Selasa, 16 September 2014

News / Travel

'Growol', Makanan Rakyat Cegah Kegemukan

Senin, 16 Agustus 2010 | 11:57 WIB

KULONPROGO, KOMPAS.com Growol diproduksi sebagian warga Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Makanan tradisional dari ketela yang memiliki rasa asam ini sampai sekarang tetap digemari masyarakat, bahkan hingga ke luar daerah.       Seperti dikatakan salah seorang penjual growol, Ngadiyem, warga Sribit, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Senin (16/8/2010) selama 25 tahun berjualan makanan ini di Pasar Induk Sentolo, Kulon Progo, tidak pernah sepi pembeli.       Menurut dia, growol yang memang makanan warga pelosok pedesaan ini juga digemari masyarakat di perkotaan. "Sejak 25 tahun lalu sampai sekarang peminat growol tidak pernah menurun jumlahnya. Setiap hari saya dapat menjual sekitar 25 tenggok (keranjang kecil) dengan harga Rp 5.000 per tenggok," katanya.       Ia mengatakan, pembuatan growol membutuhkan waktu empat hari, yaitu sejak proses merendam ketela yang telah dikupas dan diiris kecil-kecil ke dalam air, kemudian ditiriskan serta dihancurkan, sebelum akhirnya dikukus.       "Tiap pagi harus dibilas supaya growol tidak berasa kecut dan tetap putih. Mengolah growol harus dengan kesabaran, tidak boleh putus asa," katanya.       Ia mengatakan, konon growol bermanfaat untuk mencegah kegemukan serta menyembuhkan penyakit maag dan penyakit gula.

"Growol putih tanpa ada campuran gula dapat menyembuhkan penyakit. Biasanya growol dimakan dengan kelapa diparut, rasanya jadi gurih," katanya.       Pada zaman dulu, kata dia, growol dimakan petani sebagai pengganti nasi saat mereka memanen padi di sawah atau saat musim paceklik (krisis pangan). Hal itu karena growol masih bisa disimpan selama tiga atau empat hari. "Berbeda dengan nasi, pagi dimasak, sore sudah basi. Growol bisa tahan hingga empat hari," katanya.       Agar tetap digemari masyarakat, kata dia, growol dicampur dengan gula jawa agar rasanya manis. "Kalau hanya dimakan begitu saja, lama-kelamaan akan bosan. Biasanya ada sebagian yang saya campur dengan gula jawa karena growol ditambah dengan gula lebih enak dan tidak hambar," katanya.       Menurut dia, kesulitan bagi pembuat growol adalah tidak stabilnya pasokan bahan baku berupa ketela. "Beberapa bulan terakhir, pasokan ketela pohon dari petani tidak lancar. Saat lancar, pasokan ketela pohon datang seminggu tiga kali. Namun, saat sepi, tidak ada pasokan dalam seminggu sehingga terpaksa harus ke Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk membeli ketela," katanya.       Ia setiap hari membutuhkan 90 kilogram ketela dalam memproduksi growol. "Saat tidak ada pasokan ketela, para pembuat growol mencari ketela di sekitar Purworejo, Jawa Tengah. Atau jika pasokannya masih sedikit, terpaksa harus membeli ketela ke Muntilan," katanya.


Editor : Ignatius Sawabi
Sumber: