Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Korban Banjir Lahar Dingin di Sumbar, Cemas Ketika Turun Hujan

Kompas.com - 19/05/2024, 17:42 WIB
Idon Tanjung,
Reni Susanti

Tim Redaksi

BUKITTINGGI, KOMPAS.com - Topan (53) masih trauma dengan kejadian banjir lahar dingin Gunung Marapi, Sumatera Barat, yang terjadi Sabtu (11/5/2024).

Topan merupakan salah satu korban banjir lahar dingin. Ia kini mengungsi di posko pengungsian SDN 08 Nagari Bukit Batabuh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Ketika ditemui Kompas.com, Minggu (19/5/2024) siang, ia menyambut dengan senyum ramah.

Baca juga: Jasad Tak Dikenal di Sungai Kuantan, Diduga Korban Banjir Lahar Dingin

Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan ini duduk di atas kasur warna merah bantuan pemerintah setempat.

Topan sudah tujuh hari mengungsi bersama istri dan seorang anak perempuannya. 

Diceritakan Topan, sebelum banjir lahar dingin datang, cuaca di Nagari Bukit Batabuh dilanda hujan deras disertai petir.

"Sore itu hujan dan petir. Saat itu kami sudah mulai waspada banjir," ujar Topan saat diwawancarai Kompas.com di posko pengungsian, Minggu.

Baca juga: Dari Qatar, Prabowo ke Sumbar Beri Bantuan untuk Korban Banjir Lahar

Sehabis Magrib, kata dia, air sudah mulai naik. Topan bersama warga lainnya keluar rumah untuk melihat kondisi air dari atas jembatan yang tak jauh dari rumahnya.

Namun, sebelum sampai ke jembatan, datang banjir besar dan ia berlari ke dalam rumah untuk menyelamatkan istri dan anaknya.

"Pas kami jalan mau nengok kondisi air, rupanya datang banjir besar. Saya berlari ke rumah dan menutup pintu untuk menyelamatkan istri dan anak. Tak lama kemudian, banjir semakin besar dan masuk ke dalam rumah," cerita Topan.

Hantaman banjir ke rumahnya begitu keras. Sebab, banjir membawa material batu dan kayu besar.

Dia bersama istri dan anaknya menyelamatkan diri dengan lari lewat pintu belakang mencari tempat yang tinggi.

"Kami lari sejauh 50 meter dari rumah. Orang sekampung sudah panik semua berlarian menyelamatkan diri dari hantaman banjir yang sangat besar," sebut Topan.

Dua jam kemudian banjir mulai surut. Ia bersama keluarga dan warga lainnya pergi ke tempat pengungsian.

Topan menyebut, bangunan rumahnya masih selamat dari terjangan banjir. Hanya pintu rumahnya yang jebol. Namun, seluruh peralatan rumah tangga habis terkena banjir.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com