Kompas.com - 16/06/2022, 10:27 WIB

Nurjanah, seorang warga lain juga mengeluhkan hal serupa. Selain persoalan sarana dan prasarana, dinding rumah di kompleks relokasi itu juga retak.

"Terpaksa dindingnya kita tambal untuk menutupi keretakan. Kalau tidak segera diperbaiki nanti takut merembet ke bagian lain, saya ingin tinggal lama di sini. Rumah ini jadi hak milik katanya, sertifikatnya nanti," tuturnya.

Kondisi yang sama terlihat di Perumahan Kadole. Letak perumahan ini berjarak sekitar dua kilometer dari perumahan Oi Fo'o.

Baca juga: Penerbangan Lombok-Bima Tertunda karena Banjir Rob

Suasana di perumahan ini juga tampak jauh dari kesan peru­mahan pada umumnya. Perumahan itu terlihat sepi. Dari sekitar 533 unit rumah yang sudah dibangun, hanya sekitar 40 rumah yang sudah dihuni. Di tempat ini juga tidak disediakan fasilitas umum yang memadai.

Agus, warga setempat menjelaskan, perumahan tersebut dibangun sejak tahun 2017. Namun, hingga saat ini warga korban banjir dari wilayah yang terdampak hanya 40 KK yang sudah menghuni. Sementara sebagian warga lainnya hanya datang berkunjung kemudian pulang.

Baca juga: Banjir Rob Genangi Landasan Pacu Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima

"Kalau dilihat keberadaannya masih banyak yang kosong, yang terisi baru 44 rumah. Sementara yang datang bolak-balik banyak sih, mereka juga rutin ke sini. Hanya datang bersih-bersih, kemudian pulang. Padahal kan enggak bisa seperti itu, yang punya harus tinggal," ujar Agus

Didin, warga lainnya, mengeluhkan soal pembangunan rumah yang tidak sesuai dan terkesan setengah hati. Fasilitas sosial seperti tempat ibadah di lokasi itu belum ada.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima, Jainab menyatakan, pemerintah telah semaksimal mungkin membantu para korban banjir bandang, terutama dalam hal penyediaan tempat tinggal.

Bahkan, Pemkot Bima kini sudah berhasil menyediakan lebih dari seribu rumah baru di sejumlah lokasi untuk para korban banjir bandang.

Namun, Jainab mengakui bahwa saat ini masih banyak korban banjir bandang yang belum menempati rumah di tempat relokasi. Hal ini dikarenakan mereka menolak untuk direlokasi dan lebih memilih tetap tinggal di daerah asalnya dengan beragam alasan.

"Sebenarnya warga bukannya tidak mau pindah ke tempat relokasi, tapi ada berbagai alasan warga enggan menempati rumah tersebut. Yang pertama, tempat sangat jauh dari pusat ekonomi dan juga keberadaan sekolah yang jauh. Mereka juga kesulitan jaringan seluler. Karena di sana tidak ada sekolah dan fasilitas umum lainya. Sementara fasilitas penerangan dan air bersih, sudah tidak ada masalah, sudah ada pihak yang tangani," jelasnya.

Menurut dia, sejak tahun 2017 lalu, Pemerintah Kota Bima telah menyelesaikan pembangunan sebanyak 1.025 unit rumah di lokasi relokasi untuk warga yang rumahnya terdampak banjir.

Namun, pihaknya belum bisa memastikan kapan semua korban banjir yang terdata bisa menempati rumah tersebut, karena menjadi kewenangan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman.

"Tugas BNPB itu setelah bangun, rumah itu langsung diserahkan ke pihak terkait. Nah, sekarang asetnya sudah diserahkan oleh Pak Wali ke OPD teknis yaitu Dinas Perkim. Kalau soal penempatan warga ke tempat relokasi ini sebenarnya sudah lama, bahkan datanya kita sudah rangkum sesuai dengan jumlah rumah," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masih Ada Moratorium Pemekaran Daerah, Wapres: 4 DOB di Papua Luar Biasa

Masih Ada Moratorium Pemekaran Daerah, Wapres: 4 DOB di Papua Luar Biasa

Regional
Kala Siswa SLB Berbincang dengan Wagub Jateng, dari yang Ingin Mandiri hingga Mengajak Nonton Bioskop

Kala Siswa SLB Berbincang dengan Wagub Jateng, dari yang Ingin Mandiri hingga Mengajak Nonton Bioskop

Regional
Ganjar Bakal Wajibkan Seluruh Desa di Jateng Berstatus Antikorupsi

Ganjar Bakal Wajibkan Seluruh Desa di Jateng Berstatus Antikorupsi

Regional
Sepanjang 2022, Ditemukan 117 Kasus HIV/AIDS di Kota Madiun

Sepanjang 2022, Ditemukan 117 Kasus HIV/AIDS di Kota Madiun

Regional
Angka Kematian Anak di Jateng Capai Ribuan

Angka Kematian Anak di Jateng Capai Ribuan

Regional
Ibu Rumah Tangga di Aceh Tewas Gantung Diri, Diduga karena Ekonomi Keluarga

Ibu Rumah Tangga di Aceh Tewas Gantung Diri, Diduga karena Ekonomi Keluarga

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Disebut Tertinggi di Dunia, Pemprov Ungkap Faktornya

Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Disebut Tertinggi di Dunia, Pemprov Ungkap Faktornya

Regional
Taman Alam Lumbini: Daya Tarik, Harga Tiket, dan Jam Buka

Taman Alam Lumbini: Daya Tarik, Harga Tiket, dan Jam Buka

Regional
Sempat 2 Kali Laporkan Ibu Kandungnya, Siswi SMP di Palembang Akhirnya Berdamai dan Cabut Laporan

Sempat 2 Kali Laporkan Ibu Kandungnya, Siswi SMP di Palembang Akhirnya Berdamai dan Cabut Laporan

Regional
Pj Bupati Sebut Data Tak Valid Hambat Penanggulangan Kemiskinan di Flores Timur

Pj Bupati Sebut Data Tak Valid Hambat Penanggulangan Kemiskinan di Flores Timur

Regional
Izin Belum Lengkap, Konser Dewa 19 di Kalbar Ditunda, Penggemar Bisa Refund Tiket

Izin Belum Lengkap, Konser Dewa 19 di Kalbar Ditunda, Penggemar Bisa Refund Tiket

Regional
Bupati Bangkalan Belum Ditahan, Ini Kata Ketua KPK

Bupati Bangkalan Belum Ditahan, Ini Kata Ketua KPK

Regional
8 Nama Kereta Api Indonesia yang Terinspirasi dari Nama Sungai

8 Nama Kereta Api Indonesia yang Terinspirasi dari Nama Sungai

Regional
Ini Kesaksian Ketua RT Saat Densus Geledah Rumah Terduga Teroris di Sukoharjo

Ini Kesaksian Ketua RT Saat Densus Geledah Rumah Terduga Teroris di Sukoharjo

Regional
Buron 10 Bulan, Pelaku Pembunuhan di Palembang Ditangkap Saat Jenguk Anak Sakit

Buron 10 Bulan, Pelaku Pembunuhan di Palembang Ditangkap Saat Jenguk Anak Sakit

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.