Cerita Para Anak Muda Bertemu Teman Beda Agama, dari Bahai hingga Singh

Kompas.com - 21/06/2021, 06:07 WIB
Ertheo Siswadi (kanan) dengan Prem Singh (tengah) dan peserta lainnya dalam Peace Train Indonesia di kota Malang pada 2018. Dokumen Peace Train IndonesiaErtheo Siswadi (kanan) dengan Prem Singh (tengah) dan peserta lainnya dalam Peace Train Indonesia di kota Malang pada 2018.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Ratusan anak muda lintas agama dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti program Peace Train Indonesia atau Kereta Perdamaian guna mengalami langsung bertoleransi yang nyata.

Lima tahun silam, ketika Pemilihan Gubernur DKI Jakarta diwarnai isu agama yang menyebabkan perpecahan luar biasa di masyarakat, pendeta Frangky Tampubolon merasa gelisah.

Saat itu, Frangky — pegiat lintas iman dan kebinekaan — menyaksikan apa yang disebutnya sebagai kebencian tak berujung dari dua kutub yang saling bermusuhan.

Baca juga: Dosen UMM Wakili Indonesia di Program Toleransi Internasional

"Kenapa agama dibuat menjadi kekuatan menghancurkan?" ujar Frangky kepada BBC News Indonesia, awal Juni lalu.

"Saya enggak tahan, saya pun termasuk yang mengalami stress tinggi saat itu."

Dia khawatir polarisasi berlatar masalah politik ini tidak menyehatkan bagi upaya jangka panjang dalam penguatan kerukunan beragama dan perdamaian di Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Enggak ada ujungnya, dan penuh pikiran-pikiran sarkastik, menghujat. Nah, kalau kita ada di situ, akan semakin buruk," tambah pendeta kelahiran 1977 ini.

Baca juga: Festival Budaya Kalbis Institute: Toleransi Menjadi Kunci Persatuan

Peace Train Indonesia melibatkan anak-anak muda dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar agama berbeda.Dokumen Peace Train Indonesia Peace Train Indonesia melibatkan anak-anak muda dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar agama berbeda.
Di sinilah, Frangky dan sesama pegiat dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), kemudian menawarkan 'jalan ketiga' yaitu ruang jumpa baru yang tidak saling membenci.

"Intinya, kita tidak mau masuk dalam sebuah kutub antara pro-ini dan kontra-ini, sehingga orang punya kesadaran untuk membuat ruang jumpa baru yang tidak harus saling membenci," jelas Frangky.

Dalam percakapan dengan tiga pegiat lintas iman — Anick HT, Ahmad Nurcholish dan Destya Nawriz — lahirlah ide menggabungkan perjalanan berkeretaapi dan menguatkan kembali kerukunan beragama dan perdamaian.

"Lalu muncullah ide traveling dan menggunakan moda kereta api," kata Ahmad Nurcholish, salah-seorang inisiatornya. "Karena antar peserta bisa berinteraksi di dalam kereta."

Baca juga: Menilik Kembali 10 Kota di Indonesia yang Punya Nilai Toleransi Tertinggi

Peace Train Indonesia atau Kereta Api Perdamaian Indonesia, nama program itu, melibatkan anak-anak muda dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar agama berbeda.

Dalam program ini, Nurcholish dkk menginginkan agar para peserta dapat mengenalkan identitas masing-masing serta membagikan ajaran dan keunikan agamanya masing-masing.

"Jadi, selain ada ruang perjumpaan, ada dialog terbuka antar peserta dan orang-orang yang terlibat di kota tujuan," paparnya kepada BBC News Indonesia, pekan ketiga bulan lalu

Tujuan semua itu, lanjutnya, agar masing-masing dapat mengenali lebih mendalam. Hal itu dia tekankan karena sebagian masyarakat masih memiliki prasangka terhadap agama lain.

Baca juga: Merawat Toleransi di Hari Raya Kenaikan Isa Almasih dan Idul Fitri

"Ini bisa terjadi, karena tidak ada ruang perjumpaan sehingga tidak ada dialog untuk mengenal lebih mendalam dan lebih dekat," ujar Nurcholish.

Program Peace Train Indonesia awal mula digelar pada 2017 di kota Semarang, dan terakhir kali — yaitu ke-12 — dilangsungkan di kota Salatiga, pertengahan Maret 2021 lalu.

Anak-anak muda itu selama dua hari tiga malam tinggal bersama. Di kota tujuan, mereka berdialog, bertemu tokoh agama, serta mendatangi tempat-tempat ibadah — terkadang menginap di sana.

Baca juga: Indahnya Toleransi, Pemuda Kristen di Ambon Ikut Amankan Shalat Id

Dalam program itu, ada sesi diskusi yang membicarakan tema umum, namun tema-tema tertentu biasanya dibahas secara informal.

"Sehingga kami memberikan ruang yang agak luas bagi peserta untuk bisa berinteraksi secara personal. Sebisa mungkin memberi ruang informal, supaya kedekatan dan pertemanan mereka, terbangun.

"Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini enggan untuk ditanyakan itu tidak akan terjadi. Mereka bebas untuk menanyakan itu, karena sudah dekat, sudah akrab," papar Nurcholish.

Baca juga: Merawat Toleransi di Bulan Ramadhan, Umat Konghucu Bagikan 568 Paket Beras dan Angpau ke Warga Kurang Mampu

Bagaimana mengukur keberhasilan program?

Program Peace Train Indonesia awal mula digelar pada 2017 di kota Semarang, dan terakhir kali ? yaitu ke-12 ? dilangsungkan di kota Salatiga, pertengahan Maret 2021 lalu.Dokumen Peace Train Indonesia Program Peace Train Indonesia awal mula digelar pada 2017 di kota Semarang, dan terakhir kali ? yaitu ke-12 ? dilangsungkan di kota Salatiga, pertengahan Maret 2021 lalu.
Tetapi bagaimana mengukur keberhasilan program yang sudah berjalan lima tahun ini? Nurcholis dkk mengaku tidak berhenti di acara tersebut.

Mereka mendorong agar peserta, selain lantaran inisiatif sendiri, untuk menggelar acara serupa di daerahnya masing-masing.

"Ini untuk menjaga, karena bagaimanapun pemberitaan di seputar mereka itu tidak bisa kita pungkiri," kata Nurcholis

Dia kemudian memberikan contoh, ketika mereka pulang dari mengikuti Peace Train, ada kejadian bom bunuh diri di Makassar.

Baca juga: Bupati Garut Segel Pembangunan Masjid Ahmadiyah, YLBHI: Cederai Nilai Toleransi

"Saya bisa membayangkan bagaimana umat Katolik dan Kristen."

Namun demikian, Nurcholish terus menyimak pertemuan para alumni melalui daring dan pertemuan-pertemuan lanjutan.

"Nah di diskusi-diskusi informal itulah, dari yang saya simak, mereka bisa bersikap obyektif."

Dia kemudian menggarisbawahi bahwa program Peace Train sebagai program pembuka dan bukan "tujuan akhir".

Baca juga: Jadi Simbol Toleransi, Begini Keindahan Masjid Maria Bunda Yesus

"Ini pintu pertama, yang selanjutnya mereka harus meningkatkan melalui program yang lebih konkret," tambahnya.

Sementara, pendeta Frangky mengatakan pihaknya mendorong agar organisasi yang bergerak di lintas iman melibatkan para alumni PTI.

"Untuk menumbuhkembangkan mereka dalam ekosistem interfaith."

Mereka juga mempersiapkan program 'baru' yaitu sekolah kader perdamaian. "Mudah-mudahan bulan Juni ini terealisasi," kata pendeta.

Dan seperti apa perubahan cara berpikir para peserta sebelum dan setelah mengikuti acara ini? Berikut kesaksian enam orang alumni peserta program ini:

Baca juga: Grebeg Ramadhan, Pemberdayaan Ekonomi Berbalut Toleransi di Salatiga

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polda Jatim Pantau Aktivitas Calo Plasma Konvalesen di Media Sosial

Polda Jatim Pantau Aktivitas Calo Plasma Konvalesen di Media Sosial

Regional
Terlibat Jual Beli Surat PCR Palsu, Oknum PNS Ditangkap, Sudah Beraksi 5 Kali

Terlibat Jual Beli Surat PCR Palsu, Oknum PNS Ditangkap, Sudah Beraksi 5 Kali

Regional
Banyak Warga Termakan Hoaks, Keterisian Tempat Isolasi Pasien Covid-19 di Wonogiri Minim

Banyak Warga Termakan Hoaks, Keterisian Tempat Isolasi Pasien Covid-19 di Wonogiri Minim

Regional
Puluhan Orang di Garut Keracunan, Diduga akibat Makanan

Puluhan Orang di Garut Keracunan, Diduga akibat Makanan

Regional
Nakes Bertumbangan, RSUD Wates Buka Lowongan Perawat Besar-besaran

Nakes Bertumbangan, RSUD Wates Buka Lowongan Perawat Besar-besaran

Regional
Kronologi Seorang Pemuda Tewas Saat Latihan Silat, Berawal Dipukul Pelatih di Bagian Dada

Kronologi Seorang Pemuda Tewas Saat Latihan Silat, Berawal Dipukul Pelatih di Bagian Dada

Regional
Hadiah Rp 100 Juta untuk Desa yang Berhasil Pertahankan Wilayah Bebas Karhutla

Hadiah Rp 100 Juta untuk Desa yang Berhasil Pertahankan Wilayah Bebas Karhutla

Regional
Kisah Bagas, Atlet Panahan Asal Klaten di Olimpiade Tokyo, Warisi Bakat dari Ibu

Kisah Bagas, Atlet Panahan Asal Klaten di Olimpiade Tokyo, Warisi Bakat dari Ibu

Regional
Selama 6 Bulan Terakhir, 17 TKW Cianjur Bermasalah di Luar Negeri

Selama 6 Bulan Terakhir, 17 TKW Cianjur Bermasalah di Luar Negeri

Regional
WN Timor Leste Ditangkap karena Masuk Indonesia Secara Ilegal, Mengaku Menjenguk Keluarga

WN Timor Leste Ditangkap karena Masuk Indonesia Secara Ilegal, Mengaku Menjenguk Keluarga

Regional
Cerita di Balik Video Viral yang Kakek Berjam-jam Bingung di Lokasi Vaksinasi Massal

Cerita di Balik Video Viral yang Kakek Berjam-jam Bingung di Lokasi Vaksinasi Massal

Regional
Kuras Rp 75 Juta dari Tabungan Pacarnya, Driver Taksi Online Ditangkap

Kuras Rp 75 Juta dari Tabungan Pacarnya, Driver Taksi Online Ditangkap

Regional
Wawalkot Yogyakarta Minta Masyarakat Tak Mudah Termakan Hoaks soal Covid-19

Wawalkot Yogyakarta Minta Masyarakat Tak Mudah Termakan Hoaks soal Covid-19

Regional
Kapal Perintis Berhenti Beroperasi di Maluku, Begini Penjelasan Pelni

Kapal Perintis Berhenti Beroperasi di Maluku, Begini Penjelasan Pelni

Regional
Suami yang Siram Istrinya dengan Air Panas Ditangkap, Ini Motifnya

Suami yang Siram Istrinya dengan Air Panas Ditangkap, Ini Motifnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X