Pontianak, Kota Khatulistiwa dan Asal-usul Nama dari Mitos Sultan Diganggu Kuntilanak

Kompas.com - 02/02/2022, 13:28 WIB

KOMPAS.com - Kota Pontianak merupakan salah satu kota besar yang ada di Kalimantan sekaligus menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Barat.

Pontianak dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa, karena daerahnya dilalui oleh garis khatulistiwa yang membelah bumi menjadi dua bagian utara dan selatan.

Status sebagai daerah yang dilalaui garis tersebut membuat Pontianak dikenal dengan fenomena hari tanpa bayangan.

Fenomena ini biasa terjadi dua kali dalam setahun, yaitu antara bulan Februari-April dan September-Oktober.

Baca juga: 8 Fakta Menarik Sidoarjo, Kabupaten yang 19 Desanya Tenggelam karena Tragedi Lumpur Lapindo

Asal-usul Nama Pontianak

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 Masehi yang bertepatan dengan 14 Rajab 1185 H.

Pendirian kota ini diawali dengan pembukaan hutan di persimpangan tiga sungai oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Tiga sungai tersebut adalah Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas.

Setelah hutan berhasil dibukan, Syarif Abdurrahman Alkadrie lantas mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal.

Daerah itu kemudian diberi nama Pontiank, dan Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Pontianak.

Baca juga: 7 Fakta Menarik Balikpapan, Kota Minyak yang Asal-usul Namanya Konon Berhubungan dengan Papan

Konon penamaan Pontianak ini berkaitan dengan kisah hantu kuntilanak yang selalu mengganggu Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Saat menyusuri Sungai Kapuas, Syarif Abdurrahman Alkadrie selalu diganggu oleh hantu perempuan yang jamak disebut kuntilanak.

Maka Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintahkan anak buahnya untuk menembakkan meriam.

Tujuannya agar kuntilanak itu berhenti mengganggu. Selain itu, Syarif juga berujar bahwa lokasi jatuhnya peluru meriam akan dijadikan tempat tinggal.

Ternyata, peluru meriam itu jatuh di persimpangan sungai yang dengan nama Bering, yang kemudian dijadikan tempat tinggal.

Namun dalam catatan yang lain, asal-usul nama Pontianak berasal dari kata Pontian yang hartinya tempat pemberhentian atau tempat singgah.

Sedangkan menurut masyarakat Tionghoa, Pontianak dalam bahasa Mandarin disebut dengan istilah Kun Tian, yang artinya tempat pemberhentian.

Baca juga: Asal-usul Pontianak, Legenda Hantu Kuntilanak hingga Hari Tanpa Bayangan di Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa

Di sebelah utara Kota Pontianak, terdapat sebuah monumen yang dikenal dengan nama Tugu Khatulistiwa.

Tugu Khatulistiwa berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Pontianak.

Tugu Khatulistiwa ini dibangun pada tahun 1928 oleh ahli Geografi dari Belanda. Tujuannya untuk menentukan tonggak garis khatulistiwa di Pontianak.

Pada tahun 1928 itu, tugu tersebut dibangun secara sederhana yaitu berbentuk tonggak dengan anak panah.

Kemudian bangunan itu sedikit disempurnakan pada tahun 1930, dengan menambah lingkaran pada tonggak dan anak panah itu.

Tugu KhatulistiwaArimbi Ramadhiani Tugu Khatulistiwa
Berikutnya pada tahun 1938, dilakukan penyempurnaan kembali menjadi tugu asli yang dapat dilihat di dalam monumen.

Tugu Khatulistiwa kemudian dibangun seperti saat ini pada tahun 1990 dengan pembuatan kubah dan duplikat tugu yang ukurannya lima kali lebih besar dari tugu asli.

Pembangunan Tugu Khatulistiwa ini tergolong unik mengingat tidak menggunakan peralatan canggih.

Saat itu para ahli hanya menggunakan garis yang tidak lurus dan bergelombang sebagai patokan.

Selain itu para ahli juga berpatokan ada benda-benda langit seperti rasi bintang untuk membangun tugu ini.

Baca juga: Jangan Lewatkan, Ini Jadwal Detik-detik Tanpa Bayangan di Tugu Khatulistiwa Pontianak

Fenomena Sehari Tanpa Bayangan

Kota Pontianak dikenal dengan fenomena sehari tanpa bayangan yang terjadi dua kali dalam setahun.

Fenomena ini terjadi ketika posisi matahari berada tepat di atas Indonesia, yaitu pada titik zenith.

Posisi matahari tersebut membuat tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tak berongga saat tengah hari.

Sebenarnya fenomena sehari tanpa bayangan juga terjadi di kota-kota lain yang dilalui garis khatulistiwa.

Namun kota-kota itu berbeda, ada yang mengalami fenomena itu sebanyak dua kali dalam setahun, dan ada yang hanya sekali dalam setahun.

Bagi kota-kota yang berada di antara dua Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan, seperti Pontianak, maka akan mengalami fenomena itu dua kali setahun.

Sementara fenomena sehari tanpa bayangan hanya terjadi sekali setahun pada kota atau wilayah yang terletak tepat di Garus Balik Utara atau Garis Balik selatan.

Sumber:
Kompas.com
Pontianakkota.go.id

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ayah Brigadir J: Kami Berharap Kasus Dibuka Terang Benderang seperti Instruksi Pak Jokowi

Ayah Brigadir J: Kami Berharap Kasus Dibuka Terang Benderang seperti Instruksi Pak Jokowi

Regional
Selundupkan Pistol Rakitan dan Peluru ke Lapas Idi Aceh untuk Kabur, Pacar dan Istri Napi Ditahan

Selundupkan Pistol Rakitan dan Peluru ke Lapas Idi Aceh untuk Kabur, Pacar dan Istri Napi Ditahan

Regional
Kronologi Nelayan di Aceh Tamiang Kena Tembakan TNI AL, Awalnya Dicurigai Bawa Sabu

Kronologi Nelayan di Aceh Tamiang Kena Tembakan TNI AL, Awalnya Dicurigai Bawa Sabu

Regional
3 Warga Alor Ditangkap gara-gara Judi Togel, Terancam 10 Tahun Penjara

3 Warga Alor Ditangkap gara-gara Judi Togel, Terancam 10 Tahun Penjara

Regional
RSUD Poso Tidak Miliki Dokter Kandungan, Kaum Ibu Gelar Demo Tolak Hamil

RSUD Poso Tidak Miliki Dokter Kandungan, Kaum Ibu Gelar Demo Tolak Hamil

Regional
Kabur 10 Hari Usai Bunuh dan Kubur Jasad Istri di Hutan, Pria di Maluku Ditangkap

Kabur 10 Hari Usai Bunuh dan Kubur Jasad Istri di Hutan, Pria di Maluku Ditangkap

Regional
Santri di Rembang Bakar Temannya Sendiri, Begini Kronologinya

Santri di Rembang Bakar Temannya Sendiri, Begini Kronologinya

Regional
Remaja di Pangkalpinang Terluka, Diduga Ditembak Oknum Aparat

Remaja di Pangkalpinang Terluka, Diduga Ditembak Oknum Aparat

Regional
Dari Sopir Sampai Dosen Ikut Dipanggil KPK dalam Kasus Jual Beli Jabatan Bupati Pemalang

Dari Sopir Sampai Dosen Ikut Dipanggil KPK dalam Kasus Jual Beli Jabatan Bupati Pemalang

Regional
Lanudal Kupang Tanam Ratusan Pohon Cendana di Lahan Berbatu, Ini Tujuannya

Lanudal Kupang Tanam Ratusan Pohon Cendana di Lahan Berbatu, Ini Tujuannya

Regional
Cerita Lansia Rawat Dua Anak ODGJ, Dikurung di Pondok Sempit Sejak Puluhan Tahun

Cerita Lansia Rawat Dua Anak ODGJ, Dikurung di Pondok Sempit Sejak Puluhan Tahun

Regional
Truk Tangki Minyak Goreng Terguling di Muba, Tumpahannya Diperebutkan Warga

Truk Tangki Minyak Goreng Terguling di Muba, Tumpahannya Diperebutkan Warga

Regional
Polda Jateng Tangkap 28 Pelaku Judi dalam Sehari

Polda Jateng Tangkap 28 Pelaku Judi dalam Sehari

Regional
Fosil Gajah Purba Sepanjang 2,5 Meter Usia Jutaan Tahun Ditemukan di Kudus

Fosil Gajah Purba Sepanjang 2,5 Meter Usia Jutaan Tahun Ditemukan di Kudus

Regional
Gara-gara Tukar Guling Tak Sesuai Prosedural, Perangkat Desa di Sukoharjo Saling Lapor ke Polisi

Gara-gara Tukar Guling Tak Sesuai Prosedural, Perangkat Desa di Sukoharjo Saling Lapor ke Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.