Gerakan Berbagi Makanan untuk Warga yang Isoman, Disebut Selangkah Lebih Maju dari Pemerintah

Kompas.com - 17/07/2021, 07:30 WIB
Warga membuat dapur umum untuk membantu mereka yang menjalani isolasi mandiri di Jawa Barat. ANTARA FOTOWarga membuat dapur umum untuk membantu mereka yang menjalani isolasi mandiri di Jawa Barat.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Sebanyak 60 ribuan orang dengan kasus aktif Covid-19 di Jawa Barat dengan berbagai gejala terpaksa isolasi mandiri (isoman) di rumah seiring keterbatasan kapasitas tempat isolasi dan rumah sakit.

"Saya bingung, kata dokter saya harus isoman. Pas lagi isoman nggak boleh ke mana-mana, kan isoman. Saya bingung cari makan, sedangkan saudara kena [Covid] juga istrinya. Jadi dia tidak bisa ke mana-mana juga," kata Naufal Rabani.

Naufal didiagnosa positif Covid-19 pada awal Juni lalu. Ia mengaku kebingungan memenuhi kebutuhan pokok harian.

Baca juga: Cerita Polisi Keliling Beri Sembako: Ada Tukang Bubur 10 Hari Isoman Tak Jualan, Kasihan...

Di satu sisi, dia harus tetap di rumah, namun di sisi lain tidak ada orang yang membantu memenuhi kebutuhan pokoknya, terutama perihal makan.

Satgas Covid-19 setempat dan tetangga di sekitar rumahnya tidak memberikan bantuan seperti yang diharapkan, padahal warga Cibeunying Kidul, Kota Bandung, ini sudah melapor ke pengurus RT/RW agar mendapat pertolongan.

"Saya mengontak rumah singgah [tempat isolasi], kondisinya juga penuh. Padahal kondisi saya OTG, isteri saya bergejala. Jadi harus di rumah. Saya bingung makan gimana," ujarnya kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin (12/7/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Juli 2021, 32 Pasien Covid-19 di Kulon Progo Meninggal Saat Isoman

"Saya kontak-kontak ke dokter puskesmas, katanya suruh orang lain saja. Saya nggak ada siapa-siapa di rumah. Malah dokter itu [bilang] saya yang lagi positif ini nggak apa-apa keluar, tapi memakai masker. Saya kaget juga, saya positif kenapa dokter nyaranin begitu," ungkap Naufal melalui sambungan telepon.

Terpaksa, Naufal pun keluar rumah untuk mencari makan buat dirinya dan sang istri. Naufal mengaku paham risiko penularan bila kontak dengan orang lain. Tapi, Naufal tak tahu harus berbuat apa lagi.

"Saya berjuang sendiri [selama isoman]," tutur Naufal yang sekarang sudah sembuh.

Naufal tak sendiri. Sebagian warga warga Bandung yang melakukan isoman kesulitan memenuhi kebutuhan pokok lantaran larangan keluar rumah. Mereka harus memikirkan bagaimana bisa makan, di tengah perjuangan untuk sembuh.

Baca juga: Kapal Pelni Jadi Tempat Isoman di Makassar, Intip Fasilitasnya...

'Selangkah lebih maju dari pemerintah'

Tim Gerakan Berbagi Makanan untuk Isoman sedang menyiapkan paket makan bagi pasien Covid 19 yang sedang isoman. Sebanyak 100 paket makanan disiapkan setiap hariGerakan Berbagi Makanan untuk Isoman Tim Gerakan Berbagi Makanan untuk Isoman sedang menyiapkan paket makan bagi pasien Covid 19 yang sedang isoman. Sebanyak 100 paket makanan disiapkan setiap hari
Naufal tidak seberuntung Mira Sari. Perempuan 36 tahun ini mendapat cukup bantuan dari berbagai pihak selama isoman.

Selain dari tetangga dan satgas setempat, Mira yang terpapar Covid-19 bersama suami dan ibunya ini, mendapat bantuan dari gerakan berbagi makanan bagi warga isoman yang digagas Nadya Rizki Amatullah dan kawan-kawan.

"Alhamdulillah, sangat membantu sekali karena makanan yang diberikan ini healthy food," ujar Mira.

Baca juga: Berisiko Tinggi, Pasien Positif Covid-19 di Bali Dilarang Isolasi Mandiri

Saat dinyatakan positif Covid-19, Mira sempat khawatir memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Terlebih lagi, di rumahnya ada dua anaknya yang masih kecil, juga dua orang lansia.

Beruntung warga Coblong, Kota Bandung, ini mendapat informasi ada gerakan berbagi makanan bagi warga isoman.

"Awalnya ada yang menghubungi, salah satu teman saya via WhatsApp, katanya suruh menghubungi [nomor penggagas gerakan] itu, nanti kalau ada rezekinya dari pihak itu bisa membantu."

Baca juga: Kisah Ahmad dari Sleman, Setiap Hari Kirimkan 1.000 Porsi Soto untuk Mereka yang Isolasi Mandiri

Penerima paket makanan dari Gerakan Berbagi Makanan untuk Isoman di Kota BandungGerakan Berbagi Makanan untuk Isoman Penerima paket makanan dari Gerakan Berbagi Makanan untuk Isoman di Kota Bandung
"Lalu suami saya menghubungi via WhatsApp, Alhamdulillah, direspons. Katanya, kirim hasil swab-nya, fotokopi KTP. Besoknya baru kita dapat bantuan," kata Mira.

Mira dan dua anggota keluarganya dinyatakan positif pada tanggal 1 Juli 2021.

Sehari setelahnya, dia sudah menerima bantuan berupa tiga nasi boks untuk makan siang dan malam, vitamin, dan kebutuhan lainnya. Bantuan itu, ujarnya, akan diterima hingga masa isomannya selesai.

Baca juga: Aplikasi Isoman untuk Warga Malang, Bisa Konsultasi Saat Isolasi Mandiri

Warga Kabupaten Bandung, Hendi Setiawan beruntung pula mendapat bantuan logistik selama isoman dari komunitas Solidaritas Sosial Bandung (SSB).

Hendi mendapat paket sembako, vitamin, susu, dan popok bayi. Bantuan itu membuatnya bisa melalui masa isoman dengan nyaman, di saat dia dan keluarga tidak mendapat bantuan dari warga sekitar rumahnya.

"Kalau dibilang membutuhkan, ya membutuhkan. Karena kan dari puskesmas itu cuma dikasih vitamin selama lima hari, dan setelah saya diperpanjang isolasi mandiri juga nggak dikasih vitamin lagi."

Baca juga: Aplikasi Isoman untuk Warga Malang, Bisa Konsultasi Saat Isolasi Mandiri

Box berisi soto, nasi dan lauk saat dipersiapkan untuk dikirimkan kepada warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di Kecamatan Sleman. Ahmad Mujahidin (42) warga Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman menyiapkan 1.000 paket soto untuk membantu warga yang isoman.KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA Box berisi soto, nasi dan lauk saat dipersiapkan untuk dikirimkan kepada warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di Kecamatan Sleman. Ahmad Mujahidin (42) warga Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman menyiapkan 1.000 paket soto untuk membantu warga yang isoman.
Meski begitu, Hendi mengaku tak memanfaatkan situasi. Dia hanya menerima bantuan untuk kebutuhan yang kurang saja.

"Susu, alhamdulillah, masih bisa beli. Tapi dibilang kurang, ya kurang. Karena mau minta tolong ke saudara, seperti kakak, orang tua, [mereka juga] sama juga, sedang isolasi mandiri."

"Belum pernah saya mendapat bantuan dari [warga] sini. Penyemprotan disinfektan juga tidak ada. Padahal banyak [yang positif]," kata Hendi.

Hendi berkata pernah mengakses fitur isoman di Pikobar Jabar, sebuah aplikasi ponsel yang berisi informasi Covid-19 di Jawa Barat, namun sampai saat ini bantuan obat dan vitamin belum diterimanya.

Baca juga: Kasus Meninggal Dunia Saat Isolasi Mandiri Meningkat, Ini Kata Dinkes DIY

"[Gubernur Jawa Barat] Ridwan Kamil ada obat gratis, bagi-bagi, saya sempat daftar, tapi udah beberapa hari ke belakang [daftarnya, sampai sekarang obatnya] belum sampai," ujar Hendi merujuk ke program bantuan suplemen vitamin dan obat yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pekan lalu.

Ayah dua anak itu mengapresiasi langkah komunitas SSB yang selangkah lebih maju dibanding pemerintah dalam membantu warga yang tengah isoman.

"Kan sekarang banyak yang isoman malah pusing, stress, takut, ini harus bagaimana nanti saya. Makanya saya apresiasi banget buat kegiatan seperti ini. Sebelum pemerintah turun, bisa dibilang komunitas ini sudah melangkah duluan."

"Yang saya tahu warung-warung ditutup, apa saja ditutup, tapi nggak mikirin orang-orang nanti gimana, buat cari makan susah. Itu mereka yang sehat, apalagi saya yang nggak bisa ke mana-mana," tutur Hendi.

Baca juga: 10.239 Warga Banten Tercatat Jalani Isoman, Polisi Sebar Ribuan Paket Sembako

Virus kebaikan, bukan virus corona

Tim Cegah Tangkal (Cekal) Corona Dompet Dhuafa sedang menyiapkan paket makanan bergizi untuk pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) di wilayah Jabodetabek.DOK. Humas Dompet Dhuafa Tim Cegah Tangkal (Cekal) Corona Dompet Dhuafa sedang menyiapkan paket makanan bergizi untuk pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) di wilayah Jabodetabek.
Akhir Juni tahun ini, Nadya Rizki Amatullah terpapar Covid-19 dengan gejala ringan sehingga dia memutuskan isoman di rumahnya di Jakarta.

Selama isoman, Nadya tidak terlalu kesulitan memenuhi kebutuhan harian lantaran suaminya negatif hingga bisa tetap beraktifitas.

Namun di hari keenam masa isoman, Nadya mulai memikirkan orang-orang yang sedang isoman, tapi tidak seberuntung dirinya, seperti anak kos atau supir ojek online yang menjadi tulang punggung keluarga.

Dari situlah, Nadya terpikir membantu orang-orang yang kesulitan saat menjalani isoman. Ia pun mengunggah ide tersebut di akun Instagramnya.

Baca juga: Cerita Ibu-ibu di Madiun, Meracik Bahan dari Pekarangan untuk Warga yang Isoman

"Saya kepikiran juga, kasihan kalau anak-anak kos yang kena [Covid-19]. Atau sopir ojol yang cari makan, dia yang kerja, makannya bagaimana. Sebenarnya cuma kepikiran dari situ saja."

"Akhirnya saya posting di Instagram. Alhamdulillah, saya sedang ada uang, kalau misalnya ada yang mau dibantu untuk makanan selama isoman, boleh DM saya. Kasih lihat bukti PCR dan KTP, maksudnya biar tahu benar atau enggak dia sedang isoman," papar Nadya.

Di luar dugaan Nadya, unggahan itu direspons banyak orang. Ada yang ingin menyumbang, membuat gerakan serupa di daerahnya, juga berkolaborasi.

Baca juga: Bantu Warga Isoman, Dokter Gratiskan Konsultasi, hingga Pemuda Blusukan Antar Makanan

Karyawan Resto Kalahari di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membungkus makanan untuk pasien Covid-19 yang sedang isolasi mandiri. Karyawan Resto Kalahari di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membungkus makanan untuk pasien Covid-19 yang sedang isolasi mandiri.
Dimulai oleh Nadya di Jakarta, gerakan ini mulai menular ke Bandung, Cibinong, Solo, dan Yogyakarta.

"Sebenarnya tidak menyangka jadi viral, karena memang awalnya benar-benar niat pribadi, terus makin ke sini orang banyak yang jiwa sosialnya tinggi tapi kadang-kadang mereka suka bingung mau bergerak dari mana. Itu banyak banget yang mau nyumbang.

"Untuk yang daerah Bandung saya cari-cari, akhirnya ada teman saya juga, yang mengusulkan bikin di daerah Bandung," ujar perempuan 37 tahun ini.

Hingga kini, sebanyak 130 orang dari Bandung dan Jakarta telah mendapat bantuan. Nadya menerapkan sistem orang tua asuh, yakni satu orang donatur membantu kebutuhan harian satu orang atau satu keluarga selama masa isoman.

Baca juga: Cerita Dokter Riyo Beri Layanan Konsultasi Gratis ke Pasien Covid-19 yang Isoman, Selama 24 Jam Terima 800 Pesan

Permintaan bantuan masih berdatangan melalui pesan langsung di akunnya. Karena keterbatasan, Nadya terpaksa menyeleksi penerima bantuan.

"Kalau yang masuk masih banyak, tapi yang memang kita pilih. Pertama, yang isomannya masih di awal-awal. Kedua, yang memang dia sendiri di sini, ngekos, terus yang dia kepala keluarga. Kalau yang masih punya saudara, kami tidak masukkan," katanya.

Melihat respon positif dari banyak orang atas gerakan ini, Nadya yakin banyak orang-orang baik di luar sana yang bisa saling membantu dan menularkan virus kebaikan.

Gerakan ini bisa diartikan pula sebagai itikad memberikan sesuatu yang bermanfaat dibanding mengeluhkan keadaan.

Baca juga: Kuliner Legendaris Toko You Bandung Gratiskan Mie Baso untuk Pejuang Isoman, Cukup WA ke Nomor Ini

"Saya cuma, sudah tidak usah nyinyir dengan keadaan, sudah seperti ini, mau bagaimana lagi. Yang penting kita bisa ngasih manfaat, dari pada kita komentar yang aneh di sosmed lebih baik menyebarkan manfaat dengan repost yang baik, berbuat yang baik," ungkapnya.

Nadya tidak memiliki target sampai kapan gerakan ini akan dilakukan.

"Mengalir saja selama masih ada rejekinya, teman-teman yang mau bantu juga masih ada, masih jalan terus," pungkas dia.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Warga yang Isoman, Kota Kediri Sediakan Situs Web

Tak mau bergantung donasi saja

Berbagai gerakan sosial bermunculan untuk meringankan beban warga yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19 serta bagi warga yang tengah menjalani isolasi mandiri.AJI STYAWAN/Antarafoto Berbagai gerakan sosial bermunculan untuk meringankan beban warga yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19 serta bagi warga yang tengah menjalani isolasi mandiri.
Minggu siang (11/7/2021), Dani Chrisdian baru selesai belanja kebutuhan bagi pasien Covid-19 yang isoman.

Kebutuhan berupa sembako, vitamin, dan logistik lainnya itu akan dikemas sore hari, sebelum diantar ke penerimanya.

Setiap hari, Solidaritas Sosial Bandung (SSB), komunitas di mana Dani menjadi relawan, mengirimkan sebanyak 20 hingga 30 paket logistik.

Paket-paket itu tidak hanya diantar di wilayah Kota Bandung saja, tapi hingga ke wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, seperti Ngamprah, Jayagiri, dan Majalaya.

Baca juga: Panglima TNI Pastikan Bantuan Paket Obat dan Vitamin Untuk Pasien Isoman di Bandung Tepat Sasaran

"Untuk pengiriman kita sesuaikan dengan ketersediaan tenaga kawan-kawan kurir. Kita pun saat ini kondisinya lumayan terbatas untuk antar ke rumah. Jadi dari data yang masuk biasanya kita pilih juga per area, berapa paket ke area Selatan, Barat, Timur, begitu teknisnya," kata Dani.

Karena keterbatasan, Dani menyebutkan, SSB baru bisa memenuhi separuh dari 275 jiwa yang mengajukan bantuan. Gerakan ini cakupannya menjadi luas lantaran infonya semakin sering dibagikan melalui sosial media.

Kondisi itu juga seiring semakin banyaknya warga yang isoman di rumah.

Baca juga: Keuangan Jabar Memburuk, Ridwan Kamil: Saya Harap PPKM Darurat Tak Berlangsung Lama

Sebanyak 60 unit ambulans dikerahkan untuk menjemput pasien isolasi mandiri dengan dikawal petugas kepolisian Polda Riau ditengah ditingginya kasus Covid 19 di Riau.Dok Polda Riau Sebanyak 60 unit ambulans dikerahkan untuk menjemput pasien isolasi mandiri dengan dikawal petugas kepolisian Polda Riau ditengah ditingginya kasus Covid 19 di Riau.
"Laporannya untuk saat ini tidak hanya logistik saja, tapi juga ketersediaan ruang isoman, oksigen, terus ambulan. Ya laporan [kebutuhan] seperti itu sudah lumayan masuk ke kami, tapi kami hanya bisa memberikan informasi dari teman-teman, kami lanjutkan [informasinya] saja."

"Laporan untuk oksigen, kami cukup kesulitan. Kemarin hampir dua hari mengantri belum dapat juga," tutur Dani.

Untuk satu keluarga yang isoman, Dani menyebutkan, pihaknya akan mendampingi minimal selama isoman atau 14 hari.

Baca juga: Masuk Kategori Hitam, Ini 3 Daerah di Jabar yang Disoroti Ridwan Kamil akibat Mobilitas Warganya Tinggi

Tapi jika ada warga yang masih positif setelah masa isoman selesai, SSB akan mengkaji ulang apakah pendampingan akan dilanjutkan atau tidak.

Komunitas SSB aktif berkegiatan sosial sejak pandemi Covid-19 tahun lalu.

Diawali dengan melakukan gerakan solidaritas pangan, yakni menginisiasi 15 dapur umum untuk membantu pekerja jalanan yang terdampak pandemi akibat kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Sedangkan kebijakan PPKM saat ini, membuat SSB menggeser fokus kegiatannya.

"Untuk kondisi PPKM sekarang, kita lebih fokus dengan kondisi rumah sakit yang full dan lain sebagainya. Jadi kita berpikir banyak warga yang sedang isoman di rumah dan mungkin [menyebabkan] banyak kendala dari warga yang isoman tentang distribusi kebutuhannya. Dari situlah kami muncul untuk mendampingi," ujar Dani.

Baca juga: Suara Para Korban Pungli Petugas Pemakaman TPU Bandung: Kalau Siang Diminta Rp 4 Juta, kalau Malam Jadi Rp 6 Juta...

Polda Banten membagikan ribuan paket sembako untuk pasien Covid-19 isolasi mandiri.Dok Humas Polda Banten Polda Banten membagikan ribuan paket sembako untuk pasien Covid-19 isolasi mandiri.
Kegiatan ini, lanjut Dani, didanai secara swadaya para relawan. Selain itu, dilakukan cara-cara kreatif penggalangan dana, misalnya menjual barang-barang sumbangan dari musisi, sablon donasi, atau membuat album kompilasi.

SSB juga berkolaborasi dengan ilustrator.

"Jadi si ilustrator berdonasi dalam bentuk gambar, akhirnya kita cetak [menjadi kaos], kita jual," ungkap Dani.

"Kalau misalkan terus mengandalkan donasi agak susah juga karena kita juga enggak tahu 'bensinnya' sampai kapan."

Baca juga: Penyebab Risma Marah ke ASN Balai Wyata Guna Bandung dan Ancam Pindahkan ke Papua

Tujuan dari gerakan sosial ini, menurut Dani, adalah merespon ketidakhadiran pemerintah dalam kondisi pandemi ini.

"Salah satunya itu, merespon ketidakhadiran pemerintah karena bicara pangan dan kesehatan menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhi semua warganya. Di luar itu pun kita jadi membangun kembali semangat gotong royong antar warga," tegas Dani.

Dani berharap, komunitas SSB bisa terus hadir membantu dan mendampingi warga yang membutuhkan selama pandemi Covid 19 yang entah kapan berakhir.

Wartawan Yuli Saputra di Kota Bandung, Jawa Barat, berkontribusi pada tulisan ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luewi Ili di Sungau Cileueur, Lokasi Susur Sungai yang Tewaskan 11 Siswa, Ada Hamparan Batu di Dasar Sungai

Luewi Ili di Sungau Cileueur, Lokasi Susur Sungai yang Tewaskan 11 Siswa, Ada Hamparan Batu di Dasar Sungai

Regional
Tiba di Blitar, Sandiaga Uno Sempatkan Lari Pagi di Pinggir Pantai

Tiba di Blitar, Sandiaga Uno Sempatkan Lari Pagi di Pinggir Pantai

Regional
Dramatis, Evakuasi 11 Siswa Tenggelam Korban Susur Sungai Ciamis, Warga Ikut Menyelam dan Bawa Obeng

Dramatis, Evakuasi 11 Siswa Tenggelam Korban Susur Sungai Ciamis, Warga Ikut Menyelam dan Bawa Obeng

Regional
Kronologi Susur Sungai Ciamis yang Diduga Tewaskan 11 Siswa, Berawal dari 21 Orang Terseret Arus

Kronologi Susur Sungai Ciamis yang Diduga Tewaskan 11 Siswa, Berawal dari 21 Orang Terseret Arus

Regional
Tak Terima Dinasehati karena Sering Mabuk Miras dan Lakukan KDRT, Anggota DPRD Sumba Tengah Diduga Aniaya Pendeta

Tak Terima Dinasehati karena Sering Mabuk Miras dan Lakukan KDRT, Anggota DPRD Sumba Tengah Diduga Aniaya Pendeta

Regional
Fakta Tragedi Susur Sungai Ciamis, 11 Siswa MTs Harapan Baru Tewas Diduga Terbawa Arus

Fakta Tragedi Susur Sungai Ciamis, 11 Siswa MTs Harapan Baru Tewas Diduga Terbawa Arus

Regional
Cerita Dokter RS Terapung Unair Jalankan Misi ke 12 Pulau Kecil di Sumenep, Berantas Hoaks hingga Vaksinasi 3.000 Warga

Cerita Dokter RS Terapung Unair Jalankan Misi ke 12 Pulau Kecil di Sumenep, Berantas Hoaks hingga Vaksinasi 3.000 Warga

Regional
[POPULER NUSANTARA] Tangisan Eks Kapolsek Percut Sei Tuan | Mahasiswa yang Dibanting Polisi Dibawa ke RS

[POPULER NUSANTARA] Tangisan Eks Kapolsek Percut Sei Tuan | Mahasiswa yang Dibanting Polisi Dibawa ke RS

Regional
11 Siswa MTs Harapan Baru Ciamis Tewas dalam Tragedi Susur Sungai, Ini Kata Bupati

11 Siswa MTs Harapan Baru Ciamis Tewas dalam Tragedi Susur Sungai, Ini Kata Bupati

Regional
Polisi Sebut MTs Harapan Baru Ciamis Tak Laporkan Kegiatan Susur Sungai yang Tewaskan 11 Siswa

Polisi Sebut MTs Harapan Baru Ciamis Tak Laporkan Kegiatan Susur Sungai yang Tewaskan 11 Siswa

Regional
Tragedi Susur Sungai Ciamis, Air Meluap dari Hulu dan Sapu 11 Siswa MTs Harapan Baru hingga Tewas

Tragedi Susur Sungai Ciamis, Air Meluap dari Hulu dan Sapu 11 Siswa MTs Harapan Baru hingga Tewas

Regional
Daftar Nama 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tewas Tragedi Susur Sungai Ciamis

Daftar Nama 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tewas Tragedi Susur Sungai Ciamis

Regional
Kronologi Ditemukannya Jenazah 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tragedi Susur Sungai Ciamis

Kronologi Ditemukannya Jenazah 11 Siswa MTs Harapan Baru Korban Tragedi Susur Sungai Ciamis

Regional
Gibran Sebut Pernyataan FX Rudy Tenangkan Kisruh Banteng Vs Celeng di PDI-P

Gibran Sebut Pernyataan FX Rudy Tenangkan Kisruh Banteng Vs Celeng di PDI-P

Regional
Diduga Aniaya Seorang Pendeta, Anggota DPRD Sumba Tengah Dilaporkan ke Polisi

Diduga Aniaya Seorang Pendeta, Anggota DPRD Sumba Tengah Dilaporkan ke Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.