400 Tahun Hilang dari Peradaban, Rato Salu Maoge Pamona dari Kerajaan Tertua di Sulsel Bangkit Kembali

Kompas.com - 18/06/2021, 20:10 WIB
Malkan Frans Keayo Bouw dikukuhkan sebagai Tokoi Rato Salumaoge oleh Macoa Bawalipu ke-61 di Dusun Mabungka, Kecamatan mangkutana, kabupaten Luwu Timur, Kamis (17/06/2021) KOMPAS.com/MUH. AMRAN AMIRMalkan Frans Keayo Bouw dikukuhkan sebagai Tokoi Rato Salumaoge oleh Macoa Bawalipu ke-61 di Dusun Mabungka, Kecamatan mangkutana, kabupaten Luwu Timur, Kamis (17/06/2021)

 

LUWU TIMUR, KOMPAS.com - Setelah 400 tahun hilang dari peradaban, Kedatuan Luwu, yang merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, mengukuhkan pemangku adat ke-3 Rato Salu Maoge Pamona, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dengan gelar Tokoi Rato.

Menurut pemangku adat atau Tokoi Rato Salumaoge Malkan Frans Keayo Bouw, peradaban Rato Salu Maoge telah hilang ratusan tahun dan selama 70 tahun lembaga adatnya hilang bagai anak yang hilang ditelan masa dan kini bangkit kembali.

Kebangkitan ini akan dilakukan dengan menjaga tanah ulayat mereka.

“Lembaga adat kami hilang sekitar 70 tahun silam, bahkan tanah leluhur kami tidak terjamah sampai hari ini, jadi dengan dibangkitkannya kembali maka kami masyarakat Rato Salo Maoge iningin kembali mengisi tanah leluhur dan memanfaatkan kembali. Kami berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dapat membuka akses supaya kami bisa untuk masuk ke Rato supaya bisa diolah kembali dan membangun permukiman bahkan bisa memanfaatkan tanah dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Malkan saat dikonfirmasi, Jumat (18/6/2021).

Baca juga: Desersi, Anggota Polres Luwu Timur Diberhentikan Tidak dengan Hormat

Kondisi alam masyarakat adat Rato Salumaoge yang berada di pegunungan Luwu Timur, dipenuhi dengan sumber daya alam seperti hutan alam dengan faunanya masih terpelihara dan memiliki kearifan lokal tersendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kondisi ini mulai terancam dengan masuknya pemburu satwa liar berupa fauna khas Sulawesi yakni anoa, babirusa dan rusa.

“Ancaman kepunahan fauna seperti anoa, babirusa, dan rusa kini terancam dengan masuknya pemburu liar yang sekarang ini hampir setiap saat datang ke Rato untuk berburu untuk dijadikan dendeng. Untuk itu kami meminta kepada pihak petugas untuk memberikan kami perlindungan,” ujar Malkan.

Sejarawan Luwu Timur Musli Anwar mengatakan, prosesi pengukuhan Tokoi Rato Salu Maoge Pamona sempat hilang selama 400 tahun dan kini dapat bangkit kembali guna mengangkat kebudayaan dan mempersatukan kembali komunitas adat yang dipisahkan oleh wilayah administrasi.

“Penobatan tokoh Rato Salumaoge ini baru terjadi lagi setelah 400 tahun silam, di mana Rato adalah peradaban tua yang mempertemukan 2 etnis yang berbeda antara Pamona dan Wotu yang kemudian leluhurnya menyebar ke daerah Sulawesi Tengah,” tutur Musli.

Baca juga: Sopir Anggota DPRD Luwu Timur Kokang Pistol dan Pamer di FB, Ternyata Pinjam Milik Suami Majikan

Musli menambahkan bahwa adat kebiasaan sejak zaman leluhur mereka hingga kini masih lestari tentang bagaimana tatanan adat itu berjalan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Upaya BPBD Magelang Antisipasi Kekeringan Saat Musim Kemarau

Ini Upaya BPBD Magelang Antisipasi Kekeringan Saat Musim Kemarau

Regional
Stok Vaksin Covid-19 di Padang Panjang Habis, Bagimana Nasib Warga yang Belum Vaksin?

Stok Vaksin Covid-19 di Padang Panjang Habis, Bagimana Nasib Warga yang Belum Vaksin?

Regional
Satpol Solo Kesulitan Awasi Aturan Makan di Tempat Selama PPKM Level 4

Satpol Solo Kesulitan Awasi Aturan Makan di Tempat Selama PPKM Level 4

Regional
Stok Vaksin Mulai Menipis, Kadinkes Sumsel: Kita Sudah Teriak-teriak Agar Segera Dikirim

Stok Vaksin Mulai Menipis, Kadinkes Sumsel: Kita Sudah Teriak-teriak Agar Segera Dikirim

Regional
Stok Vaksin di Lhokseumawe Hanya Cukup untuk Satu Hari, Kiriman Kemenkes Tak Kunjung Tiba

Stok Vaksin di Lhokseumawe Hanya Cukup untuk Satu Hari, Kiriman Kemenkes Tak Kunjung Tiba

Regional
Usai Dituding Hamil Palsu, Pemilik Warkop yang Dianiaya Satpol PP Disebut Serobot Makam Pahlawan

Usai Dituding Hamil Palsu, Pemilik Warkop yang Dianiaya Satpol PP Disebut Serobot Makam Pahlawan

Regional
Angka Positif Covid-19 Anak Tembus 2.080 Kasus, IDAI Sumbar: Hati-hati Minta Sekolah Gelar Tatap Muka

Angka Positif Covid-19 Anak Tembus 2.080 Kasus, IDAI Sumbar: Hati-hati Minta Sekolah Gelar Tatap Muka

Regional
Cerita Kakek Syafarudin Ingin Dapat Vaksin, Kayuh Sepeda Pinjaman Puluhan Km, Viral Setelah Direkam Satgas IDI

Cerita Kakek Syafarudin Ingin Dapat Vaksin, Kayuh Sepeda Pinjaman Puluhan Km, Viral Setelah Direkam Satgas IDI

Regional
Wali Kota Blitar Pertanyakan Kepedulian Perusahaan Saat Pandemi Covid-19

Wali Kota Blitar Pertanyakan Kepedulian Perusahaan Saat Pandemi Covid-19

Regional
Ratusan Sopir Terkunci di Yalimo, Kapolda Papua: Kami Upayakan Pembukaan Akses

Ratusan Sopir Terkunci di Yalimo, Kapolda Papua: Kami Upayakan Pembukaan Akses

Regional
Pengusaha di Magelang Sumbang 1,05 Ton Telur untuk Nakes

Pengusaha di Magelang Sumbang 1,05 Ton Telur untuk Nakes

Regional
Wagub Banten: Saya Kehilangan 4 Anggota Keluarga karena Covid, Virus Ini Jangan Dianggap Sepele

Wagub Banten: Saya Kehilangan 4 Anggota Keluarga karena Covid, Virus Ini Jangan Dianggap Sepele

Regional
Pembagian BST Rp 600.000 Timbulkan Kerumunan, Camat: Keinginan Dapat Bansos Kalahkan Rasa Takut Covid-19

Pembagian BST Rp 600.000 Timbulkan Kerumunan, Camat: Keinginan Dapat Bansos Kalahkan Rasa Takut Covid-19

Regional
92 Persen Pasien Covid-19 di Gunungkidul Meninggal karena Belum Divaksin

92 Persen Pasien Covid-19 di Gunungkidul Meninggal karena Belum Divaksin

Regional
Kronologi 26 Penumpang Kapal Tepergok Bawa Sertifikasi Vaksin Palsu Senilai Rp 1,3 Juta

Kronologi 26 Penumpang Kapal Tepergok Bawa Sertifikasi Vaksin Palsu Senilai Rp 1,3 Juta

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X