Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Save Dagun, Warga Manggarai Barat 30 Tahun Menyusun Kamus Bahasa

Kompas.com - 16/05/2024, 09:21 WIB
Markus Makur,
Farid Assifa

Tim Redaksi

BORONG, KOMPAS.com - Save Dagun (65) asal Kampung Lembah Wetik, Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sudah 30 tahun menyusun kamus bahasa demi mengharumkan bangsa Indonesia dikancah global.

Ia juga sudah menyelesaikan penulisan serta menerbitkan buku Ensiklopedia Bahasa Manggarai.

"Saya Mohon maaf bagi teman-teman yang kurang tertarik dunia tulis-menuls buku dan kamus. Tulisan ini untuk berbagi dengan teman-teman yang senasib sebagai penulis,” ungkapnya diawal percakapan dengan Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Kamis (16/5/2024).

Baca juga: Perjuangan KH Hasyim Asyari, Pahlawan Nasional yang Hilang Dalam Kamus Sejarah Indonesia

Dagun menceriterakan, suatu ketika saya melihat kamus bahasa Inggris Webster edisi lengkap. Ia tertegun melihat karya yang mulai dirilis Abad 19 silam itu. Kamus ini tebal kurang lebih 2500-an dengan ukuran huruf kira-kira 8 poin, kecil sekali.

“Saya berpikir betapa hebatnya orang Eropa yang menyusun kamus ini. Tradisi tulis-menulis sudah menjadi kultur sejak berabad- abad lampau,” jelasnya.

Sejak melihat kamus itu, Dagun menuturkan, ia terus berpikir dan berpikir. Muncullah mimpi besar bagaimana bisa membuat sesuatu seperti kamus Webster itu.

Putra kelima dari 10 bersaudara buah hati dari pasangan Martinus Matuk (almarhum) dan Maria Angul (almarhumah) menjelaskan, sekitar tahun 1987, kakaknya, Dr Lorens Bagus (almarhum) ahli filsafat, membuat tim kerja untuk menerjemahkan berbagai istilah filsafat, termasuk kamus filsafat. Lalu terbitlah karya ikonik "Kamus Filsafat" karya Dr Lorens Bagus.

“Inilah pengalaman awal saya mulai mengembara di dunia tulis-menulis buku dan kamus. Sejak itu, saya mulai melacak berbagai kamus di buku loak pasar Senen. Nyaris semua sudut Pasar Senen dan Kwitang bolak-balik mencari kamus bekas,” ceritanya.

Dagun mengatakan, sebelum mulai menyusun kamus, ia membeli sejumlah perangkat komputer. Kala itu, komputernya layar hijau atau biasa disebut layar jangkrik, dan untuk data pakai disket.

Kebetulan, ketika mulai susun kamus, ia bekerja sebagai penerjemah di desk luar negeri Harian Jayakarta. Kerja utamanya adalah menerjemahkan berita dari Kantor Berita Reuter dan AP.

"Betapa tersiksa kerja ini karena Inggris tidak begitu paham, nyaris setiap saat buka kamus. Hanya dengan gaji kecil sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup, saya bertahan. Karyawan lain diangkat pegawai tetap setelah satu bulan kerja, sementara saya, setelah 3 tahun baru diangkat," katanya.

“Saya tidak begitu peduli cara diskriminasi ini dan tidak menuntut banyak di tempat kerja. Bagi saya yang penting ada leluasa menyusun kamus dengan waktu yang panjang. Kerja di Harian Jayakarta mulai perang Teluk 1991 hingga bubar reformasi 1998,” cerita suami dari Nana Gumilang Kencana Galih ini.

Dagun menceritakan, tahun 1997 Kamus Besar Ilmu Pengetahuan edisi pertama terbit. Ia terus menyusun kamus-kamus lain. Kamus Besar Tokoh Indonesia dan Dunia akhirnya terbit, menyusul kamus besar lain.

Dari 7 karya Kamus, yang rumit penyusunannya adalah Kamus Acuan Bahasa Indonesia. Kamus ini berbeda dengan karya serupa milik Poerwardaminta dan Anton Mulyono cs. Jika dalam kamus Bahasa Indonesia terdahulu, misalnya entri kata kerja dengan imbuhan dalam satu tema "Kerja", sementara dalam "Kamus Acuan Utama Bahasa" entri kerja ditulis abjad K, kemudian "Mengerjakan" ditulis abjad M dan "Dikerjakan" ditulis abjad D.

Pola ini memudahkan orang asing melacak entri-entri. Muatan Kamus Acuan Utama Bahasa Indonesia jauh lebih banyak entri dibanding Kamus-kamus bahasa sebelumnya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Sumur Minyak ilegal di Aceh Timur Meledak

Sumur Minyak ilegal di Aceh Timur Meledak

Regional
Suami Bunuh Istri dengan Sikat Gigi, Terancam Hukuman Mati

Suami Bunuh Istri dengan Sikat Gigi, Terancam Hukuman Mati

Regional
Residivis di Sukabumi Mencuri Motor, Cuma Butuh 2-3 Menit

Residivis di Sukabumi Mencuri Motor, Cuma Butuh 2-3 Menit

Regional
Alasan Wabup Wonogiri Daftar Penjaringan Cabup Pilkada 2024 di PDI-P

Alasan Wabup Wonogiri Daftar Penjaringan Cabup Pilkada 2024 di PDI-P

Regional
Soal Dugaan Pungli Rekrutmen Karyawan Satpol PP, Bupati Kebumen: Ditaksir Mencapai Rp 70 Juta

Soal Dugaan Pungli Rekrutmen Karyawan Satpol PP, Bupati Kebumen: Ditaksir Mencapai Rp 70 Juta

Regional
Menko Polhukam Pastikan Upaya Pembebasan Pilot Susi Air Terus Berlanjut

Menko Polhukam Pastikan Upaya Pembebasan Pilot Susi Air Terus Berlanjut

Regional
Yance Rumbino, Pencipta Lagu “Tanah Papua” Tutup Usia

Yance Rumbino, Pencipta Lagu “Tanah Papua” Tutup Usia

Regional
Kisah Pilu Santriwati di Inhil Dianiaya Pengemudi Kapal karena Tolak Diajak Berhubungan Badan

Kisah Pilu Santriwati di Inhil Dianiaya Pengemudi Kapal karena Tolak Diajak Berhubungan Badan

Regional
Iriana Beli Anting dan Bros Usai Panen Mutiara di Lombok

Iriana Beli Anting dan Bros Usai Panen Mutiara di Lombok

Regional
Mahasiswanya Diduga Plagiat Skripsi, UM Palembang Bentuk Tim Investigasi

Mahasiswanya Diduga Plagiat Skripsi, UM Palembang Bentuk Tim Investigasi

Regional
Sisa Anggaran Pilkada Bangka Belitung Bakal Dibangun Rumah Warga Miskin

Sisa Anggaran Pilkada Bangka Belitung Bakal Dibangun Rumah Warga Miskin

Regional
Iriana Jokowi Lepas 300 Ekor Tukik di Pantai Elak-elak Lombok

Iriana Jokowi Lepas 300 Ekor Tukik di Pantai Elak-elak Lombok

Regional
Tolak RUU Penyiaran, Jurnalis di Semarang Ramai-ramai 'Gembok' Kantor DPRD Jawa Tengah dan Taburkan Mawar

Tolak RUU Penyiaran, Jurnalis di Semarang Ramai-ramai 'Gembok' Kantor DPRD Jawa Tengah dan Taburkan Mawar

Regional
Gunung Lewotobi Laki-laki Meletus Lagi Malam Ini, Status Waspada

Gunung Lewotobi Laki-laki Meletus Lagi Malam Ini, Status Waspada

Regional
Semua Rencana Telah Dijalankan, Pemkab Blora Optimistis Prevalensi Stunting Jadi 14 Persen pada 2024

Semua Rencana Telah Dijalankan, Pemkab Blora Optimistis Prevalensi Stunting Jadi 14 Persen pada 2024

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com