Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi

Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

Terpikat "Bunga Desa" di Banyuwangi

Kompas.com - 05/04/2022, 07:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

GERAKANNYA begitu cekatan, sapanya begitu melekat di hati dan perhatiannya sangat memesona semua warga desa.

Semua keluhan dan harapan, dicobanya untuk dituntaskan satu per satu. Bukan sekadar “pemanis”, tetapi sudah menjadi tekadnya sejak awal.

Bunga desa yang selama ini memikat kaum pria dan menjadi perhatian banyak kalangan, tetapi di Banyuwangi, Jawa Timur kehadiran “bunga desa” menjadi solusi dari warga pedesaan.

Bunga desa yang dimaksud di Banyuwangi ini adalah: bupati ngantor di desa.

Kabupaten Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dan merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur, bahkan di tanah air, memiliki luasan 5.782,50 kilometer persegi. Luas Kabupaten Banyuwangi melebihi luas Pulau Bali.

Memiliki 217 desa dan kelurahan, yang terbagi ke dalam 25 kecamatan. Garis pantainya sepanjang sekitar 175,8 km dan memiliki 10 pulau.

Hingga paruh 2000-an, Banyuwangi dikenal publik sebagai wilayah yang sarat dengan “mistis” dan lamban dalam kemajuan daerahnya dibandingkan daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Kerap orang Banyuwangi ketika itu, jika ditanya dari mana asalnya selalu menyebut dari Surabaya.

Jika dipertegas Surabaya yang mana, baru dibilangnya Banyuwangi. Padahal antara Banyuwangi dan Surabaya berjarak 307,7 kilometer jika melalui Jalur Pantura.

Banyuwangi baru naik “pangkat” saat Abdullah Azwar Anas menjadi kepala daerah selama dua periode (21 Oktober 2010 – 17 Februari 2021). Bupati-bupati Banyuwangi sebelumnya berakhir di penjara karena kasus rasuah.

Sejak Anas menjabat, warga Banyuwangi begitu bangga dengan daerahnya. Sebutan “Osing Deles” begitu membanggakan siapa saja.

Suku Osing atau suku Using adalah penduduk asli daerah Banyuwangi. Suku tersebut merupakan keturunan rakyat Kerajaan Blambangan yang mengasingkan diri pada zaman Majapahit.

Nama Osing diberikan oleh penduduk pendatang yang menetap di daerah itu pada abad ke-19.

Penduduk Banyuwangi cukup beragam. Mayoritas adalah Suku Osing, namun juga mukim Suku Madura (mendiami wilayah Kecamatan Muncar, Wongsorejo, Kalipuro, Glenmore dan Kalibaru) dan Suku Jawa yang cukup signifikan.

Terdapat pula minoritas suku Bali, Suku Mandar, dan Suku Bugis. Suku Bali banyak mendiami desa–desa di kecamatan Rogojampi.

Bahkan di desa Patoman, Kecamatan Rogojampi seperti miniatur desa di Bali di Pulau Jawa.

Suku Osing merupakan penduduk asli kabupaten Banyuwangi dan bisa dianggap sebagai sebuah sub-suku dari Suku Jawa.

Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu ragam tertua bahasa Jawa.

Kompleksitas persoalan di Banyuwangi dicoba selesaikan melalui “belanja” masalah melalui program “Bunga Desa”.

Sejak terpilih sebagai bupati dan wakil bupati di Banyuwangi berkat kemenangannya di pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 lalu, Ipuk Fiestiandani bersama Sugirah terus melakukan berbagai terobosan.

Program Bunga Desa merupakan salah satu penjabaran dari spirit Banyuwangi Rebound yang diusung Bupati Ipuk.

Tiga pilar dari Banyuwangi Rebound, yakni penanganan pandemi, pemulihan ekonomi serta merajut harmoni.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com