Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anggota Timses di NTT Jadi Buron Usai Diduga Terlibat Politik Uang

Kompas.com - 20/04/2024, 18:00 WIB
Sigiranus Marutho Bere,
Pythag Kurniati

Tim Redaksi

KUPANG, KOMPAS.com - Johi Jahya Blegur alias Jois Blegur, anggota tim sukses salah satu calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi buronan polisi.

Aparat Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Alor telah memasukkan namanya dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Baca juga: Lakukan Politik Uang, Ketua RT di Nunukan Divonis 2 Tahun Penjara dan Denda Rp 20 Juta

"Dia (Johi) masuk DPO atas dugaan tindak pidana money politic (politik uang) pada masa tenang, dengan Nomor DPO/02/IV/RES.1.24./2024/Reskrim, tanggal 17 April 2024," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah NTT Komisaris Besar Polisi Ariasandy, kepada Kompas.com, Sabtu (20/4/2024).

Ariasandy menyebutkan, Johi jadi buronan karena dua kali tidak menanggapi surat panggilan yang dikirim penyidik Gakumdu Polres Alor. Polisi menetapkannya sebagai tersangka pada 22 Maret 2024.

Baca juga: Jalani Sidang Kasus Politik Uang, Caleg Demokrat Ungkap Bawa Rp 200 Juta, tapi untuk Honor Saksi

Dia menuturkan, kasus politik uang itu terjadi di halaman rumah Johi di Desa Mauta, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, pada Selasa, 13 Februari 2024 lalu.

Saat itu, Johi membagikan sejumlah uang bersamaan dengan selebaran kepada beberapa warga Desa Mauta.

Saat memberikan uang, Johi meminta warga mencoblos calon anggota DPRD Dapil 4 Kabupaten Alor, bernama Gunawan Bala dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Aksinya diketahui oleh anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Alor. Kasus itu lalu dilaporkan ke Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakumdu) Alor.

Kasus itu lalu diproses hukum berdasarkan laporan polisi nomor : LP/B/101/III/2024/SPKT/Polres Alor/Polda NTT, tanggal 22 Maret 2024.

Penyidik yang menangani kasus ini tetap memrosesnya dengan memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti. Surat penggilan telah dikirim sebanyak dua kali, tapi Johi tak pernah menghadap dan tak diketahui keberadaannya.

Ariasandy berharap, Johi bisa kooperatif dengan menyerahkan diri ke polisi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com