3 Kali Terima Order Fiktif dari dalam Lapas Pemuda Madiun, Pemilik Toko Ini Rugi Rp 44 Juta

Kompas.com - 02/09/2021, 20:30 WIB
Ilustrasi penjara. The GuardianIlustrasi penjara.

Dia menelepon langsung pihak bank lantaran tidak muncul notifikasi transfer di e-banking.

Hasil koordinasi dengan bank menunjukkan tidak ada transaksi masuk pada 19 dan 21 Juni 2021. Ia baru menyadari telah menjadi korban penipuan dan melaporkan kasus tersebut ke polisi.

Aparat Polsek Manguharjo, Kota Madiun kemudian menetapkan tiga narapidana kasus narkoba yang mendekam di Lapas Pemuda Kelas IIA Kota Madiun sebagai tersangka usai kedapatan belanja barang bermodus order fiktif hingga puluhan juta ruiah.

Ketiga narapidana berinisial DE, DD, dan AS ini melakukan aksinya dari dalam lapas.

“Saat ini tiga pelaku (narapidana) itu sudah menjadi tersangka. Kami pun sudah memeriksa ketiganya sebagai tersangka,” kata Kapolsek Manguharjo, Kompol Mujo Prajoko yang dikonfirmasi Kompas.com.

Dari penyidikan polisi, bukti transfer yang dikirimkan ternyata hasil editan oleh pelaku, sehingga patut diduga telah terjadi penipuan dan penggelapan.

Baca juga: Wali Kota Madiun Pinjamkan Mobil dan Rumah Dinas Gratis bagi Anak Yatim Piatu

Aksi tiga pelaku itu, lanjut Mujo, akhirnya terungkap saat tim gabungan lapas dan Polsek melakukan operasi bersama dengan menggeledah ruang tahanan.

Saat menggeledah itu, tim menemukan ponsel yang di dalamnya ada percakapan WhatsApp pemesanan pembelian dengan ponsel milik korban.

"Ternyata nyambung dengan laporan dari pemilik toko Barokah. Jadi otaknya itu di dalam (lapas), dia orang yang menggerakan saja. Sementara yang di luar, mulai jasa pemesanan transportasi daring, menampung barang, dan menjual barang-barang dilakukan orang lain yang sudah kami periksa semuanya,” ungkap Mujo.

Saat ditanya soal pihak luar yang juga terlibat dalam jaringan tersebut, Mujo masih mendalami lebih lanjut.

Baca juga: Armuji Murka Sekolah di Surabaya Paksa Siswa Bayar Seragam Rp 1,5 Juta: Harusnya Diberi, Bukan Disuruh Beli

Dari tiga tersangka, polisi menyita barang bukti berupa satu buah ponsel, bukti transkrip pesanan, bukti transfer fiktif, dan beberapa nota pembelian.

Dua tersangka DE dan DD dijerat pidana penipuan dan penggelapan. Sementara satu tersangka, AS, dikenakan tindak pidana ringan lantaran uang penipuannya tergolong kecil.

Kompas.com / (Penulis: Muhlis Al Alawi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Baubau Heboh Temukan 4 Granat Asap Aktif di Tempat Sampah

Warga Baubau Heboh Temukan 4 Granat Asap Aktif di Tempat Sampah

Regional
[POPULER REGIONAL] Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat | Tersesat gara-gara Google Maps

[POPULER REGIONAL] Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat | Tersesat gara-gara Google Maps

Regional
Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Capai 159 Orang, Dua Anak Meninggal Dunia

Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Capai 159 Orang, Dua Anak Meninggal Dunia

Regional
Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 25 Januari 2022

Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 25 Januari 2022

Regional
Pernyataannya Dianggap Menyinggung Warga Kalimantan, Organisasi di Kalsel Laporkan Edy Mulyadi ke Polisi

Pernyataannya Dianggap Menyinggung Warga Kalimantan, Organisasi di Kalsel Laporkan Edy Mulyadi ke Polisi

Regional
Kapolda NTB: Temuan Kasus Omicron di NTB Tak Ubah Jadwal MotoGP

Kapolda NTB: Temuan Kasus Omicron di NTB Tak Ubah Jadwal MotoGP

Regional
Soal Rencana Penghapusan Honorer, Bupati Kendal: Mengikuti Regulasi dari Pusat

Soal Rencana Penghapusan Honorer, Bupati Kendal: Mengikuti Regulasi dari Pusat

Regional
Gara-gara Ditegur Buang Sampah, Lansia Ini Ancam Tebas Tetangganya dengan Parang

Gara-gara Ditegur Buang Sampah, Lansia Ini Ancam Tebas Tetangganya dengan Parang

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Januari 2022

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Januari 2022

Regional
Seorang Pria di Manggarai Timur Diduga Aniaya Ibu Kandungnya

Seorang Pria di Manggarai Timur Diduga Aniaya Ibu Kandungnya

Regional
Wali Kota Bandar Lampung Diisukan Selingkuh, Suami Gelar Sayembara Hadiah Rp 1 Miliar Bagi yang Bisa Buktikan

Wali Kota Bandar Lampung Diisukan Selingkuh, Suami Gelar Sayembara Hadiah Rp 1 Miliar Bagi yang Bisa Buktikan

Regional
Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU): Latar Belakang, Tokoh, dan Tujuannya

Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU): Latar Belakang, Tokoh, dan Tujuannya

Regional
Petani di Karawang Tewas Dibunuh oleh Istri dan Kekasih Gelapnya, Ini Motifnya

Petani di Karawang Tewas Dibunuh oleh Istri dan Kekasih Gelapnya, Ini Motifnya

Regional
'Trawl' Merajalela, Nelayan Bengkulu Ingin Bertemu Jokowi

"Trawl" Merajalela, Nelayan Bengkulu Ingin Bertemu Jokowi

Regional
Belajar dari Tonga, Ini Sejarah Letusan Besar 5 Gunung Berapi di Indonesia yang Gemparkan Dunia

Belajar dari Tonga, Ini Sejarah Letusan Besar 5 Gunung Berapi di Indonesia yang Gemparkan Dunia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.