Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Melihat Kondisi Bukik Batabuah dan Sungai Pua Sumbar Usai Disapu Banjir Bandang

Kompas.com - 16/05/2024, 17:10 WIB
Rahmadhani,
David Oliver Purba

Tim Redaksi

AGAM, KOMPAS.com - Nagari Bukik Batabuah di Kecamatan Canduang, merupakan salah satu nagari yang terdampak banjir bandang lahar di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Sabtu (11/5/2024).

Nagari yang berada di kaki Gunung Marapi ini merupakan jalur aliran lahar gunung yang sudah erupsi sejak Februari lalu.

Daerah ini terkenal dengan konveksinya yang menjadi salah satu pusat perekonomian di Agam.

Perjalanan menuju Bukik Batabuah dari Kota Bukittinggi tidaklah terlalu sulit dengan jarak tempuh sekitar satu jam.

Setelah melewati Kota Bukittinggi menuju Payakumbuh akan ditemukan Simpang Tanjung Alam.

Baca juga: Prabowo Terbang ke Sumbar dari Qatar, Cek Korban Banjir dan Beri Bantuan

 

Dari sana, belok kanan dan terus lurus ke dalam. Tidak lama, kita akan menemukan posko pengungsian pertama di mushala.

Baca juga: UPDATE Banjir Sumbar: Korban Meninggal Capai 67 Orang, 20 Warga Masih Hilang

 

Kita juga akan menemukan lokasi paling terdampak yaitu di kawasan Simpang Bukik.

Jalan yang dilalui untuk sampai ke lokasi ini tidak banyak yang rusak dan merupakan jalan aspal dan semen. Sementara, untuk material banjir bandang juga sudah dibersihkan.

"Hanya saja karena lebar jalan kecil dan banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan, lalu lintas kendaraan hanya satu arah," kata Rahmi, warga Bukik Batabuah di lokasi, Rabu (15/5/2024).


Daerah yang berada di aliran sungai yang berhulu ke Gunung Marapi ini sebagian besar sudah rata dengan tanah.

Dari pantauan, tampak pertokoan dan warung makan rusak berat. Banjir bandang juga menghanyutkan rumah, kendaraan roda dua dan empat.

Sejumlah batu dan kayu berukuran sebesar rumah juga cukup banyak di lokasi. Lumpur juga mengenangi rumah warga yang tidak terseret banjir.

Ada 16 rumah dinyatakan hilang di Nagari Bukik Batabuah, 19 rumah dalam keadaan rusak berat, dan 30 rumah rusak sedang.

Kondisi serupa juga terjadi di Nagarai Sungai Pua, Kecamatan Sungai Pua, Agam.

Vera, salah satu warga Sungai Pua, masih menanti keberadaan anggota keluarganya, Am, yang saat ini belum ditemukan.

Rumah Am yang berada tepat di aliran banjir bandang disapu oleh air. Yang tersisa hanya kasur dan perabotan rumah tangga.

"Rumah Mak Am ini bangunan semi permanen. Jadi begitu banjir datang, tidak bisa menyelamatkan diri. Begitu juga istri dan dua anaknya," kata Vera saat ditemui di lokasi.

Sementara Vera, rumahnya tidak jauh dari rumah Mak Am, tapi bukan berada di jalur aliran banjir.

"Rumah saya hanya dipenuhi lumpur, barang-barang sudah dijemur dan saat ini sedang dibersihkan," ucapnya.

Vera mengatakan, saat itu kondisi hujan deras. Dia mendengar suara gemuruh seperti gempa dan ketika dilihat, air sudah berubah warna menjadi hitam dan banyak bebatuan dan kayu besar.

Vera merasa beruntung karena dia berhasil selamat dengan kondisi ibunya yang sedang struk.

"Saat hujan deras, hanya saya dan ibu di rumah. Saya hanya bisa pasrah. Di saat yang lain berlarian menyelamatkan diri, saya hanya bisa duduk termenung karena tidak mungkin lari. Ibu saya bagaimana," kata Vera.

Nasib baik bagi Vera, suaminya datang dan membawa ibunya ke rumah tetangga.

Vera yang kembali ke rumah menyelamatkan surat berharga sempat terseret banjir, tapi berhasil selamat.

"Saya harap tidak ada lagi banjir susulan," harap Vera.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bukit Batas di Kalimantan Selatan: Daya Tarik, Biaya, dan Cara Menuju

Bukit Batas di Kalimantan Selatan: Daya Tarik, Biaya, dan Cara Menuju

Regional
Kapal Bermuatan 70 Ton Kayu Ilegal Ditangkap di Perairan Kepulauan Meranti Riau

Kapal Bermuatan 70 Ton Kayu Ilegal Ditangkap di Perairan Kepulauan Meranti Riau

Regional
Gecok Kambing, Kuliner Khas Semarang Berbumbu Rempah

Gecok Kambing, Kuliner Khas Semarang Berbumbu Rempah

Regional
1 Prajurit TNI Gugur Ditembak KKB di Puncak

1 Prajurit TNI Gugur Ditembak KKB di Puncak

Regional
Gempa M 5,7 Guncang Pulau Doi

Gempa M 5,7 Guncang Pulau Doi

Regional
Tersangka Pengeroyok Bos Rental di Sukolilo Pati Bertambah Jadi 10 Orang

Tersangka Pengeroyok Bos Rental di Sukolilo Pati Bertambah Jadi 10 Orang

Regional
3 Kecamatan di Pati Jadi Target Operasi Kendaraan Bodong, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

3 Kecamatan di Pati Jadi Target Operasi Kendaraan Bodong, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

Regional
Jelang Idul Adha, Sejumlah Hewan Kurban di Jateng Terjangkit Diare dan Cacar

Jelang Idul Adha, Sejumlah Hewan Kurban di Jateng Terjangkit Diare dan Cacar

Regional
Pengakuan Karyawan di Batam Curi 143 Ponsel dari Perusahaan: Punya Utang di Pinjol Rp 100 Juta

Pengakuan Karyawan di Batam Curi 143 Ponsel dari Perusahaan: Punya Utang di Pinjol Rp 100 Juta

Regional
Wanita Lompat ke Sumur karena Hendak Dianiaya Mantan Suami Alami Luka-luka

Wanita Lompat ke Sumur karena Hendak Dianiaya Mantan Suami Alami Luka-luka

Regional
Dua Kali Disuntik, Bayi di Sukabumi Meninggal Usai Imunisasi Empat Varian Vaksin Sekaligus

Dua Kali Disuntik, Bayi di Sukabumi Meninggal Usai Imunisasi Empat Varian Vaksin Sekaligus

Regional
Densus Antiteror Sita Buku Catatan dan Serbuk dari Kontrakan Penjual Bubur di Karawang

Densus Antiteror Sita Buku Catatan dan Serbuk dari Kontrakan Penjual Bubur di Karawang

Regional
Temuan 24 Pohon Ganja di Ladang Kopi Simalungun, Pemilik Melarikan Diri

Temuan 24 Pohon Ganja di Ladang Kopi Simalungun, Pemilik Melarikan Diri

Regional
Seminggu Dirawat, 3 Korban Pengeroyokan di Sukolilo Pati Akhirnya Pulang

Seminggu Dirawat, 3 Korban Pengeroyokan di Sukolilo Pati Akhirnya Pulang

Regional
Kontrakan Penjual Bubur di Karawang Digeledah Densus, Ketua RT Mengaku Tak Kenal

Kontrakan Penjual Bubur di Karawang Digeledah Densus, Ketua RT Mengaku Tak Kenal

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com