Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Demi Bangun Jembatan di Desanya, Mahasiswi Asal Bolmut Nekat Ingin Jual Ginjalnya

Kompas.com - 14/05/2022, 19:56 WIB
Skivo Marcelino Mandey,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

MANADO, KOMPAS.com - Alin Pangalima, seorang mahasiswi asal Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara (Sulut), ingin menjual ginjalnya untuk pembangunan jembatan Goyo. Lokasi jembatan tersebut berada di Desa Keimanga, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolmut.

Foto aksinya yang memegang poster bertuliskan "Saya mau jual ginjal aja untuk pembangunan jembatan Goyo" viral di media sosial.

Alin saat dihubungi Kompas.com mengaku, apa yang dilakukannya itu sebagai sindirian karena selama kurang lebih 16 tahun jembatan tersebut tidak mendapat perhatian pemerintah.

Mahasiswi semester VIII, IAIN Sultan Amai Gorontalo itu mengatakan, aspirasi soal jembatan tersebut sudah berulang kali disampaikan kepada pemerintah daerah (pemda) setempat. Namun keluhan itu tidak ditindaklanjuti hingga kini.

"Itu (tulisan dalam poster) sebagai sindiran (kepada pemda). Sudah sampaikan berulang-ulang (masalah jembatan Goyo), tapi mereka tidak dengar," katanya lewat pesan singkat, Sabtu (14/5/2022).

Baca juga: Viral, Video Detik-detik Tabrakan Kapal di Ketapang, Terjadi Benturan Keras, Penumpang Teriak Histeris

Menurutnya, sering kali pemda beralasan tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membangun jembatan. Meski begitu Alin tak patah semangat. Ia terus berjuang agar jembatan Goyo bisa diperhatikan oleh pemerintah.

Setiap ada aksi demo, Alin selalu membawa dan menyampaikan aspirasi terkait pembangunan jembatan Goyo. Dia juga sudah menyampaikan kepada anggota DPRD setempat.

Bahkan, persoalan tersebut ia sampaikan kepada anggota DPR RI dalam salah satu acara.

"Sempat menghadap (anggota DPRD) kemarin, bincang-bincang. Tapi jawabannya sama, tidak cukup dana daerah. Aspirasi ini sudah disampaikan ke anggota DPR, tapi dapil Gorontalo," sebutnya.

Alin pun menjelaskan alasan pentingnya membangun jembatan Goyo. Salah satunya adalah untuk memudahkan akses masyarakat. 

"Pertama, ketika terjadi banjir dan sungai meluap, maka akses penghubung antara Ollot dan Goyo akan se-ekstrem ini. Bayangkan jika ada orang yang lagi kena sial terus masuk ke dalam sungai lalu tengelam dan meninggal, siapa yang bertanggung jawab?," katanya.

Kedua, masyarakat harus mengeluarkan biaya untuk menyeberangi sungai menggunakan rakit. Saat sungai normal, biayanya Rp 3.000 sekali lewat. Bayangkan masyarakat berapa kali lewat dalam sebulan di tempat ini.

Apalagi masyarakat Bolangitang dan sekitarnya ada juga yang berkebun di seberang sungai.  Maka dari itu bisa dipastikan biaya yang dikeluarkan Rp 6.000 per hari jika rutin ke kebun. Menurutnya jika dijumlahkan dalam sebulan maka biaya tersebut cukup untuk membeli beras .

"Belum lagi jika sungai sedang banjir dan air meluap bagaikan janji pemda. Biayanya jadi berlipat ganda, Rp 10.000 sekali lewat, dengan risiko yang cukup tinggi. Bayangkan jika datang musim penghujan, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sedangkan penghasilan masyarakat rata-rata memprihatinkan (soalnya kita rasa sandiri)," ujarnya.

Alin menyebut mengingat tiang jembatan sebenarnya sudah tertanam selama kurang lebih 16 tahun. Bahkan sebelum Bolmut menjadi daerah otonom baru di Sulut.

"Sangat disayangkan jika pemerintah terus mempertontonkan kegagalan di tengah masyarakat, dengan dalih 'nanti, nanti, nanti'" ungkap Alin.

Selain itu, dia mengatakan bahwa banyaknya kecelakaan ketika melewati sungai menjadikan jembatan itu layak diperjuangkan.

"Saya pun menyaksikan sendiri betapa kejadian kecelakaan itu terjadi di depan mata. Mungkin bisa ditanyakan kepada yang bertugas menyeberangkan kendaraan, berapa korban yang sudah tabulengkar (terbalik) di situ," sebutnya.

Dia mengaku kadang iri dengan Pangkusa yang meski lokasinya di pedalaman dan sulit jaringan, tapi memiliki jembatannya. Hal ini membuat Gayo tertinggal dari dusun lainnya.

"Karena seperti yang kita tahu bersama, bahwa bukan hanya jembatan yang terbengkalai, tapi jalan juga yang belum diaspal sepenuhnya, membuat masyarakat menjadi berlipat ganda kesulitannya," bebernya.

Dia juga mengungkapkan bahwa jika orang sedang hamil muda terus menerus melewati jalan di jalan Goyo itu, pasti akan mengalami keguguran. Bahkan menurutnya ada juga yang lahir prematur.

"Sangat disayangkan sekali. Dan kabar baiknya, semoga tahun ini jalan spanggal (sepenggal) itu akan diteruskan pembangunannya. Jika tidak, som ba demo jo dg (akan demo lagi)," ujarnya. 

Di sisi lain, Alin mengaku ingin menjual ginjal juga untuk mendapatkan buku karya klasik dunia. 

"Kalau ada yang mau beli ginjal saya, harganya seharga pembangunan jembatan, ditambah buku 50.000 eksemplar karya klasik dunia," ungkapnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Kantor UPT Dishub di Pulau Sebatik Memprihatinkan, Tak Ada Perbaikan Sejak Diresmikan Menteri Harmoko

Kantor UPT Dishub di Pulau Sebatik Memprihatinkan, Tak Ada Perbaikan Sejak Diresmikan Menteri Harmoko

Regional
Pilkada Solo, PKS Lakukan Penjaringan Bakal Cawalkot dan Siap Berkoalisi

Pilkada Solo, PKS Lakukan Penjaringan Bakal Cawalkot dan Siap Berkoalisi

Regional
Pembangunan Tanggul Sungai Wulan Demak Pakai Tanah Pilihan

Pembangunan Tanggul Sungai Wulan Demak Pakai Tanah Pilihan

Regional
19,5 Hektar Tanaman Jagung di Sumbawa Terserang Hama Busuk Batang

19,5 Hektar Tanaman Jagung di Sumbawa Terserang Hama Busuk Batang

Regional
Golkar Jaring Bakal Calon Bupati Sleman, Ada Mantan Sekda dan Pengusaha Kuliner yang Ambil Formulir

Golkar Jaring Bakal Calon Bupati Sleman, Ada Mantan Sekda dan Pengusaha Kuliner yang Ambil Formulir

Regional
Viral, Brio Merah Halangi Laju Ambulans, Pengemudi Berikan Penjelasan

Viral, Brio Merah Halangi Laju Ambulans, Pengemudi Berikan Penjelasan

Regional
Cemburu Pacarnya 'Di-booking', Warga Lampung Bacok Pria Paruh Baya

Cemburu Pacarnya "Di-booking", Warga Lampung Bacok Pria Paruh Baya

Regional
Gagal Curi Uang di Kotak Wakaf, Wanita di Jambi Bawa Kabur Karpet Masjid

Gagal Curi Uang di Kotak Wakaf, Wanita di Jambi Bawa Kabur Karpet Masjid

Regional
Pantai Watu Karung di Pacitan: Daya Tarik, Aktivitas, dan Rute

Pantai Watu Karung di Pacitan: Daya Tarik, Aktivitas, dan Rute

Regional
Diejek Tak Cocok Kendarai Honda CRF, Pemuda di Lampung Tusuk Pelajar

Diejek Tak Cocok Kendarai Honda CRF, Pemuda di Lampung Tusuk Pelajar

Regional
Bantuan PIP di Kota Serang Jadi Bancakan, Buat Perbaiki Mobil hingga Bayar Utang

Bantuan PIP di Kota Serang Jadi Bancakan, Buat Perbaiki Mobil hingga Bayar Utang

Regional
Ditanya soal Pilkada Kabupaten Semarang, Ngesti Irit Bicara

Ditanya soal Pilkada Kabupaten Semarang, Ngesti Irit Bicara

Regional
Ditinggal 'Njagong', Nenek Stroke di Grobogan Tewas Terbakar di Ranjang

Ditinggal "Njagong", Nenek Stroke di Grobogan Tewas Terbakar di Ranjang

Regional
Terungkap, Napi LP Tangerang Kontrol Jaringan Narkotika Internasional

Terungkap, Napi LP Tangerang Kontrol Jaringan Narkotika Internasional

Regional
Siswi SMA di Kupang Ditemukan Tewas Gantung Diri

Siswi SMA di Kupang Ditemukan Tewas Gantung Diri

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com