Kisah Harsono, Sukses Jual Cilok hingga Punya 3 Apartemen dan 13 Rumah Kontrakan

Kompas.com - 20/06/2021, 07:05 WIB
Harsono, pemilik cilok Edy saat berada di depan rombong cilok Edy di Kelurahan Tegalgede Kecamatan Sumbersarai Kabupaten Jember Kompas.com/Bagus SupriadiHarsono, pemilik cilok Edy saat berada di depan rombong cilok Edy di Kelurahan Tegalgede Kecamatan Sumbersarai Kabupaten Jember

JEMBER, KOMPAS.com – Di Jember, siapa yang tidak kenal dengan Cilok Edy.

Penjual cilok ini kerap ditemui di berbagai titik di kawasan kampus, seperti di depan kantor DPRD Jember, di depan kampus Universitas Jember dan Universitas Muhamadiyah Jember.

Tak hanya anak-anak yang menyukai Cilok Edy, namun juga mahasiswa hingga orang tua. Bahkan, Cilok Edy sempat memiliki beberapa cabang di Probolinggo dan Bondowoso.

“Dulu di Jember saja ada sepuluh rombong, sekarang tinggal empat rombong,” kata Harsono, pemiliki cilok Edy saat berbincang dengan Kompas.com di rumahnya Sabtu (19/6/2021).

Baca juga: Penjaga Pintu Air Hilang Diseret Buaya, Biasa Beri Makan dan Tak Pernah Usir Hewan Itu

Dalam sehari, Cilok Edy bisa menghasilkan Rp 5.000.000 dari empat rombong itu. Sebelum pandemi Covid-19, dia mampu meraup omset hingga Rp 8.000.000 per hari. Harsono memiliki karyawan sepuluh orang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lima orang berjualan langsung menggunakan rombong. Sedangkan lima orang lainnya bagian meracik dan memasak cilok.

Hasil dari berbisnis cilok, Harsono bisa membeli tiga apartemen, 13 rumah kontrakan hingga sawah. Bahkan, dia sudah menunaikan ibadah haji pada 2019 lalu.

 Produk cilok Edy di Kabupaten Jember yang dikembangkan oleh Harsono sejak tahun 1997 sampai sekarang  Kompas.com/Bagus Supriadi Produk cilok Edy di Kabupaten Jember yang dikembangkan oleh Harsono sejak tahun 1997 sampai sekarang

Kisah awal berjualan cilok

Cilok Edy merupakan usaha yang dilakukan oleh pasangan suami istri Harsono dan Siti Fatimah. Warga Kelurahan Tegalgede Kecamatan Sumbersari itu memulai usaha sejak tahun 1997 lalu.

Sebelum menekuni bisnis ini, Harsono merupakan tukang ojek dengan sepeda hasil kredit. Namun karena tidak mampu membayar, sepeda itu diambil dan uang mukanya dikembalikan.

“Akhirnya uang muka itu dibelikan becak,” ucap dia.

Baca juga: RSLI Surabaya Kembali Temukan Pasien Covid-19 Varian Delta, Hasil Tracing Pencegatan Suramadu

Penghasilan dari becak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya, dia dia juga sebagai honorer petugas kebersihan Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya Jember.

Ide awal berjualan cilok dari dari ayahnya yang juga berjualan cilok di Bali saat itu. Sementara di Jember, masih belum ada cilok yang bahannya terbuat dari daging, yang ada hanya dari tepung. Akhirnya, Harsono menangkap peluang itu dan mulai berjualan cilok.

Ketika ayahnya pulang dari Bali tahun 1997. Dia bersama istrinya menirukan bisnis bapaknya, yakni menjual cilok dari bahan daging sapi dicampur tepung.

“Modal awal dulu paling hanya Rp 20.000,” ungkap dia.

Uang itu untuk membeli daging lalu diolah oleh istrinya menjadi cilok. Kemudian, Harsono memasarkan cilok ke berbagai tempat.

Harsono berangkat pukul 06.30 WIB untuk berjualan cilok secara keliling. Terutama di sejumlah sekolah yang ada di Kecamatan Sumbersari hingga Kecamatan Kaliwates.

“Berangkat pagi, pulangnya habis isya’,” aku dia.

 

Pertama kali berjualan, cilok tidak terjual habis. Bahkan, ketika menjual ke sekolah, wali murid tidak memperbolehkan anaknya membeli cilok karena merupakan jenis makanan baru.

Semangat Harsono mulai berkurang karena penghasilan tak sesuai dengan harapan. Dia kembali memilih jadi tukang becak selama dua bulan. Namun sang istri memintanya untuk berjualan cilok lagi.

“Waktu itu, penghasilan becak hanya Rp 5000. Sedangkan berjualan cilok Rp 10 ribu,” tambah Siti Fatimah, istri dari Harsono.

Karena mendapat dorongan dari istri untuk bersabar, Harsono kembali menjual cilok secara keliling.

Perjuangan Harsono berjualan cilok secara keliling selama lima tahun membuahkan hasil. Nama Cilok Edy mulai dikenal masyarakat. Wali murid yang awalnya tak mau membeli, kini mulai ketagihan karena memiliki rasa yang berbeda.

Harsono semakin semangat, setiap pagi dia menjual cilok di SD, kemudian siang hari jam 13.00 berjualan di SMP, lalu sore hari berkeliling di daerah perkotaan, seperti alun-alun Jember. Selama lima tahun berkeliling, permintaan Cilok Edy semakin banyak.

Dulu, daging sapi yang digiling untuk bahan cilok hanya sekitar 1,5 kilogram. Namun sekarang sudah sampai 25 kilogram daging setiap harinya.

“Tapi sekarang dicampur dengan daging ayam, karena daging sapi cukup mahal,” papar dia.

Sekitar tahun 2000, Harsono memasang telepon rumah. Ketika cilok yang dijual sudah habis, Harsono tinggal menelpon istrinya untuk membuat lagi.

“Tahun 2000-an itu mulai dikenal, hingga ambil tenaga orang lain karena sudah tidak nutut,” terang dia.

Baca juga: Perjuangan Aldi, Anak Penggali Kubur yang Berjualan Cilok demi Beli HP untuk Sekolah Daring Kakaknya

Nama Cilok Edy mulai naik daun di kalangan warga perkotaan. Nama itu dipilih karena mudah diingat, meskipun tidak ada sangkut paut dengan dirinya.

Saat itu, Harsono hanya memiliki satu rombong keliling untuk menjual cilok. Dirinya ingin menambah armada, namun tidak memiliki modal.

Akhirnya dia memberanikan diri mengajukan kredit uang ke perbankan senilai Rp 15 juta.

Uang itu digunakan untuk membeli rombong Cilok Edy hingga memiliki lima rombong. Uang itu terus diputar untuk nenambah rombong samapi memiliki sepuluh rombong.

Tak hanya itu, permintaan untuk membuka cabang Cilok Edy terus berdatangan dari Probolinggo, Bondowoso dan Lumajang.

Hanya saja, cabang yang ada di luar kota tidak bertahan lama karena ada kecurangan dari pegawainya.

“Buka di luar kota, cuma penjaganya curang,” ujar dia.

Akhirnya ditarik dan tidak ada cabang di luar kota lagi.

Harsono mengatakan tantangan yang dihadapi yakni semakin banyak penjual cilok. Untuk itu, dia semakin meningkatkan cita rasa cilok.

Siti Fatimah selalu mengawasi proses pembuatan cilok agar mutunya tidak berubah.

Mulai dari rasa, besar kecilnya cilok dan lainnya. Selain itu, juga mengatur keuangan yang diperoleh dari dari penjualan cilok.

“Pandemi Covid-19 juga pengaruh, pembeli yang mayoritas mahasiswa jadi berkurang,” jelas dia.

 

Putar uang untuk investasi

Uang dari hasil penjualan cilok tak ditabung oleh Harsono dan istrinya. Namun, ia menggunakan uang itu untuk investasi. Seperti membeli rumah untuk dijadikan rumah kontrakan dan rumah kos.

Selain itu, juga digunakan untuk membeli sawah hingga apartemen.

“Sekarang apartemen punya tiga untuk disewakan, rumah ada 13 untuk dikontrakkan dan dikoskan,” jelas Harsono.

Caranya, Harsono meminjam uang ke bank, lalu membayar dari hasil penjualan cilok. Uang yang dipinjam dari bank itu digunakan untuk membeli aset. Mulai dari rumah, sawah hingga apartemen.

Sekarang, Harsono terus menggeluti usaha tersebut. Dia mengelola perputaran uangnya agar bisnisnya terus berlangsung.

“Intinya dalam memulai usaha, harus telaten dan sabar,” ucap dia.

Dia menilai memulai bisnis tidak bisa langsung sukses. Namun butuh proses agar sesuai dengan harapan.

“Harus bisa mengalami suka duka menekuni bisnis itu,” ucap dia.

 

Permudah pelaku UMKM dapat kredit

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang besar terhadap pelaku usaha di Jember. Salah satunya, akses permodalan dari perbankan yang semakin selektif.

Namun, PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) Jember memberikan kemudahan penjaminan dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Jamkrindo bekerjasama dengan perbankan untuk mendorong agar program PEN bisa berjalan dengan sukses.

“Kami menjembatani UMKM untuk mengakses permodalan dari sisi perbankan yang belum visibel namum sudah kapabel,” kata Kepala Kantor Unit Pelayanan PT Jamkrindo Jember Ilham Ardi Sugito.

Menurut dia, pelaku usaha di Jember yang mengajukan kredit pada perbankan untuk modal usaha fluktuatif. Pada Januari hingga Maret 2021 cukup tinggi. Namun sejak April hingga Mei 2021 menurun.

“Sampai saat ini kami di Jember ditarget kurang lebih Rp 3,2 Triliun untuk menjamin pembiyaan program PEN sampai Desember 2021,” jelas dia. Untuk itu, dia berharap agar para pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usahanya agar naik kelas, bisa memanfaatkan program PEN tersebut.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Itu Nge-BM Truk, Tren Berbahaya yang Nekat Dilakukan Sekelompok Remaja

Apa Itu Nge-BM Truk, Tren Berbahaya yang Nekat Dilakukan Sekelompok Remaja

Regional
Dirawat Sepekan, Bayi Dugong Penuh Luka yang Terdampar di Polewali Mandar Akhirnya Mati

Dirawat Sepekan, Bayi Dugong Penuh Luka yang Terdampar di Polewali Mandar Akhirnya Mati

Regional
Seorang Balita Tewas karena Tenggelam Saat Banjir di Palangkaraya

Seorang Balita Tewas karena Tenggelam Saat Banjir di Palangkaraya

Regional
Dinas Pendidikan Klaim Tak Ada Klaster Covid-19 akibat PTM di Gresik

Dinas Pendidikan Klaim Tak Ada Klaster Covid-19 akibat PTM di Gresik

Regional
Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Halmahera Barat, Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Halmahera Barat, Tidak Berpotensi Tsunami

Regional
Ingat, Akhir Pekan Ini Jalur Wisata ke Baturraden Diberlakukan Ganjil Genap, Ini Lokasinya

Ingat, Akhir Pekan Ini Jalur Wisata ke Baturraden Diberlakukan Ganjil Genap, Ini Lokasinya

Regional
Napi Kasus Korupsi Meninggal di Lapas, padahal Baru Akan Bebas Tahun Depan

Napi Kasus Korupsi Meninggal di Lapas, padahal Baru Akan Bebas Tahun Depan

Regional
Tersandung Kasus Korupsi, Wakil Bupati Lombok Utara: Mohon Doanya...

Tersandung Kasus Korupsi, Wakil Bupati Lombok Utara: Mohon Doanya...

Regional
Gara-gara Saling Ejek, Dua Perempuan Saling Jambak Rambut, Salah Satunya Luka Tersayat Pisau

Gara-gara Saling Ejek, Dua Perempuan Saling Jambak Rambut, Salah Satunya Luka Tersayat Pisau

Regional
Atap Rumah Tiba-tiba Roboh, 3 Warga Ponorogo yang Asyik Nonton Televisi Tertimpa

Atap Rumah Tiba-tiba Roboh, 3 Warga Ponorogo yang Asyik Nonton Televisi Tertimpa

Regional
Polisi Bantah Tangkap Pembentang Poster Saat Jokowi ke Cilacap, Ini Penjelasannya

Polisi Bantah Tangkap Pembentang Poster Saat Jokowi ke Cilacap, Ini Penjelasannya

Regional
'Bayar Pakai Apa Saja Silakan, yang Penting Jangan Ada yang Kelaparan'

"Bayar Pakai Apa Saja Silakan, yang Penting Jangan Ada yang Kelaparan"

Regional
Ciamis Cegah Klaster PTM, Satgas Patroli Prokes ke Sekolah Tiap Hari

Ciamis Cegah Klaster PTM, Satgas Patroli Prokes ke Sekolah Tiap Hari

Regional
Sopir Bus Sugeng Rahayu Diduga Mengantuk Saat Tabrak Truk Kontainer yang Terparkir

Sopir Bus Sugeng Rahayu Diduga Mengantuk Saat Tabrak Truk Kontainer yang Terparkir

Regional
Polisi Kantongi Identitas 2 DPO Perampok Toko Emas di Bandung, Diduga Kabur ke Sumatera

Polisi Kantongi Identitas 2 DPO Perampok Toko Emas di Bandung, Diduga Kabur ke Sumatera

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.