Walhi Curiga Limbah di Pesisir Teluk Lampung Mirip Kasus pada 2020

Kompas.com - 13/09/2021, 15:44 WIB
Gakkum KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup Lampung mengambil sampel limbah di pantai di Kota Agung, Tanggamus, Sabtu (11/9/2021). Dok. Dinas Lingkungan Hidup LampungGakkum KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup Lampung mengambil sampel limbah di pantai di Kota Agung, Tanggamus, Sabtu (11/9/2021).

LAMPUNG, KOMPAS.com - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung meminta pemerintah dan aparat kepolisian mengusut tercemarnya perairan di Lampung oleh material berwarna hitam yang diduga aspal dan minyak.

Pencemaran yang telah terjadi selama lebih dari sepekan di sepanjang perairan Pesisir Teluk Lampung itu hampir mirip dengan tumpahan minyak di Pantai Timur Lampung pada 2020 lalu.

Direktur Eksekutif Walhi Lampung Irfan Tri Musri mengatakan, apabila hal serupa terulang, maka akan menjadi preseden buruk bagi pemerintah daerah.

Baca juga: Temuan Limbah di Pesisir Teluk Lampung, Dinas LH: Ditemukan di 3 Kabupaten...

"Kejadian serupa sempat terjadi di Pantai Timur Lampung, yakni pada tahun 2020, ada tumpahan minyak yang mencemari perairan di sana," kata Irfan di Bandar Lampung, Senin (13/9/2021).

Dari informasi terkini yang dihimpun oleh Walhi Lampung, pencemaran yang terjadi di pesisir Teluk Lampung justru lebih parah dibanding yang terjadi pada tahun lalu.

"Kali ini terjadi di pesisir Teluk Lampung hingga Teluk Semaka yang garis pantainya sangat panjang. Ini harus ditangani serius," kata Irfan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Pesisir Teluk Lampung Tercemar Limbah, Dinas LH: Pernah Terjadi di Lampung Timur Pada 2020

Untuk itu, Irfan berharap pemerintah dan aparat kepolisian bisa lebih serius mengungkap penyebab pencemaran itu, karena diduga ada tindak pidana pencemaran lingkungan.

"Apakah dari aktivitas bongkar muat kapal minyak ataukah pencucian lambung kapal tanker yang dilakukan di perairan Lampung," kata Irfan.

Irfan mengatakan, pencemaran yang terjadi kali ini adalah kejadian luar biasa, lantaran masif terjadi di perairan yang sangat luas.

"Ini terjadi di garis pantai yang sangat panjang. Secara peraturan sebenarnya sudah melanggar Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup," kata Irfan.

Baca juga: Berenang di Laut, Pengunjung Pantai di Lampung Terkena Limbah Mirip Aspal

Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Konservasi (Gakkum KLHK) Ridho Rasio Sani mengatakan, pihaknya sudah mengambil sampel material limbah.

"Sudah pengambilan sampel oleh Gakkum Sumatera dan Dinas Lingkungan Hidup Lampung, kita tunggu dahulu hasil laboratoriumnya," kata Ridho.

Diberitakan sebelumnya, hampir seluruh pantai di pesisir Teluk Lampung tertutupi limbah yang diduga aspal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.