Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jeritan Penyedia Bus Pariwisata, Setelah "Dihajar" Pandemi, Kini Terdampak Larangan "Study Tour"

Kompas.com - 29/05/2024, 10:31 WIB
Dian Ade Permana,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

UNGARAN, KOMPAS.com - Polemik pelarangan study tour mulai "makan korban". Beberapa rencana perjalanan yang telah tersusun dibatalkan oleh pemesan.

Hal ini seperti yang dialami, sopir bus pariwisata PT. Ultima Java Trans Danang Ragil Santoso. Dia mengatakan beberapa klien telah membatalkan rencana kunjungan ke daerah wisata.

"Klien dari sekolah-sekolah ada yang membatalkan setelah ada kabar larangan study tour tersebut. Sekira 20-30 persen," ujarnya, Rabu (29/5/2024).

Baca juga: Ketua Organda Jepara Kecam Larangan Study Tour: Harusnya Bus Tidak Berizin yang Ditindak

"Kemarin yang membatalkan tersebut untuk kunjungan di Pulau Jawa. Tapi dari rekan yang lain, ada yang kunjungan wisata ke luar pulau yang dibatalkan," kata Danang.

Menurut Danang, dengan adanya larangan study tour merugikan pelaku bisnis pariwisata.

"Kita ini kan sebenarnya baru mau bangkit setelah kemarin dihajar pandemi Covid-19. Baru berjalan sebentar, ini sudah harus berhenti lagi," ujarnya.

Danang mengungkapkan, pelaku usaha bisnis transportasi pariwisata pasti setuju dengan penertiban regulasi karena berhubungan dengan keselamatan banyak orang.

"Jadi solusinya itu bukan melarang, tapi pemerintah tertib dan disiplin dalam menjalankan peraturan. Kalau ada yang melanggar ya ditindak. Kalau melarang semua terkena imbas," tegasnya.

"Jangan melarang orang berwisata, tapi perusahaan atau armada yang melanggar itu ditindak dengan aturan. Itu lebih baik dan bisa menjadi jalan keluar untuk antisipasi agar tidak terulang terjadinya kecelakaan," kata Danang.

Dia mengakui, setelah ada beberapa kali kecelakaan yang melibatkan armada bus peserta study tour membuat konsumen mulai kritis.

"Tapi itu bagus, karena konsumen jadi tanya izin perusahaan, armadanya seperti apa, suratnya bagaimana, lengkap atau tidak. Jadi konsumen mendapat pelayanan penuh dan perusahaan mendapat kepercayaan," paparnya.

Tapi Danang juga menyatakan perlu adanya edukasi untuk konsumen.

"Jangan hanya tergiur dengan bus yang murah. Sekarang kan investasi bus mahal, harga bus juga naik terus karena fasilitasnya beragam, belum lagi surat-surat dan perizinannya, jadi ya jangan memilih bus yang apa adanya tapi murah," kata dia.

Terpisah, pengelola PO. Citra Dewi Bandungan Kabupaten Semarang Citra Desi Deriya menyatakan tidak setuju dengan pelarangan study tour.

Baca juga: 4 Kasus Kecelakaan Bus Study Tour Terjadi Satu Bulan Terakhir, Akibatkan Belasan Korban Jiwa

"Ini kan tidak hanya soal segi transportasi saja, karena tidak semua kelalaian dari perusahaan otobus atau transportasi," ujarnya.

"Di perusahaan kami, semua perizinan tidak ada masalah dan sudah selesai. Izin prinsip dan sertifikat SMK atau Sistem Manajemen Keselamatan yang diwajibkan oleh Kemenhub, kami sudah mengurus dan memilikinya," ungkapnya.

Dia mengatakan, jika memang study tour dilarang karena transportasi, maka harus disinkronkan antara Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, dan Satlantas kepolisian.

"Armada yang berangkat harus dicek dahulu, mulai dari kesiapan armada, perizinan, surat-surat," kata Citra.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Usai Bunuh Ayah Kandung, Ngadimin Lukai Diri Sendiri dan Sempat Berobat ke Puskesmas

Usai Bunuh Ayah Kandung, Ngadimin Lukai Diri Sendiri dan Sempat Berobat ke Puskesmas

Regional
Asa Petani Karanganyar Menghadapi Kemarau Panjang

Asa Petani Karanganyar Menghadapi Kemarau Panjang

Regional
Perjalanan Kasus Oknum Satpol PP Bunuh IRT di Bone gegara Utang, Pelaku Divonis Penjara Seumur Hidup

Perjalanan Kasus Oknum Satpol PP Bunuh IRT di Bone gegara Utang, Pelaku Divonis Penjara Seumur Hidup

Regional
Terungkap, Temuan 9,5 Kg Sabu dan 9.000 Butir Pil Ekstasi di Bengkalis

Terungkap, Temuan 9,5 Kg Sabu dan 9.000 Butir Pil Ekstasi di Bengkalis

Regional
Tokoh Pendiri Provinsi Belitung Meninggal di Mekkah

Tokoh Pendiri Provinsi Belitung Meninggal di Mekkah

Regional
Pemprov Kepri: Calon Kepala Daerah Petahana Wajib Cuti 60 Hari

Pemprov Kepri: Calon Kepala Daerah Petahana Wajib Cuti 60 Hari

Regional
Polisi Bangka Barat Gagalkan Penyelundupan 4 Ton Timah Ilegal

Polisi Bangka Barat Gagalkan Penyelundupan 4 Ton Timah Ilegal

Regional
Sampah Menumpuk di Jalan, Bupati Pemalang Sebut Ada Pegawai DLH yang Lakukan Sabotase

Sampah Menumpuk di Jalan, Bupati Pemalang Sebut Ada Pegawai DLH yang Lakukan Sabotase

Regional
Terdesak Biaya Sekolah Anak, Pria 34 Tahun Maling di Rumah Tetangga

Terdesak Biaya Sekolah Anak, Pria 34 Tahun Maling di Rumah Tetangga

Regional
Melihat Pernikahan Adat Jawa di Candi Borobudur, Pengantin Dikirab Bregada Sebelum Ijab Kabul

Melihat Pernikahan Adat Jawa di Candi Borobudur, Pengantin Dikirab Bregada Sebelum Ijab Kabul

Regional
Gulo Puan, Kuliner Langka Kegemaran Bangsawan Palembang

Gulo Puan, Kuliner Langka Kegemaran Bangsawan Palembang

Regional
Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Basis Satu Data Penting untuk Sukseskan Program Pemerintah

Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Basis Satu Data Penting untuk Sukseskan Program Pemerintah

Regional
Kuras Sumur, Pria di Cilacap Tewas

Kuras Sumur, Pria di Cilacap Tewas

Regional
International Tour de Banyuwangi Kembali Digelar, Diikuti 20 Tim dari 9 Negara

International Tour de Banyuwangi Kembali Digelar, Diikuti 20 Tim dari 9 Negara

Regional
Tunggu Putusan Pengadilan, Pemkot Jambi Siapkan Anggaran untuk SDN 212

Tunggu Putusan Pengadilan, Pemkot Jambi Siapkan Anggaran untuk SDN 212

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com