Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkenalan dengan Maya Dewi, Sosok Kartini Masa Kini dari Kota Semarang

Kompas.com - 21/04/2024, 17:54 WIB
Sabrina Mutiara Fitri,
Aloysius Gonsaga AE

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sejak 60 tahun silam melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 108, tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Jasa tokoh perempuan asal Jepara itu cukup mengharumkan nama baik Indonesia lantaran berhasil memperjuangkan emansipasi perempuan di Tanah Air.

Tentunya, semangat Kartini tak pernah padam menginspirasi para perempuan untuk terus berjuang sesuai kapasitas masing-masing.

Di Kota Semarang, ada salah satu sosok Kartini masa kini yang patut diapresiasi. Namanya Maya Dewi Kusuma Dewi.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, Ratusan Perempuan Berkebaya Ikut Tur Vespa di Kediri

Ketertarikan Maya terhadap kebaya membuat dia bersemangat memperkenalkan dan mempertahankan kebaya sebagai budaya wanita.

Hingga tahun 2016, Maya berhasil mendirikan Komunitas Diajeng Semarang.

"Dari kecil saya belajar nasionalisme, nah waktu Pemilu 2014 kan sangat ramai. Tentunya kita butuh tindakan langsung untuk menyatukan."

"Akhirnya, karena yang paling dekat dengan saya adalah perempuan, saya pikir budaya kebaya semua agama suku bangsa, usia, bisa ambil bagian dalam pelestarian itu," ucap Maya kepada Kompas.com, Minggu (21/4/2024).

Menurut Maya, dulunya kebaya hanya dipakai untuk acara-acara tertentu, seperti pernikahan.

Dengan demikian, Komunitas Diajeng Semarang lahir ingin memberi semangat baru kepada perempuan agar lebih mencintai dan melestarikan budaya adat yaitu dengan berjarik ataupun berkebaya di acara nonformal lainnya.

"Kebaya itu satu-satunya budaya adat yang secara historis dipakai oleh banyak perempuan dari berbagai daerah. Tidak hanya di Jawa, Riau, Melayu juga ada," tutur dia.

Baca juga: Hari Kartini, Tempat Sewa Baju Adat di Semarang Diserbu Warga, Ada yang Tembus 1.000 Orderan

Lebih jelas Maya mengatakan, kini kebaya sudah memiliki perkembangan yang pesat. Mulai dari motif, jenis, hingga penggunaan pada kegiatan sehari-hari.

Kendati demikian, perempuan di Indonesia harus berbangga dan terus melestarikan budaya adat khas Indonesia.

"Kalau kita lihat dari sejarah, muslimah Nahdatul Ulama (NU) sudah mengenakan kebaya sejak 1955. Ibu negara dari Fatmawati hingga Iriana Jokowi juga konsisten mengenakan kebaya," ucap Maya.

Lebih jelas Maya mengatakan, tentunya perjuangan perempuan di Indonesia tak lepas dari nilai ajaran Kartini yang berani menampilkan sesuatu yang antimainstream.

Sehingga, dirinya berharap anak-anak muda khususnya Generasi Z dapat meneladani sifat Kartini mulai kini dan nanti.

“Hal itulah yang bisa generasi Z pelajari dari Kartini, berani mendobrak hal yang tidak menguntungkan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk perempuan-perempuan lain," pungkas dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com