Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Sururi "Kiai" Mangrove dari Semarang, Puluhan Tahun Tanam Jutaan Mangrove di Kawasan Rob

Kompas.com - 05/06/2022, 13:20 WIB
Muchamad Dafi Yusuf,
Khairina

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com - Angin berembus keras merontokkan dedaunan tanaman mangrove yang telah ditanam oleh Sururi (65) warga Mangunharjo, Mangkang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tanaman mangrove itu yang sampai saat ini melindungi permukiman warga dari terjangan air rob. Jutaan mangrove telah ditanam sejak 1995.

Baca juga: Hutan Mangrove di Wilayah Penyangga IKN Dirusak, DLH Balikpapan Janji Lakukan Sidak ke Lapangan

Hal itulah yang membuat Sururi dijuluki sebagai kyai mangrove.

"Bagi saya menanam mangrove ini adalah perintah agama," jelasnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (5/6/2022).

Sebelumnya jarak antara bibir pantai dengan permukiman warga tinggal 500 meter pada tahun 1990-2000.

Setelah dia gencar menanam mangrove selama bertahun-tahun, jarak bibir pantai dengan permukiman warga menjadi 1,4 kilometer.

"Sebenarnya yang menanam di sini tak hanya saya. Namun juga dibantu aktivis, mahasiswa dan warga," ujar dia.

Baca juga: Hutan Mangrove di Balikpapan Rusak, Diduga akibat Proyek Pembangunan Smelter Nikel

Menyadari sudah berkepala enam, Sururi mencoba untuk meneruskan perjuangan menanam mangrove kepada anaknya.

"Ini anak saya sudah mulai saya latih untuk meneruskan perjuangan,"paparnya.

Sampai saat ini, rumah Sururi juga dijadikan sebagai tempat edukasi soal mangrove dan lingkungan.

Dia juga menyediakan laboratorium untuk menanam mangrove di dekat bibir pantai.

"Jadi seperti ini rumah saya tak pernah sepi," katanya menunjukan puluhan tamu yang di rumahnya.

Karena kegigihannya itu, para akademisi baik dalam dan luar negeri sering datang ke tempat tinggalnya soal penanaman mangrove.

"Bahkan saya juga pernah ke luar negeri," ujarnya.

Apa yang dilakukan oleh Sururi tak sia-sia. Sejak 2004 masyarakat mulai merasakan manfaat tanaman mangrove yang telah ditanamnya.

"Karena itu beberapa kali komunitas sadar lingkungan di sini pernah terbentuk namun umumnya tak lama karena persoalan uang,"tambahnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com