Viral, Video Tangis Guru Honorer Pecah, Digendong Pengawas dan Tetap Ikut Ujian PPPK meski Stroke

Kompas.com - 19/09/2021, 06:10 WIB
Imas Kustiani (53) guru honorer kategori dua bersama suaminya Nana Suhana (54) ditemui di teras rumahnya di Perumahan Eka Mas Permai, Desa Pangulah Utara, Kecamatan Kotabaru, Karawang. Imas merupakan guru honorer yang videonya viral lantaran ikut seleksi PPPK meski tengah sakit struk. KOMPAS.COM/FARIDAImas Kustiani (53) guru honorer kategori dua bersama suaminya Nana Suhana (54) ditemui di teras rumahnya di Perumahan Eka Mas Permai, Desa Pangulah Utara, Kecamatan Kotabaru, Karawang. Imas merupakan guru honorer yang videonya viral lantaran ikut seleksi PPPK meski tengah sakit struk.

KARAWANG, KOMPAS.com- Video seorang guru honorer mengikuti seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) dalam kondisi stroke, viral di media sosial.

Guru honorer tersebut bernama Imas Kustiani (53), pengajar di SDN Wancimekar 1, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang.

Baca juga: Potret Ketatnya Seleksi PPPK di Karimun, 995 Pengajar Rebutkan 595 Lowongan Guru

Digendong oleh pengawas dan menangis haru

Akun Instagram @halokrw mengunggah ulang video dari akun @pgri_kotabaru.fc.

Terlihat Imas datang ke tempat seleksi PPPK di SMAN 3 Karawang Barat.

Imas berjalan menggunakan tongkat dibantu suaminya. Seorang pengawas kemudian berinisiatif menggendong Imas, lantaran khawatir dia terlambat mengikuti seleksi.

Di dalam kelas, panitia mendudukkan Imas di sebuah bangku peserta ujian PPPK.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian terlihat Imas menangis terharu lantaran mendapat banyak dukungan.

Video Imas tersebut ditonton sebanyak 14.275 kali. Tayangan tersebut pun mendapatkan respons dari warganet.

Baca juga: Cara Cek Jadwal dan Lokasi Ujian Susulan PPPK Guru Tahap 1 2021

Semangat Imas

Nana Suhana (54), suami Imas menyebutkan, mereka datang ke lokasi tes dengan mengendarai motor.

"Pas datang saya bilang ke pengawas istri saya bilang ke pengawas, istri saya sakit jalannya agak lama. Saya mohon waktu, takut terlambat. Malah pengawas langsung menggendong istri saya," kata Nana ditemui di rumahnya, Perumahan Eka Mas Permai, Desa Pangulah Utara, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Sabtu (18/9/2021) siang.

Bahkan, pengawas atau panitia pun sigap membantu Imas saat kesulitan mengoperasikan komputer saat ujian.

"Dia (Imas) jawabannya terisi semua," ujar dia.

Imas, kata Nana, tetap semangat ingin ikut seleksi PPPK setelah sekitar 17 tahun mengajar.

Bahkan jauh sebelum sakit pun, Imas dan rekan-rekannya aktif memperjuangkan hak para guru honorer untuk diangkat menjadi PNS.

"Sejak dulu dia semangat, sudah beberapa kali ikut seleksi CPNS sejak 2013," ungkap Nana.

Baca juga: Seorang Peserta Tes PPPK Guru di Nunukan Muntah Darah dan Meninggal Dunia, 5 Peserta Lain Positif Covid-19

 

Ilustrasi.TOTO SIHONO Ilustrasi.
Meskipun sakit, kata Nana, kemauan Imas untuk mengajar anak didiknya tetap membara.

Beruntung rekan seprofesi hingga kepala sekolah selalu memberi dukungan.

"Saat ini ngajar daring dari rumah, ada guru lain yang mendampingi," kata dia.

Nana pun berharap Imas dapat lolos seleksi. Dia juga ingin Imas sehat seperti sedia kala.

"Harapan kami, dia (Imas) bisa diangkat (PPPK)," ungkap dia.

Baca juga: Daftar Passing Grade PPPK Guru 2021 dan Jenis Materi Ujian

Saya ingin diangkat, saya tetap semangat...

Sementara itu, Imas membenarkan jika dirinya sudah belasan tahun menjadi guru honorer.

"Saya sudah sejak 2003 mengajar di SDN Wancimekar 1," kata dia.

Imas menginginkan, dirinya dan guru-guru honorer lainnya bisa diangkat.

"Saya ingin diangkat, saya tetap semangat. Teman-teman guru saya, kepala sekolah pun meminta saya tak pupus harapan," ujar guru honorer kategori dua itu.

Mengenai honornya selama mengajar, Imas dan Nana tak mau mengungkit panjang lebar.

"Saat ini sekitar Rp 1 juta," ujarnya singkat.

Adapun penyakit stroke yang diderita oleh Imas, disebabkan karena dirinya mulanya memiliki darah tinggi. Kemudian makanan menjadi pemicunya.

Sejak saat itulah sang suami selalu membantunya.

Bahkan ketika Imas harus pergi ke sekolah, sang suami mengantarkannya menggunakan sepeda motor yang digunakannya untuk berjualan es serut keliling.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jalan Blega Bangkalan Macet Total gara-gara Truk Patah As, Pengendara Diimbau Lewat Jalur Alternatif

Jalan Blega Bangkalan Macet Total gara-gara Truk Patah As, Pengendara Diimbau Lewat Jalur Alternatif

Regional
Kesaksian Warga Lihat Siswi SMA Diterkam Buaya Saat Keluar dari Pintu Jamban

Kesaksian Warga Lihat Siswi SMA Diterkam Buaya Saat Keluar dari Pintu Jamban

Regional
Jalan ke Sukoharjo Tak Disekat Selama Libur Nataru, Kendaraan dari Luar Bakal Diperiksa

Jalan ke Sukoharjo Tak Disekat Selama Libur Nataru, Kendaraan dari Luar Bakal Diperiksa

Regional
Dosen Unsri Bantah Chat WA Lecehkan 3 Mahasiswinya, Pengacara: Ini Politisasi, Ada yang Giring Mereka Lapor

Dosen Unsri Bantah Chat WA Lecehkan 3 Mahasiswinya, Pengacara: Ini Politisasi, Ada yang Giring Mereka Lapor

Regional
Warga Blora Dilarang Rayakan Pergantian Tahun di Area Publik dan Hotel

Warga Blora Dilarang Rayakan Pergantian Tahun di Area Publik dan Hotel

Regional
Pria yang Video TikTok-nya Viral Bersama Teman Perempuannya Berseragam Bhayangkari Ternyata Seorang Satpam

Pria yang Video TikTok-nya Viral Bersama Teman Perempuannya Berseragam Bhayangkari Ternyata Seorang Satpam

Regional
Sidang Korupsi Masjid Sriwijaya, Ini Alasan Jaksa Tuntut Eks Karo Kesra Sumsel 15 Tahun Bui, Lebih Berat Dibanding Sekda

Sidang Korupsi Masjid Sriwijaya, Ini Alasan Jaksa Tuntut Eks Karo Kesra Sumsel 15 Tahun Bui, Lebih Berat Dibanding Sekda

Regional
Muncul Relawan Airpres di Semarang, Dukung Airlangga Hartarto Jadi Capres

Muncul Relawan Airpres di Semarang, Dukung Airlangga Hartarto Jadi Capres

Regional
'Jangan Dekati Zona Merah Semeru, apalagi Sekadar Selfie, Ini Lokasi Bencana, Bukan Wisata'

"Jangan Dekati Zona Merah Semeru, apalagi Sekadar Selfie, Ini Lokasi Bencana, Bukan Wisata"

Regional
Antisipasi Terjangan Banjir Lahar Gunung Merapi, Sumber Mata Air di Sleman Diamankan

Antisipasi Terjangan Banjir Lahar Gunung Merapi, Sumber Mata Air di Sleman Diamankan

Regional
Gempa M 5,1 Guncang Lembata NTT, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa M 5,1 Guncang Lembata NTT, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Momen Polisi Sambangi Buruh Tani yang Sedang Tanam Padi, Diajak Vaksinasi

Momen Polisi Sambangi Buruh Tani yang Sedang Tanam Padi, Diajak Vaksinasi

Regional
Guru Pesantren di Bandung Perkosa Belasan Santriwati, Dihukum Kebiri?

Guru Pesantren di Bandung Perkosa Belasan Santriwati, Dihukum Kebiri?

Regional
Bukan karena Vaksin, Kebutaan Joko Santoso Disebut akibat Peradangan Saraf Mata

Bukan karena Vaksin, Kebutaan Joko Santoso Disebut akibat Peradangan Saraf Mata

Regional
Cerita Nakes di Luwu Dijerat UU ITE, Dipicu Surat Hasil Temuan Makanan Berformalin yang Tersebar di Medsos

Cerita Nakes di Luwu Dijerat UU ITE, Dipicu Surat Hasil Temuan Makanan Berformalin yang Tersebar di Medsos

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.