Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi

Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

Elegi Nestapa dari Sintang dan Lembata

Kompas.com - 20/11/2021, 08:33 WIB
Siswa-siswi Sekolah Dasar Inpres (SDI) 92 Bean, Desa Bean, Kecamatan Buyasari, Kabupaten Lembata, NTT, menuju lokasi pelaksanaan ANBK, pada Senin hingga Selasa (15-16/11/2021). DOKUMEN SEKOLAHSiswa-siswi Sekolah Dasar Inpres (SDI) 92 Bean, Desa Bean, Kecamatan Buyasari, Kabupaten Lembata, NTT, menuju lokasi pelaksanaan ANBK, pada Senin hingga Selasa (15-16/11/2021).

Sang mentari menyapa hangat
Langkah kaki mungil hiasi hari
Penuh semangat dalam canda tawa
Polos dan tak berdosa
Merekalah para pencari ilmu

Setiap hari terus bergerak
Tak mengenal henti
Demi sebuah perbaikan
Demi sebuah perubahan

Menggapai sang cahaya pengetahuan
Sebagai penerang, hempaskan kedangkalan
Hiraukan hinaan, tetap fokus pada tujuan
Pintu sukses kelak akan menjadi sebuah jawaban

(“Para Pencari Ilmu” – Seuntaipuisi.blogspot.com)

Saya terngiang dengan cita-cita kita dulu di era 1970 dan 1980-an. Kalau tidak jadi dokter, tentara, polisi, guru, atau insinyur. Itulah jawaban kita jika ada yang bertanya soal cita-cita kelak. 

Cita-cita anak dulu berbeda dengan anak sekarang. Cita-cita kekinian anak-anak sekarang adalah vlogger, youtuber, penambang bit coin, make up spesialist, social media expert, bahkan spesialis robotik.

Biarkan anak-anak berceloteh tentang mimpinya. Biarkan mereka mewujudkan fantasinya dengan bertanggungjawab dan sungguh-sungguh.

Capaian terbesar manusia dewasa ini bukankah berasal dari mimpi-mimpi masa lalu yang kerap disangsikan? Kita tidak bisa melarang. Kita hanya perlu menjelaskan dengan konteks kekinian dan masa depan.

Anak-anak di perkotaan yang berasal dari keluarga mapan kerap bercita-cita tinggi. Tetapi, sadarkah kita dengan mimpi anak-anak di daerah batas negara seperti di Skow, Papua, atau di Jagoi Babang, Kalimantan Barat, atau juga di Wini, Nusa Tenggara Timur?

Mimpi mendapatkan akses internet gratis bagi mereka sebuah anugerah. Mimpi bisa makan sehari tiga kali adalah berkah yang luar biasa.

Padahal, merekalah pewaris masa depan, pelanjut perjuangan kita bersama. Ada begitu banyak anak-anak yang kurang beruntung dalam kehidupan.

Perjuangan pelajar Sekolah Dasar (SD) Inpres 92 Bean, Desa Bean, Kecamatan Buyasari, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), demi mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang dihelat dari Senin hingga Selasa (16/11/2021) ternyata cukup berat.

Selain harus berjalan sejauh satu kilometer agar bisa mendapatkan lokasi dengan jaringan internet yang bagus, mereka masih harus menarik dan mendorong mesin generator untuk mendukung pelaksanaan ANBK.

Desa Bean seperti halnya desa-desa lain di pelosok di Lembata, belum dilewati jaringan listrik dan jaringan internet yang memadai (Kompas.com, 17/11/2021).

Baca juga: Perjuangan Siswa SD di Lembata, Tarik dan Dorong Mesin Generator Sejauh 1 Km demi Ikuti ANBK

Dipilihnya lokasi kebun di Tanjung Merah bukan tanpa alasan. Di lokasi ini jaringan internetnya lumayan bagus.

Semula siswa akan menumpang Wi-Fi di SMPN SATAP Bean tetapi karena tegangan arus listrik diesel yang tidak stabil membuat jaringan WIFI kerap terputus.

Mereka kemudian mencari lokasi yang akses internetnya lumayan bagus. Dapatlah lokasi baru di Pustu.

Para murid pun berkumpul di Pustu. Namun, di tengah jalan jaringan internet ngadat. Kembali mereka berburu lokasi. Akhirnya didapatlah lokasi bagus di sebuah kebun di Tanjung Merah.

Generator diperlukan untuk men-charge laptop yang dipakai peserta ANBK mengingat daerah Tanjung Merah belum mendapat pasokan listrik.

Para guru mengakui semangat anak didiknya patut diacungi jempol. Kendala dan kesulitan mendapatkan akses internet dan pasokan listrik tidak menyurutkan semangat anak-anak mengikuti ANBK.

Listrik dan akses internet adalah barang mewah di pelosok Lembata. Para pendidik sudah terbiasa berburu lokasi yang sinyalnya bagus. 

Biasanya mereka sekalian membawa generator untuk isi ulang laptop seperti yang dilakukan saat mengisi survei lingkungan belajar (SLB) secara online (Kompas.com, 17/11/2021).

Baca juga: Perjuangan Para Guru di Lembata, NTT, Cari Sinyal Internet hingga ke Kebun

Banjir yang kerap datang selama November 2021 menambah beban perjuangan. Akses transportasi semakin sulit. Jaringan listrik tertanggu. Imbasnya, akses internet pun terganggu. 

Banjir akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan sejumlah jalan putus karena tumpahan material batu dan pohon-pohon menghalangi jalan. Empat desa seperti Jontona, Lamaawu, Lamagute dan Napasabok terisolir karena banjir (Kompas.com, 17/11/2021).

Baca juga: 3 Ruas Jalan di Lembata Putus Diterjang Banjir, Sejumlah Alat Berat Diterjunkan

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 17 Januari 2022

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 17 Januari 2022

Regional
5 Mercusuar Bersejarah di Indonesia, Ada yang Dibangun di Aceh, tapi Gunakan Tenaga Ratusan Warga Ambon

5 Mercusuar Bersejarah di Indonesia, Ada yang Dibangun di Aceh, tapi Gunakan Tenaga Ratusan Warga Ambon

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 17 Januari 2022

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 17 Januari 2022

Regional
Dua Pemerkosa Gadis Keterbelakangan Mental Dibebaskan, Ini Kata Polisi

Dua Pemerkosa Gadis Keterbelakangan Mental Dibebaskan, Ini Kata Polisi

Regional
Dua Tersangka Pemerkosa Gadis Keterbelakangan Mental Dibebaskan, Korban Hamil

Dua Tersangka Pemerkosa Gadis Keterbelakangan Mental Dibebaskan, Korban Hamil

Regional
Sopir Ekspedisi Ditahan di Polsek Tanpa Status Hukum Jelas, Kapolda Lampung Cari Pelapornya

Sopir Ekspedisi Ditahan di Polsek Tanpa Status Hukum Jelas, Kapolda Lampung Cari Pelapornya

Regional
Vaksinasi Booster di NTB Dimulai 19 Januari, Lansia Jadi Prioritas

Vaksinasi Booster di NTB Dimulai 19 Januari, Lansia Jadi Prioritas

Regional
7 Kilang Minyak Milik Indonesia, dari yang Tertua hingga Terbesar

7 Kilang Minyak Milik Indonesia, dari yang Tertua hingga Terbesar

Regional
Mengenal Garis Pemisah Fauna di Nusantara: Garis Wallace, Garis Weber, dan Garis Lydekker

Mengenal Garis Pemisah Fauna di Nusantara: Garis Wallace, Garis Weber, dan Garis Lydekker

Regional
Sejarah Pesawat Pertama buatan Indonesia, Mimpi BJ Habibie yang Terhalang Krisis Moneter

Sejarah Pesawat Pertama buatan Indonesia, Mimpi BJ Habibie yang Terhalang Krisis Moneter

Regional
Kasus Pembakaran Rumah Jurnalis di Aceh, Pangdam IM: Kami Berkomitmen Penegakan Hukum

Kasus Pembakaran Rumah Jurnalis di Aceh, Pangdam IM: Kami Berkomitmen Penegakan Hukum

Regional
5 Remaja yang Lempar Mobil Demi Konten Dibebaskan Polisi, Ini Alasannya

5 Remaja yang Lempar Mobil Demi Konten Dibebaskan Polisi, Ini Alasannya

Regional
Dijanjikan Jadi Veteran, 52 Lansia di NTT Diduga Tertipu Miliaran Rupiah

Dijanjikan Jadi Veteran, 52 Lansia di NTT Diduga Tertipu Miliaran Rupiah

Regional
Digugat Warganya Terkait Pengisian Perangkat Desa, Bupati Blora: Kita Hadapi

Digugat Warganya Terkait Pengisian Perangkat Desa, Bupati Blora: Kita Hadapi

Regional
Polisi Bongkar Makam Siswi SD di Grobogan yang Diduga Tewas Dianiaya Temannya

Polisi Bongkar Makam Siswi SD di Grobogan yang Diduga Tewas Dianiaya Temannya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.