Kompas.com - 05/11/2021, 13:43 WIB

BAUBAU, KOMPAS.com – Pukulan gendang yang dilakukan puluhan laki-laki yang menggunakan jubah adat terdengar dari kejauhan. 

Secara serempak, para laki-laki paruh baya ini mengeluarkan suara alunan selawat dengan mengikuti irama gendang yang dipukul. 

Puluhan lelaki berjubah adat ini merupakan perangkat adat masjid Kesultanan Buton yang sedang melaksanakan tradisi Maludhuana Hukumu atau tradisi penutupan Maulid Nabi Muhamad. 

“Ini yang dilakukan perangkat masjid keraton, untuk penutupan maulid yang dilakukan masyarakat. Tapi, adalah membantu masyarakat melakukan kegiatan mulia ini,” kata Imam Masjid Keraton Buton, La Ode Kariu, Jumat (5/11/2021). 

Baca juga: Ganjar Pranowo di Peringatan Maulid Nabi Muhammad: Berkat Shalawat, Corona Minggat

Tradisi Maludhuana Hukumu diawali dengan membaca selawat sambil diiringi dengan pukulan gendang. 

Alunan selawat dilakukan dari pagi hingga sore hari.

Selawat tidak saja dilakukan oleh perangkat masjid keraton saja, tapi juga diikuti oleh beberapa tokoh adat perempuan Wolio.  

Selanjutnya dilakukan dengan membaca beberapa ayat Al Quran yang dilanjutkan dengan haroa atau doa syukur. 

Baca juga: Tradisi Rebutan Telur Meriahkan Peringatan Maulid Nabi di Polewali Mandar

Sementara itu, beberapa orang laki-laki mondar-mandir mengangkat nampan besar yang berisikan makanan tradisional seperti beras merah, kue kering, pisang goreng tanpa tepung, dan lainnya. 

La Ode Kariu menambahkan, tradisi ini dilakukan untuk menganggungkan perjalanan Nabi Muhammad dari saat dikandung ibunya hingga lahir. 

“Pesan yang disampaikan ini adalah kita memuliakan nabi (Muhammad). Lalu dalam doa kita meminta agar (masyarakat) kokoh imannya dalam Islam,” ujarnya.  

Tradisi Maludhuana Hukumu ini dilakukan sejak zaman Kesultanan Buton dan masih dijaga dan tetap dilestarikan hingga saat ini. 

Baca juga: Weh-wehan, Cara Warga Kendal Peringati Maulid Nabi Muhammad

Menurut Budayawan Baubau, La Ode Muhamad Arsal, menyatakan, tradisi maludhuana hukumu mulai dilakukan secara bersamaan dengan masuknya Islam di Pulau Buton. 

“Sejak zaman islam masuk, kemudian digelar peringatan maulid yang dilakukan oleh istana sultan dan seluruh perangkatnya jam 12 malam, jadi dimulai dari Sultan,” ucap Arsal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.