, terpicu meletus, bisa diketahui lebih dulu,” kata Surono.

Saat ini tercatat ada sekitar 150 gunung api di Indonesia. Sekitar 80 gunung di antaranya termasuk Tipe A (ada sejarah meletus setelah tahun 1600-an), sekitar 34 buah gunung api termasuk Tipe B (ada data meletus terakhir sekitar tahun 1600-an), dan sisanya adalah Tipe C (tidak ada data letusan sama sekali).

Bantuan

Direktur Bantuan Sosial Korban Bencana Alam dari Kementerian Sosial Andi Hanindito di lokasi pengungsian Posko Utama Tim Penanggulangan Bencana Kabupaten Karo mengatakan, adanya jambur-jambur tersebut sangat membantu proses evakuasi warga karena pemerintah tidak perlu repot-repot mendirikan tenda. Hanya saja, yang perlu segera ditangani adalah pengadaan air bersih, alas tidur, selimut dan kebersihan lingkungan. ”Itu yang sedang kami koordinasikan,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah telah mendistribusikan 50 ton beras untuk para pengungsi. Jumlah tersebut cukup untuk sebulan sampai dua bulan ke depan. Apalagi, masih ada stok 100 ton beras pada Pemerintah Kabupaten Karo dan 200 ton beras di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Sekda Provinsi Sumut RE Nainggolan mengatakan, pihaknya telah menyiapkan selimut, tikar, air bersih, toilet umum, dan masker untuk para pengungsi. Ia menyebutkan, Pemprov langsung merespons begitu mendapat informasi bencana Gunung Sinabung Minggu dini hari.

Bupati Karo Daulat Daniel Sinulingga menjelaskan, pihaknya telah menyediakan tempat pengungsian dan kendaraan bagi warga. Bupati mewajibkan warga yang tinggal dalam radius 6 kilometer dari kaki gunung harus segera mengungsi. Daerah tersebut akan menjadi daerah sangat berbahaya saat letusan berulang.

Kepala Bidang Program Dinas Pertanian Kabupaten Karo Agustoni Tarigan mengatakan, sayur dan buah—komoditas yang banyak dihasilkan di kabupaten itu—banyak yang tidak tahan dengan abu vulkanik.

Namun, Ketua Koperasi Serba Usaha Masyarakat Jeruk Indonesia Usaha Barus melihat abu vulkanik dan lelehan belerang patut disyukuri karena akan menyuburkan tanah di Karo yang sudah jenuh dengan pupuk kimia. (NAL/ISW/MHF/WSI/MHD)


Editor :