Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Disiksa Majikan di Malaysia, Meriance Buruh Migran Asal NTT Berjanji Akan Mengejar Keadilan Sampai Mati

Kompas.com - 04/03/2023, 11:11 WIB
Rachmawati

Editor

 

Menanti waktu untuk minta tolong

Satu hal yang paling dia ingat adalah hari di penghujung tahun 2014. Hari ketika ia melihat dirinya sendiri di kaca.

"Hari itu saya lihat muka saya di kaca kamar mandi, mulut saya sudah terbelah, saya tidak tahan lagi. Saya marah, bukan dengan majikan. Saya marah dengan diri sendiri, saya harus berani keluar dari itu tempat dan saya harus cari cara dengan cara tulis surat."

Ia mendengar tetangga yang lewat di depan unit rumah susun berbicara dengan Bahasa Melayu.

Secarik kertas dan bolpoin diambilnya dari salah satu laci, disimpan di sakunya, sambil menunggu saat yang tepat, setelah selesai memberi makan sang nenek.

"Saya tulis surat itu, saya bilang tolong saya, saya disiksa majikan, saya mandi darah setiap hari, tolong saya. Itu saja yang saya tulis."

Baca juga: Jenazah Balita Anak PMI Asal NTT Dipulangkan dari Malaysia

Ia kemudian melempar kertas keluar pintu depan melalui jeruji besi ke arah seorang ibu yang tengah berbicara Bahasa Melayu dengan anaknya.

Ibu itu kemudian membawa kertas itu ke tetangga lain di blok yang sama, seorang polisi. Polisi inilah yang kemudian memanggil bantuan.

"Dia tidak akan bertahan, dia pasti meninggal, bila terlambat ditolong," kata polisi yang sudah pensiun dan tidak mau disebutkan namanya itu.

Malam itu - 20 Desember 2014 - polisi menggedor pintu rumah Serene, tak lama setelah ia pulang kerja.

Serene sempat terkejut, setelah mengintip ada polisi datang.

Meri mengatakan dia diperintahkan oleh majikannya itu untuk bersembunyi di dapur dan berkata kepada polisi bahwa ia luka-luka karena jatuh di kamar mandi.

Baca juga: PMI Asal NTT Meninggal di Malaysia Saat Pemulangan ke Indonesia karena Sakit

Jantungnya berdetak keras selama menunggu di dapur. Sampai akhirnya polisi bertanya langsung.

Badannya saat itu panas tinggi dan menggigil karena luka-luka parahnya.

"Saya mau jatuh rasanya. Saya duduk dan polisi bilang, kamu jangan takut karena kami sudah ada di sini."

"Saat itu saya merasa kembali kuat. Saya merasa sudah punya napas. Polisi panggil saya mendekat ke pintu depan…dan baru saya cerita yang sebenarnya."

Ia mengatakan, "Tuhan menyelamatkan jiwanya".

Malam itulah, ia keluar dari tempat yang ia sebut neraka, untuk pertama kalinya.

Baca juga: Meninggal karena Covid-19, 2 Pekerja Migran Asal NTT Dimakamkan di Malaysia

"Tuhan selamatkan saya"

Sampai mati saya akan kejar keadilan, kata Meriance.BBC INDONESIA Sampai mati saya akan kejar keadilan, kata Meriance.
"Saat itu, saya punya muka bengkak, warna hitam muka saya dan telinga saya lebar. Ada bagian yang kering. Muka saya bukan manusia, saya macam mayat yang berdiri di situ."

"Di kantor polisi orang takut lihat saya, ini manusia atau mayat? Mereka tanya, siapa yang bikin orang ini begini?"

Meriance dibawa ke rumah sakit, termasuk menjalani operasi kedua telinganya. Salah satu telinganya tak bisa diselamatkan bentuknya.

Petugas konsuler KBRI, Galuh Indriyati pada Desember 2014, mendampingi duta besar ketika itu, membesuk Meriance di rumah sakit Ampang.

"Pak Duta Besar ketika itu berbicara lama dengan Meriance," kata Galuh yang melihatnya dari balik pintu kamar rumah sakit dengan "kondisi diperban di bagian telinga dan mulut atas."

Baca juga: Sudah 18 Hari, Jenazah PMI Asal NTT yang Bunuh Diri di Malaysia Belum Dimakamkan, Ini Penyebabnya

Galuh mengatakan pihak KBRI mendapatkan laporan dari Kepolisian Ampang bahwa mereka menyelamatkan seorang pekerja Indonesia dari penyiksaan majikan.

Serene ditahan dengan dakwaan; termasuk pasal 326, tindakan menyebabkan luka parah dan 307, percobaan pembunuhan, serta perdagangan manusia dan pelanggaran imigrasi.

Pada awal persidangan pada Januari 2015, Serene mengaku tidak bersalah.

Meriance sempat memberikan kesaksian pada awal 2015, sebelum akhirnya kembali ke NTT pada pertengahan tahun itu.

Ia berharap akan mendapatkan keadilan.

Salah seorang polisi yang menemui Meriance setelah ia kembali ke NTT pada 2015, adalah Rudy Soik. Saat itu, ia bertugas sebagai anggota Satgas Anti-Trafficking Kepolisian Daerah NTT.

Baca juga: Usai Bunuh Istri, PMI Asal NTT di Malaysia Bunuh Diri

Ia mengatakan terkejut dan sedih melihat kondisi Meri yang masih trauma.

"Dia cerita bentuk penyiksaan, sampai dia nangis. Saya sering berhadapan dengan korban, kami cepat terharu mendengar cerita seperti ini, giginya dicabut pakai tang, telinga ditusuk.. Kami merasa kasus ini harus diungkap," kata Rudy.

Tim satgas mengejar para perekrut dan pada 2018, Tedy Moa dan Piter Boki dijatuhi hukuman penjara masing-masing lima dan tiga tahun.

Namun di Malaysia, pada Oktober 2017, hakim menetapkan putusan, DNAA -"discharge not amounting to an acquittal" atau dilepaskan tanpa dibebaskan terhadap Serene.

Putusan itu mengejutkan kata Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono.

"Bagaimana kasus-kasus penyiksaan kejam yang dialami oleh Meriance, yang sampai kuping dipukul, gigi dicabut, lidah dipotong, majikan bebas saja, di mana keadilan?" kata Hermono berang.

Baca juga: Sudah Setahun Anaknya Hilang di Luar Negeri, Pria Asal NTT Bersurat ke Paus dan Presiden Mauritius

KBRI Malaysia mengaku telah melayangkan surat dua kali ke kejaksaan, pada September dan akhir Oktober 2022, untuk menanyakan kelanjutan kasus ini.

Dubes Hermono menuding Malaysia tak serius dalam menangani kasus-kasus dugaan penyiksaan yang menimpa para pekerja rumah tangga Indonesia.

Sehari-hari saat ini, Meriance lebih banyak mengurus anak-anaknya dan menenun, kegiatan yang menurutnya membantunya tenang.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

PKS Rekomendasikan Wali Kota Depok dan Haru Suandharu Maju Pilkada Jabar

PKS Rekomendasikan Wali Kota Depok dan Haru Suandharu Maju Pilkada Jabar

Regional
Kriteria Sosok Ideal Bupati di Banyumas Raya Menurut Akademisi Unsoed

Kriteria Sosok Ideal Bupati di Banyumas Raya Menurut Akademisi Unsoed

Regional
Jelang Idul Adha, Harga Kebutuhan Pokok dan Sayuran di Kebumen Naik

Jelang Idul Adha, Harga Kebutuhan Pokok dan Sayuran di Kebumen Naik

Regional
9 Rumah Terbakar di Bantaran Rel Solo, BI Ganti Sebagian Uang yang Hangus

9 Rumah Terbakar di Bantaran Rel Solo, BI Ganti Sebagian Uang yang Hangus

Regional
Lansia Bersepeda Luka Berat Ditabrak Ibu Hamil Bawa Motor

Lansia Bersepeda Luka Berat Ditabrak Ibu Hamil Bawa Motor

Regional
Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Selokan Sukoharjo, Tak Ada Tanda Penganiayaan

Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Selokan Sukoharjo, Tak Ada Tanda Penganiayaan

Regional
Korban Banjir Lahar di Sumbar Butuh Genset hingga Pompa Air

Korban Banjir Lahar di Sumbar Butuh Genset hingga Pompa Air

Regional
Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Meletus, Kolom Abu Tebal Mengarah ke Timur Laut

Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Meletus, Kolom Abu Tebal Mengarah ke Timur Laut

Regional
Lagi, Calon Haji Embarkasi Solo Meninggal, Total 2 Orang

Lagi, Calon Haji Embarkasi Solo Meninggal, Total 2 Orang

Regional
Seorang Guru di Sikka Tewas Tertabrak Pikap, Korban Terseret 9 Meter

Seorang Guru di Sikka Tewas Tertabrak Pikap, Korban Terseret 9 Meter

Regional
Berprestasi di Bidang Matematika, Siswi SD Asal Banyuwangi Ini Bertemu Elon Musk di Bali

Berprestasi di Bidang Matematika, Siswi SD Asal Banyuwangi Ini Bertemu Elon Musk di Bali

Regional
Warisan Budaya Sriwijaya Berjaya: Dekranasda Sumsel Juara Umum Dekranas 2024

Warisan Budaya Sriwijaya Berjaya: Dekranasda Sumsel Juara Umum Dekranas 2024

Regional
Pj Gubernur Al Muktabar Terima Aspirasi Sejumlah Tokoh Banten

Pj Gubernur Al Muktabar Terima Aspirasi Sejumlah Tokoh Banten

Regional
Ribuan Mahasiswa dan Warga Doa Bersama untuk Korban Banjir Lahar di Sumbar

Ribuan Mahasiswa dan Warga Doa Bersama untuk Korban Banjir Lahar di Sumbar

Regional
Hari Kebangkitan Nasional, Ketum PP Muhammadiyah Berharap Pemimpin Baru Wujudkan Kedaulatan Indonesia

Hari Kebangkitan Nasional, Ketum PP Muhammadiyah Berharap Pemimpin Baru Wujudkan Kedaulatan Indonesia

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com