Kompas.com - 13/12/2021, 15:06 WIB

NTB, KOMPAS.com- Cerita parau mereka yang merasa dicovidkan, sayup-sayup terdengar di masyarakat, beredar dari mulut ke mulut.

Ketidakpercayaan ini salah satunya memicu aksi pengambilan paksa jenazah diduga terpapar Covid-19 di sejumlah daerah di NTB.

Tidak hanya sekali, aksi ini terjadi berulang kali hingga aparat kepolisian turun tangan dan membangun posko pengamanan di sejumlah rumah sakit rujukan.

Baca juga: UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTB, NTT, Kalbar, dan Kalsel 12 Desember 2021

Cerita pasien nomor 1927

Kasus pengambilan paksa seperti pada jenazah S, juga dialami pasien Covid-19 di NTB nomor 1927, M (35), asal Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.

M adalah pasien ke-110 dalam catatan Satgas Covid-19. Ia berpulang pada 27 Juli 2020.

M dibawa pulang menggunakan ambulans, namun proses pemulasaran dan pemakamannya dilakukan tanpa protokol Covid-19.

H, paman M, menuturkan, keluarga memutuskan membuka kantong jenazah agar pemulasaraan dilakukan sesuai syariat Islam.

Alangkah kagetnya ia, karena saat kantong jenazah dibuka, wajah keponakannya terbalut kapas dan lakban, sementara dompet serta handphone masih ada di kantong celana yang telah dibungkus kantung jenazah.

“Apa begitu caranya? Membiarkan jenazah membawa pakaian dan barang-barangnya sebelum dimakamkan. Itulah yang membuat kami tidak percaya pada rumah sakit, kami sakit melihat kenyataan itu,” ungkap H.

Baca juga: Ramai Klaim Ranjang Covid-19 (1)

Sebelum meninggal, M memang sempat melakukan video call dengan keluarga di ruang isolasi.

Handphone yang digunakannya untuk video call itulah yang tertinggal di dalam kantong celananya.

M, menurut data Dinas Kesehatan Provinsi NTB, M merupakan pasien ke-1927.

Ia dilaporkan meninggal pada 27 Juli 2020, dengan keluhan sesak, batuk, mual, dan dicurigai pneumonia.

M juga diketahui mengalami gagal ginjal dan harus cuci darah. Namun, saat akan cuci darah, Covid merebak.

M lalu dilaporkan terpapar Covid-19 dan meninggal.

Data BPJS Cabang Kota Mataram menyebutkan, biaya penanganan M sebesar Rp 14.752.448 per hari dengan total klaim Rp 30.110.000.

Baca juga: Ini Penjelasan Balai Jalan NTB soal Perusakan Jalan ByPass Mandalika karena Banjir

Ilustrasi pemakaman pasien Covid-19 Ilustrasi pemakaman pasien Covid-19

Cerita pasien nomor 17856

OZ (9), warga Desa Kediri, Lombok Barat. Satgas Covid-19 menyatakan OZ meninggal pada 4 Agustus 2021.

OZ meninggal di puncak gelombang kedua wabah Covid-19 di Lombok Barat, termasuk di Kediri.

Sepanjang Juni-Juli 2021 hampir setiap hari ada warga yang terdeteksi Covid-19 dan ada warga yang meninggal dunia karena virus ini.

Ketika itu angka positif Covid-19 di Kabupaten Lombok Barat sebesar 2.306 kasus, dan 108 orang meninggal dunia.

Angka positif Covid di NTB sendiri pada waktu itu mencapai angka 19.663 kasus dengan 681 kematian.

Baca juga: Sembunyikan Sabu Dalam Anus, 5 Pengedar Narkoba di NTB Ditangkap, 1 Masih Buron

Paman OZ yang bernama Farid, menuturkan, OZ yang telah lama kesulitan kencing dan tak bisa lagi menahan sakitnya pada 19 Juli 2021.

Dia dibawa ke RSUD Tripat, Lombok Barat, kemudian dirujuk ke RSUP NTB.

Pihak rumah sakit langsung mengambil keputusan akan mengoperasinya.

Sembari menunggu jadwal operasi, keluarga diminta menandatangani surat persetujuan agar putra mereka masuk ruang isolasi.

“Orangtuanya menolak anaknya diisolasi,“ kata Farid.

OZ lalu dibawa pulang. Keluarga berencana menggunakan pengobatan alternatif.

Tengah malam, 20 Juli 2021, OZ pingsan. Ia dibawa ke Puskesmas Kediri lalu dirujuk kembali ke RSUD Tripat Lombok Barat.

Sempat dirawat di ruang IDG, OZ meninggal 21 Juli 2021 dini hari, sebelum mendapatkan perawatan lanjutan.

Menurut sang paman, ada perbedaan tanggal kematian antara versi Satgas Covid-19 dan tanggal kematian sebenarnya.

Menanggapi soal perbedaan tanggal kematian ini, Kepala Puskesmas Kediri, H. Suruji, meminta supervisor Puskesmas Kediri, Farid Zuani, untuk membantu memberikan penjelasan.

Farid membenarkan kematian OZ yang sebenarnya 21 Juli 2021, namun tertulis mundur dua pekan atau 14 hari, menjadi tanggal 4 Agustus 2021.

“Kita sudah minta data itu diubah,” kata Farid. Farid juga menyebutkan, ada kesalahan data soal isolasi.

OZ disebutkan menjalani isolasi selama dua pekan di fasilitas isolasi Puskesmas Kediri, padahal tidak.

Namun menurut Farid, kesalahaan data sebelumnya juga terjadi pada pasien lain asal Desa Montong Are, Kecamatan Kediri.

Tertulis pasien itu masih isoman, padahal telah meninggal. Memang, meski tidak merawat pasien Covid-19, Puskemas Kediri menyediakan tempat untuk isolasi mandiri.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 untuk Anak 6-11 Tahun di Bali Dimulai 15 Desember

Pelaksanaan isolasi mandiri, menurut Suruji, harus dengan sepengetahuan pihak Puskesmas.

Tak ada biaya yang disediakan Puskesmas. Akan tetapi Suruji mengaku kerap diminta menandatangani surat keterangan oleh rumah sakit yang menyatakan pasien tidak memiliki tempat isoman di rumahnya, sehingga harus menjalani isolasi di faskes agar bisa diklaim di BPJS.

“Permintaan seperti itu yang sering datang ke saya,” ujar Suruji.

Suruji mengatakan ia selalu menandatanganinya.

“Karena ini terkait dengan pendapatan mereka (rumah sakit), ya sudah. Toh dalam arti pasien ini selamat, tidak dibebani biaya. Pihak rumah sakit hanya mau sebagai bukti klaim di BPJS, ya sudah tanda tangan saja kita,” katanya.

Suruji menyebutkan, ada dua rumah sakit yang memintanya menadatangani surat klaim itu. Satu rumah sakit milik pemerintah dan satunya lagi swasta.

Pihak BPJS Cabang Mataram membenarkan jika pasien tidak memiliki tempat yang layak untuk isoman, maka isoman bisa dilakukan di fasilitas kesehatan.

“Dan klaim biaya bisa terverifikasi jika ada tanda tangan dari kepala puskesmas atas permintaan dari rumah sakit yang merekomendasikan pasien,” ujar Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Cabang Mataram dr. Putu Gede Wawan Swandayana, Senin (30/11/2021).

Mengenai persoalan kematian OZ, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan hal itu hanya kesalahan administrasi.

Kata dia, tidak ada kaitannya isoman dengan klaim.

“Ada ribuan data, ada saja kesalahan yang sifatnya administrated, seperti pasiennya masih hidup disebutkan sudah meninggal, tapi tidak ada niat kita sebagai nakes untuk melakukan tindakan itu (mencovidkan pasien),” ujarnya.

Penelusuran lebih jauh mengenai OZ, Kompas.com menemukan tidak ada uang dari BPJS yang keluar karena kesalahan tanggal tersebut.

OZ, pasien ke-17.856, tidak masuk dalam data klaim pembiayaan pasien covid BPJS.

“Kami sudah memeriksa pasien atas nama OZ, tidak ada dalam klaim covid yang diajukan RS Tripat. Tapi apakah karena tidak diajukan atau belum diajukan,” kata Wawan.

Sampai pengajuan terakhir bulan Desember 2021, nama OZ tidak ada dalam daftar.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rasio Harga Rumah di Bandung, Jakarta, dan Denpasar Lebih Tinggi dari New York, Singapura, dan Tokyo, Apa Solusi Pemerintah?

Rasio Harga Rumah di Bandung, Jakarta, dan Denpasar Lebih Tinggi dari New York, Singapura, dan Tokyo, Apa Solusi Pemerintah?

Regional
Habis Dipakai Rapat, Ruangan Gedung A FKIP UNS Terbakar

Habis Dipakai Rapat, Ruangan Gedung A FKIP UNS Terbakar

Regional
Harimau Teror Warga Kota Sungaipenuh Jambi, 3 Perangkap Dipasang

Harimau Teror Warga Kota Sungaipenuh Jambi, 3 Perangkap Dipasang

Regional
Jalur Perbatasan RI-Malaysia Diblokade karena Sembako Mahal, Pemprov Kaltara Keluarkan Subsidi Ongkos Angkut

Jalur Perbatasan RI-Malaysia Diblokade karena Sembako Mahal, Pemprov Kaltara Keluarkan Subsidi Ongkos Angkut

Regional
3 Warga Sukabumi Pesta Miras Oplosan di Aceh, 1 Tewas dan 2 Dilarikan ke RS

3 Warga Sukabumi Pesta Miras Oplosan di Aceh, 1 Tewas dan 2 Dilarikan ke RS

Regional
Jalur Perdagangan RI–Malaysia Diblokade karena Dugaan Monopoli Harga, Ini Kata Gubernur Kaltara

Jalur Perdagangan RI–Malaysia Diblokade karena Dugaan Monopoli Harga, Ini Kata Gubernur Kaltara

Regional
Rekrut Tenaga Kerja Lokal di IKN, Otorita Diminta Prioritaskan Tenaga Honorer di Kaltim

Rekrut Tenaga Kerja Lokal di IKN, Otorita Diminta Prioritaskan Tenaga Honorer di Kaltim

Regional
Korban Arisan Bodong di Bengkulu Rugi Rp 5 Miliar, Uangnya Dipakai Tersangka untuk Kebutuhan Pribadi

Korban Arisan Bodong di Bengkulu Rugi Rp 5 Miliar, Uangnya Dipakai Tersangka untuk Kebutuhan Pribadi

Regional
Istri Polisi di Rote Ndao Melahirkan Bayi di Mobil Patroli Kasat Samapta, Ini Ceritanya

Istri Polisi di Rote Ndao Melahirkan Bayi di Mobil Patroli Kasat Samapta, Ini Ceritanya

Regional
Cari 11 Kru KM Usaha Baru yang Hilang, Ini yang Dilakukan Tim SAR

Cari 11 Kru KM Usaha Baru yang Hilang, Ini yang Dilakukan Tim SAR

Regional
Dituduh Tak Patuh Pajak, Pedagang Bakso Gugat Pemkab Magelang Senilai Rp 5 Miliar

Dituduh Tak Patuh Pajak, Pedagang Bakso Gugat Pemkab Magelang Senilai Rp 5 Miliar

Regional
Detik-detik Truk Satpol PP Terjun ke Jurang di Puncak Jaya, 6 Warga Tewas

Detik-detik Truk Satpol PP Terjun ke Jurang di Puncak Jaya, 6 Warga Tewas

Regional
Microlibrary Warak Kayu, Perpustakaan Unik di Tengah Terik Kota Semarang

Microlibrary Warak Kayu, Perpustakaan Unik di Tengah Terik Kota Semarang

Regional
Kronologi Atlet Menembak Palembang Tewas Ditabrak Mobil Pikap

Kronologi Atlet Menembak Palembang Tewas Ditabrak Mobil Pikap

Regional
Cerita Wari, Pemilik Lahan yang Dikontrak ACT untuk Peternakan Kambing di Blora

Cerita Wari, Pemilik Lahan yang Dikontrak ACT untuk Peternakan Kambing di Blora

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.