Kamis, 18 September 2014

News / Regional

Rendah, Kesadaran Menerapkan Prosedur Pemulihan Bencana

Sabtu, 13 Maret 2010 | 00:55 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Kesadaran perusahaan menerapkan prosedur pemulihan bencana (discover recovery planning /DRP) masih sangat rendah. Sekitar 34 persen perusahaan terutama berskala besar di Indonesia belum menerapkan prosedur tersebut.

Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Dimitri Mahayana di Bandung, Jumat (12/3/2010), mengatakan, selain DRP, terdapat prosedur lain yang perlu disiapkan perusahaan untuk menghadapi bencana yakni manajemen kesinambungan bisnis ( business continuity planning/BCP).

Menurut Dimitri, pihaknya pernah mengadakan survei terhadap 37 perusahaan besar pada tahun 2008 dan kembali dilakukan pada 2010. Survei pertama menunjukkan, kesadaran masih rendah. "Saya masih menunggu hasil survei kedua tapi kondisinya diperkirakan tidak jauh berbeda," katanya.

Berdasarkan data Dewan Koperasi Indonesia, di Indonesia terdapat sekitar 5.000 perusahaan besar dan ditaksir, sekitar 1.700 perusahaan di antaranya belum menerapkan DRP/BCP. Perusahaan berkategori besar memiliki omzet lebih dari Rp 50 miliar per tahun.

"Seharusnya, semua perusahaan besar memiliki prosedur itu. Perusahaan sebenarnya mampu karena berskala besar," kata Dimitri.

Rendahnya kesadaran disebabkan perusahaan masih terlalu mengutamakan bisnis. Masalah lain yakni, tidak memprioritaskan risiko. Kalau terjadi bencana, mungkin perusahaan sadar tapi hanya sementara. "Padahal, Indonesia terutama Jawa Barat rawan terkena bencana alam," katanya.

Selain itu, perusahaan di Indonesia terbiasa membebankan risiko kepada pelanggan. Kondisi saat ini diperparah dengan belum lengkapnya prosedur DRP/BCP yang diterapkan perusahaan. Sekitar 78 persen perusahaan di Indonesia belum menerapkan prosedur itu dengan lengkap.

"Saya pernah mendatangi perusahaan yang mengaku memiliki DRP/BCP tapi waktu diterapkan gagal. Sama saja tidak ada prosedur," ujar Dimitri. (bay)

 


Editor : primus