Asal-usul dan Sejarah Tanjung Pinang, Pohon Pinang Petunjuk Pulang

Kompas.com - 25/06/2022, 21:44 WIB

KOMPAS.com - Tanjung Pinang adalah ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

Letak Tanjung Pinang tepatnya berada di Pulau Bintan.

Sejak menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002, Tanjung Pinang menjadi tujuan kedatangan penduduk dari daerah sekitar.

Letak Tanjung Pinang pada posisi silang perdagangan dan pelayaran dunia antara timur dan barat, yaitu antara Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan.

Tanjung Pinang berdekatan dengan Kota Batam sebagai kawasan perdagang bebas dan Singapura sebagai negara pusat perdagangan dunia.

Berikut ini asal-usul dan sejarah Tanjung Pinang.

Asal-usul dan Sejarah Tanjung Pinang

Asal-usul Tanjung Pinang

Ada beragam versi yang menjelaskan tentang asal-usul Tanjung Pinang.

Tanjung Pinang berasal dari kata tanjung yang banyak ditumbuhi pohon pinang, dalam bahasa latin Areca Catechu.

Baca juga: Itinerary 4 Hari 3 Malam di Tanjung Pinang

Konon pohon pinang ini sengaja di tanam di tepian semenanjung oleh sepasang suami istri, dengan maksud sebagai penanda tempat untuk memudahkan anaknya yang melaut untuk pulang.

Pohon pinang dipilih karena pohonnya dapat tumbuh hingga menjulang tinggi dan memiliki daya tumbuh yang kuat jika dibandingkan pohon lain.

Versi lain dari asal nama Tanjung Pinang, diambil dari posisi posisinya yang menjorok ke laut dan banyak tumbuh sejenis pohon pinang.

Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan RiauShutterstock/Heru Sukma Cahyanto Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau

Pohon yang berada di Tanjung tersebut sebagai petunjuk bagi pelayar bahwa akan masuk ke Bintan Tanjung Pinang. Dimana lokasi tersebut merupakan pintu masuk ke Sungai Bintan, tempat kerajaan Banten yang berpusat di bukit.

Ada juga yang mengatakan bahwa Tanjung Pinang berasal dari nama Ai Nang (kemari, Cina) yang dianggap sebagai pusat pasar dagang yang ramai di sepanjang pesisir.

Sejarah Tanjung Pinang

Tanjung Pinang telah dikenal lama karena posisinya strategis dan sebagai pusat kebudayaan Melayu.

Baca juga: Museum Raja Ali Haji, Menelusuri Batam Sejak Kesultanan Riau Lingga

Keberadaan Tanjung Pinang makin dikenal pada masa Kerajaan Johor pada masa Sultan Abdul Jalil Syah.

Ia memerintahkan Laksamana Tun Abdul Jamil untuk membuka bandar perdagangan yang terletak di Pulau Bintan, tepatnya di Sungai Carang, Hulu Sungai Riau. Bandar itu dikenal dengan Bandar Riau.

Peranan Tanjung Pinang sangat penting sebagai kawasan penyangga serta pintu masuk Bandar Riau.

Pemerintah pada saat itu mampu menjadikan Bandar Riau sebagai bandar besar menyaingi bandar Malaka yang dikuasai Portugis dan akhirnya dikuasai Belanda.

Bandar Riau juga dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau.

Masa Kolonial

Keberadaan Tanjung Pinang makin diperhitungkan pada peristiwa Perang Riau pada tahun 1782-1784, antara Kerajaan Riau dan Belanda.

Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau Shutterstock/Hanafi Latif Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau

Pada masa itu Kerajaan Riau pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah.

Baca juga: Menengok Geliat Kampung Pesisir Tanjung Pinang di Pelantar

Perang Riau selama dua tahun dimenangkan pihak Kerajaan Melayu Riau yang ditandai dengan hancurnya kapal komado Belanda Malaka's Wal Faren. Akibatnya, Belanda terdesak muncur dari perairan Riau.

Selang beberapa bulan, Raja Haji menyerang Malaka sebagai basis pertahanan Belanda di Selat Malaka. Namun dalam peperangan tersebut, pasukan Riau mengalami kekalahan dan Raja Haji sebagai komando perang wafat.

Kemunduran Kerajaan Melayu Riau makin tampak dengan adanya Traktat London 1824, yaitu perjanjian pembagian wilayah kekuasaan di perairan Selat Malaka.

Dalam perjanjian Traktat London, wilayah Riau-Lingga berada di bawah kekuasaan Belanda, sedangkan Johor-Penang dan semenanjung dikuasai Inggris.

Peristiwa ini memisahkan keutuhan Riau-Johor-Pahang-Lingga, kemudian kerajaan ini dikenal dengan sebutan Kerajaan Riau-Lingga. Singapura yang saat itu berada di bawah kerajaan Riau ditukar ganti dengan Bengkulu yang saat itu berada di bawah kerajaan Inggris.

Setelah dikuasai Belanda, Tanjung Pinang menjadi pangkalan militer. Statusnya menjadi pusat pemerintahan dari Residence Riouw en Onderhoriheden.

Sejak Belanda menguasai Kerajaan Riau dan ikut campur tangan, Kerajaan Riau mengalami kemunduran dan puncaknya pada Perjanjian Belanda-Riau 1911.

Baca juga: Tanjung Pinang dan Pangkal Pinang yang Kerap Tertukar

Akibat perjanjian itu, Belanda menguasai seluruh wilayah Riau. Sementara, Sultan Riau hanya sebagai peminjam termasuk tambang timah Pulau Singkep. Hal ini yang ditentang Sultan Riau.

Hal itu berakhir pada pemecatan Sultan Riau oleh Belanda pada tahun 1912.

Sultan tidak mau menandatangani surat pemberhentian tersebut dan memilih pindah ke Singapura.

Sejak saat itu, Kesultanan Riau-Lingga berakhir dan disertai dihapusnya wilayah Riau Lingga dari peta Keresidenan Belanda.

Sementara, Tanjung Pinang tetap menjadi pusat Keresidenan Belada.

Masa Republik Indonesia

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Kepulauan Riau termasuk Tanjung Pinang masih diduduki oleh Belanda.

Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau Shutterstock/PLOO Galary Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau

Beberapa kali Tanjung Pinang berubah status. Berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1957 dibentuk Provinsi Riau dengan ibu kota Tanjung Pinang.

Pada tahun 1960, ibu kota Provinsi Riau pindah ke Pekanbaru berdasarkan Undang-undang Nomor 61 Tahun 1958.

Baca juga: Festival di Pulau Kecil Tanjung Pinang

Pada Peraturan Pemerintah No 31 Tahun 1983, Tanjung Pinang ditetapkan sebagai Kota Administrasi, setelah itu menjadi Kabupaten Kepulauan Riau hingga tahun 2000.

Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2001 statusnya naik menjadi Kota Tanjung Pinang. Pada masa ini, pusat pemerintahan dipindahkan ke Senggarang (bagian utara kota).

Keputusan tersebut dibuat untuk mengimbangi kesenjangan pembangunan dan kepadatan penduduk yang selama ini terkonsentrasi di kota lama (bagian barat kota).

Kemudian berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 2002 tentang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kepualuan Riau.

Sumber:

Citra Kota Tanjungpinang dalam Arsip, Arsip Nasional Republik Indonesia dan batam.tribunnews.com

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Capaian Vaksinasi Booster Kedua Covid-19 untuk Nakes di Solo Capai 67,81 Persen

Capaian Vaksinasi Booster Kedua Covid-19 untuk Nakes di Solo Capai 67,81 Persen

Regional
Setelah Buron 4 Tahun, Pelaku Pencabulan Keponakan Akhirnya Ditangkap di Tangerang

Setelah Buron 4 Tahun, Pelaku Pencabulan Keponakan Akhirnya Ditangkap di Tangerang

Regional
191 Hektare Cagar Alam Wae Wuul Kawasan Perlindungan Komodo Terbakar

191 Hektare Cagar Alam Wae Wuul Kawasan Perlindungan Komodo Terbakar

Regional
Ayah Brigadir J: Dia kan Belum Menikah, Tidak Ada Tanggungan, Wajar Tabungannya Rp 200 Juta

Ayah Brigadir J: Dia kan Belum Menikah, Tidak Ada Tanggungan, Wajar Tabungannya Rp 200 Juta

Regional
Polda Jateng Ungkap Kondisi Jalan Saat Ayah Emil Dardak Meninggal di Tol Batang-Pemalang

Polda Jateng Ungkap Kondisi Jalan Saat Ayah Emil Dardak Meninggal di Tol Batang-Pemalang

Regional
Tata Cara dan Lokasi Penukaran Uang Kertas Baru di Bangka Belitung

Tata Cara dan Lokasi Penukaran Uang Kertas Baru di Bangka Belitung

Regional
Seorang Remaja Tenggelam Saat Berenang di Sungai Rokan Riau

Seorang Remaja Tenggelam Saat Berenang di Sungai Rokan Riau

Regional
Kronologi 2 Siswi SMP di Jambi Berkelahi hingga Seorang Tewas

Kronologi 2 Siswi SMP di Jambi Berkelahi hingga Seorang Tewas

Regional
Ayah Emil Dardak Meninggal di Tol Pemalang-Batang, Kecelakaan Diduga karena Sopir Mengantuk

Ayah Emil Dardak Meninggal di Tol Pemalang-Batang, Kecelakaan Diduga karena Sopir Mengantuk

Regional
Kisah Husein Mutahar Selamatkan Bendera Pusaka, Cabut Benang Jahitan dan Pisahkan Kain Merah Putih

Kisah Husein Mutahar Selamatkan Bendera Pusaka, Cabut Benang Jahitan dan Pisahkan Kain Merah Putih

Regional
Baru Ditandatangani Menteri LHK, Status Burung Maleo Senkawor dalam SK LHK Berbeda dengan Kondisi Terkini

Baru Ditandatangani Menteri LHK, Status Burung Maleo Senkawor dalam SK LHK Berbeda dengan Kondisi Terkini

Regional
Sosok Husein Mutahar, Ajudan Soekarno yang Juga Pencipta Lagu Hari Merdeka

Sosok Husein Mutahar, Ajudan Soekarno yang Juga Pencipta Lagu Hari Merdeka

Regional
Di Balik Viralnya 'Ojo Dibandingke' dan Fenomena Musik Kampung yang Naik Kelas

Di Balik Viralnya "Ojo Dibandingke" dan Fenomena Musik Kampung yang Naik Kelas

Regional
Elpiji Subsidi  3 Kg Langka dan Mahal, Warga Bima Pilih Kayu Bakar

Elpiji Subsidi 3 Kg Langka dan Mahal, Warga Bima Pilih Kayu Bakar

Regional
Setiap Bulan, Pengolahan Kelor di NTT Menghasilkan Rp 540 Juta

Setiap Bulan, Pengolahan Kelor di NTT Menghasilkan Rp 540 Juta

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.