Ratusan Warga Merantai Pagar Rumah Dinas Bupati Pamekasan dan Kantor Dewan, Ini Penyebabnya

Kompas.com - 08/12/2021, 20:54 WIB
Pintu pagar rumah dinas Bupati Pamekasan dirantai dan digembok dari luar oleh warga, Rabu (8/13/2021) karena Pilkades serentak di 74 desa di Pamekasan tak kunjung digelar oleh Bupati Pamekasan. KOMPAS.COM/TAUFIQURRAHMANPintu pagar rumah dinas Bupati Pamekasan dirantai dan digembok dari luar oleh warga, Rabu (8/13/2021) karena Pilkades serentak di 74 desa di Pamekasan tak kunjung digelar oleh Bupati Pamekasan.

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Ratusan warga Pamekasan, Jawa Timur, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pamekasan Menggugat, berunjuk rasa di kantor Bupati Pamekasan dan kantor DPRD Pamekasan, Rabu (8/12/2021).

Mereka menuntut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam segera mengeluarkan keputusan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 74 desa.

Sebab sudah dua kali penyelenggaraan Pilkades ditunda.

Aksi diwarnai dengan memasang rantai di pagar rumah dinas Bupati Pamekasan.

Baca juga: Buntut Gelapkan Retribusi Pasar Rp 480 Juta, 4 ASN Pamekasan Dicopot dari Jabatan

Protes penundaan Pilkades

Massa berjalan kaki mulai dari alun-alun Arek Lancor menuju kantor bupati dan DPRD Pamekasan.

Aksi jalan kaki massa menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan kendaraan di sepanjang jalan menuju kantor bupati.

Tiba di depan kantor bupati, koordinator aksi Abdul Basit langsung berorasi.

"Kami sudah muak dengan kebijakan penundaan Pilkades serentak dengan alasan pandemi dan pembatasan pembatasan kegiatan masyarakat," teriak Abdul Basit.

Baca juga: Bendahara Gelapkan Dana Retribusi Pasar Rp 480 Juta di Pamekasan

Basit menilai, Pemkab secara bebas membuat kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

Misalnya MTQ Jawa Timur yang dihadiri masyarakat dari 38 daerah di Jawa Timur.

Namun, ketika kepentingan rakyat seperti Pilkades, bupati menggunakan alasan PPKM.

"Kami menolak kebijakan pengisian jabatan antar waktu Kades di Pamekasan. Sebab akan menimbulkan persoalan sosial di tengah-tengah masyarakat," ungkap Basit.

Merantai pagar rumah dinas dan kantor DPRD

Orasi mereka tidak mendapat respons dari pejabat dan bupati Pamekasan.

Massa akhirnya bergeser ke kantor DPRD Pamekasan. Di sana, massa juga tak ditemui oleh anggota dewan.

Baca juga: Heboh, Temuan Mayat Membusuk di Rumah Dokter di Pamekasan

 

Setelah berjam-jam tak ditemui bupati dan dewan, massa yang kesal kemudian merantai pintu pagar kantor DPRD Pamekasan dari luar.

Begitu pula pintu pagar rumah dinas bupati Pamekasan, ikut dirantai dan digembok dari luar.

Sejumlah staf dan karyawan yang hendak keluar tertahan karena pintu sudah terkunci.

Menurut Basit, bupati dan DPRD Pamekasan sudah tidak peduli dengan aspirasi rakyat Pamekasan.

Seharusnya mereka membuka pintu komunikasi dengan rakyat, bukan bersembunyi.

"Kami kecewa dengan Bupati dan dewan. Padahal aksi kami sudah diinformasikan seminggu sebelumnya," tandasnya.

Baca juga: 2 Hari Diguyur Hujan, 2 Desa di Pamekasan Dilanda Longsor

Sekretaris DPRD Pamekasan Masrukin saat dikonfirmasi mengatakan, anggota DPRD Pamekasan sedang ada kegiatan di luar kantor.

Sehingga mereka tidak bisa menemui massa.

Sementara Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, tidak merespons.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Penumpang KM Sirimau yang Kandas di Perairan Lembata, Awalnya Dikira Gempa

Cerita Penumpang KM Sirimau yang Kandas di Perairan Lembata, Awalnya Dikira Gempa

Regional
[POPULER NUSANTARA] Sopir Kecelakaan Maut di Tol Mojokerto Positif Narkoba | Remaja 18 Tahun Tewas Usai Ditangkap Polisi

[POPULER NUSANTARA] Sopir Kecelakaan Maut di Tol Mojokerto Positif Narkoba | Remaja 18 Tahun Tewas Usai Ditangkap Polisi

Regional
Diduga Rem Blong, Bus Terjun ke Jurang Sedalam 50 Meter di Lampung, 1 Penumpang Tewas

Diduga Rem Blong, Bus Terjun ke Jurang Sedalam 50 Meter di Lampung, 1 Penumpang Tewas

Regional
Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 18 Mei 2022, Pagi Cerah, Sore Hujan Petir

Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 18 Mei 2022, Pagi Cerah, Sore Hujan Petir

Regional
Balita 1,5 Tahun di Pemalang Hilang Saat Ditinggal Ibunya ke Dapur, Begini Kronologinya

Balita 1,5 Tahun di Pemalang Hilang Saat Ditinggal Ibunya ke Dapur, Begini Kronologinya

Regional
4 SMA Terbaik di Jambi Versi LTMPT untuk Referensi PPDB 2022

4 SMA Terbaik di Jambi Versi LTMPT untuk Referensi PPDB 2022

Regional
Mengapa Makassar Disebut Kota Daeng?

Mengapa Makassar Disebut Kota Daeng?

Regional
Pernikahan Adik Jokowi dengan Ketua MK Tinggal Tunggu Waktu, Gibran Sebut Persiapan Sudah Beres

Pernikahan Adik Jokowi dengan Ketua MK Tinggal Tunggu Waktu, Gibran Sebut Persiapan Sudah Beres

Regional
Ketua DPRD Banten Heran, Banyak Industri Tapi Pengangguran Tertinggi

Ketua DPRD Banten Heran, Banyak Industri Tapi Pengangguran Tertinggi

Regional
Pelabuhan Muncar Banyuwangi, Salah Satu Penghasil Ikan Terbesar di Indonesia

Pelabuhan Muncar Banyuwangi, Salah Satu Penghasil Ikan Terbesar di Indonesia

Regional
Sering Disuruh Saat Gotong Royong, Pria di Balikpapan Bunuh Temannya Sendiri

Sering Disuruh Saat Gotong Royong, Pria di Balikpapan Bunuh Temannya Sendiri

Regional
Pria yang Tusuk Polisi di Pekanbaru Ternyata Pernah Lukai Imam Masjid

Pria yang Tusuk Polisi di Pekanbaru Ternyata Pernah Lukai Imam Masjid

Regional
KM Sirimau Tabrak Karang di Perairan Ile Ape Lembata, Begini Penjelasan Syahbandar

KM Sirimau Tabrak Karang di Perairan Ile Ape Lembata, Begini Penjelasan Syahbandar

Regional
Dugaan Suap Wali Kota Ambon, KPK Periksa Sejumlah Pejabat Pemkot

Dugaan Suap Wali Kota Ambon, KPK Periksa Sejumlah Pejabat Pemkot

Regional
Soal Kebijakan Jokowi Perbolehkan Tak Pakai Masker Saat di Luar Ruangan, Sekda Solo: Iya Kita Ikuti

Soal Kebijakan Jokowi Perbolehkan Tak Pakai Masker Saat di Luar Ruangan, Sekda Solo: Iya Kita Ikuti

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.