Kisah Sulitnya Pedagang TWA Tangkuban Perahu, Tak Berjualan Sejak Ada Erupsi, Makin Terpuruk Saat PPKM

Kompas.com - 13/08/2021, 16:16 WIB
Eli (62), salah satu pedagang makanan di TWA Gunung Tangkuban Perahu KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANAEli (62), salah satu pedagang makanan di TWA Gunung Tangkuban Perahu

BANDUNG, KOMPAS.com - Dua tahun sudah Gunung Tangkuban Perahu erupsi. Tepatnya pada bulan Juli tahun 2019.

Erupsi tersebut bisa dikatakan, menjadi awal pukulan telak untuk perekonomian ribuan pedagang yang mencari nafkah di dalam Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Perahu karena hampir dua bulan tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan.

Hal tersebut mengakibatkan para pedagang menganggur dan tidak ada pendapatan sepeser pun.

Baca juga: Sempat Terlihat di Dreamland, Seorang Perempuan Hilang di Gunung Kareumbi Bandung

Tidak sampai satu tahun, pukulan terhadap perekonomian para pedagang kembali terjadi ketika Covid-19 masuk ke Indonesia dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan pemerintah. TWA Gunung Tangkuban Perahu kembali ditutup selama tiga bulan.

Meski boleh menerima kunjungan, jumlah wisatawan yang datang ke Gunung Tangkuban Perahu baik dalam dan luar negeri jauh menurun dari sebelumnya.

Baca juga: Hari Pertama Aturan Ganjil Genap di Kabupaten Bandung, Tak Dilakukan Penilangan, Pengemudi Diminta Putar Balik

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kesulitan pedagang berlanjut ketika pemerintah pusat menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak bulan Juli 2021.

Hingga hari ini, pedagang belum juga bisa berdagang lantaran PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) selaku pengelola Gunung Tangkuban Perahu menutup kunjungan wisata.

"Kalau sekarang sudah hampir dua bulan enggak jualan, ngasuh cucu saja di rumah. Bingung juga kalau begini terus. Waktu erupsi enggak jualan, terus ada Corona, sekarang PPKM. Waktu boleh dibuka juga pengunjung sedikit," kata Eli (62), salah satu pedagang makanan di TWA Gunung Tangkuban Perahu kepada Kompas.com, Jumat (13/8/2021) siang.

Lantaran tidak ada pemasukan sama sekali, Eli mengaku terpaksa harus menjual barang-barang untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Padahal dulu menurut dia, dalam satu hari dia mampu mendapatkan penghasilan bersih mencapai Rp.200.000 per hari.

"Yang ada saja dijual. Ada hape anak dijual buat beras. Bapak cuma kuli macul. Pendapatannya paling cuma Rp.50.000 sampai Rp.75.000 sehari. Itu juga kalau ada yang nyuruh," tandasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Solar Mulai Langka, DPRD Sulut Minta Pemprov Cari Solusi, Sekda: Perlu Ditelusuri

Solar Mulai Langka, DPRD Sulut Minta Pemprov Cari Solusi, Sekda: Perlu Ditelusuri

Regional
Seorang Polisi Dianiaya Pemuda Mabuk, Begini Kronologinya

Seorang Polisi Dianiaya Pemuda Mabuk, Begini Kronologinya

Regional
Faisal Selamat dari Tragedi Susur Sungai, Tak Dibekali Alat Pengaman, Mengaku Ditolong Perempuan Berkerudung

Faisal Selamat dari Tragedi Susur Sungai, Tak Dibekali Alat Pengaman, Mengaku Ditolong Perempuan Berkerudung

Regional
Kaki Ganjar Pranowo Dibasuh oleh Tetua Suku Tobelo, Apa Artinya?

Kaki Ganjar Pranowo Dibasuh oleh Tetua Suku Tobelo, Apa Artinya?

Regional
Sebelum Meninggal Susur Sungai, Dea Minta Foto dengan Keluarga, Ini Cerita Sang Ayah

Sebelum Meninggal Susur Sungai, Dea Minta Foto dengan Keluarga, Ini Cerita Sang Ayah

Regional
Tutup Selama PPKM, Ini Cara 'Lembang Park and Zoo' Bertahan di Tengah Pandemi

Tutup Selama PPKM, Ini Cara "Lembang Park and Zoo" Bertahan di Tengah Pandemi

Regional
Kebun Binatang di Jateng dan DIY Buka Donasi untuk Pakan Satwa

Kebun Binatang di Jateng dan DIY Buka Donasi untuk Pakan Satwa

Regional
Kantor Pinjol Ilegal di Pontianak Digerebek, Beroperasi Sejak Desember 2020, Perputaran Uangnya Mencapai Rp 3,25 M

Kantor Pinjol Ilegal di Pontianak Digerebek, Beroperasi Sejak Desember 2020, Perputaran Uangnya Mencapai Rp 3,25 M

Regional
Sosok TM, Korban Pinjol di Balik Penggerebekan di Sleman, Dijebak SMS dan Memilih Lapor Polisi

Sosok TM, Korban Pinjol di Balik Penggerebekan di Sleman, Dijebak SMS dan Memilih Lapor Polisi

Regional
Solar Langka di Riau, Diduga karena Ditimbun, Sopir Truk Derek dan 2 Petugas SPBU Ditangkap Polisi

Solar Langka di Riau, Diduga karena Ditimbun, Sopir Truk Derek dan 2 Petugas SPBU Ditangkap Polisi

Regional
Mengaku Banteng tapi Takut Disuntik, Pria Ini Tutup Wajah Pakai Jaket

Mengaku Banteng tapi Takut Disuntik, Pria Ini Tutup Wajah Pakai Jaket

Regional
'Di Atas seperti Tenang, di Bawahnya Berputar Pusaran Air Sangat Deras, Akhirnya Saya Memilih Menyelamatkan Diri Saja'

"Di Atas seperti Tenang, di Bawahnya Berputar Pusaran Air Sangat Deras, Akhirnya Saya Memilih Menyelamatkan Diri Saja"

Regional
Detik-detik Angin Puting Beliung di Pinrang, Irda dan Anaknya Selamat karena Berlindung di Selokan

Detik-detik Angin Puting Beliung di Pinrang, Irda dan Anaknya Selamat karena Berlindung di Selokan

Regional
Bus Sugeng Rahayu Tabrak Bus Mira di Ngawi, Satu Pengendara Motor Terjepit, Hanya Alami Luka Lecet

Bus Sugeng Rahayu Tabrak Bus Mira di Ngawi, Satu Pengendara Motor Terjepit, Hanya Alami Luka Lecet

Regional
KPK Sita Rp 1,5 Miliar di Tas Merah, Ini Kronologi OTT Bupati Musi Banyuasin Dodi Alex Noerdin

KPK Sita Rp 1,5 Miliar di Tas Merah, Ini Kronologi OTT Bupati Musi Banyuasin Dodi Alex Noerdin

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.