Kisah Nenek Rubi, Sebatang Kara Tinggal di Rumah Reyot, Menangis Ingat Anak 10 Tahun Tak Pulang

Kompas.com - 13/06/2021, 12:04 WIB
Nenek Rubi (78) warga Desa Banjarejo, Kabupaten Magetan, terpaksa tinggal di rumah bantuan yang sudah reyot karena dindingnya roboh. Tinggal sebatang kara membuat Nenek Rubi berharap dua anaknya pulang setelah 10 tahun merantau ke Jakarta dan Semarang tanpa ada kabar. KOMPAS.com/SUKOCONenek Rubi (78) warga Desa Banjarejo, Kabupaten Magetan, terpaksa tinggal di rumah bantuan yang sudah reyot karena dindingnya roboh. Tinggal sebatang kara membuat Nenek Rubi berharap dua anaknya pulang setelah 10 tahun merantau ke Jakarta dan Semarang tanpa ada kabar.

MAGETAN, KOMPAS.com –  Langkah Nenek Rubi (78) sedikit terseok ketika ia memperlihatan sisa tembok bangunan bagian belakang rumahnya yang tinggal separuh karena runtuh saat hujan deras dua tahun lalu.

Di rumah yang hanya berukuran 4x6 meter itu terlihat, separuh tembok belakang dari bata merah sudah setengah rebah. Nenek Rubi pun berinisiatif menopang sisa tembok batu bata tersebut dengan beberapa bilah bambu.

"Hujannya waktu itu deras sekali, pondasinya tidak kuat akhirnya roboh karena tidak ada besinya.. Saya topang pakai bambu biar yang tersisa tidak roboh," ujarnya saat ditemui Kompas.com di rumahnya, di Desa Sidowayah, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Minggu (13/06/2021).

Rumah Nenek Rubi merupakan rumah yang terbuat dari bagian bawah tembok bata sementara separuh dinding ke atas terbuat dari kayu dan bambu.

Baca juga: Kisah Pilu Nenek Adriana Mawar, Tinggal di Gubuk Reyot, Makan Kadang dari Belas Kasih Tetangga

Rumah tersebut juga merupakan bantuan  TNI dan warga sekitar 9 tahun lalu. Sejak saat itu rumah tersebut tak  pernah tersentuh rehabilitasi sehingga kondisinya sangat memperihatinkan.

Tak memiliki uang untuk menutup tembok bagian belakang rumahnya yang roboh, Nenek Rubi hanya menutupnya dengan terpal kuning.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kondisi memprihatinkan juga terlihat dari bagian kamar yang hanya beralaskan tanah, sementara untuk tidur Nenek Rubi hanya memiliki kasur lepek di sudut kamar.

Bersebelahan dengan tempat tidur sejumlah gentong tempat menyimpan beras bersanding dengan kotak yang digunakan menyimpan benda lainnya.

Kondisi atap rumah Nenek Rubi juga memprihatinkan karena atap genting yang disangga bambu tersebut telah lapuk.

“Satu -ruangan yang tidak kena air pas hujan ya di kasur saja,” imbuhnya.

Baca juga: Curhat ke Dedi Mulyadi, Pelajar yang Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot Sampaikan Keinginan Ini

Tangan terkilir, Nenek Rubi hidup dari belas kasihan tetangga

Dua  tahun terkahir tangan kanan Nenek Rubi terkilir yang membuat dia tak lagi bisa bekerja sebagai buruh tani.

Tak lagi bisa bekerja membuat Nenek Rubi hanya bergantung dari bantuan pemerintah melalui bantuan pangan non tunai dan belas kasihan tetangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Satu satunya pekerjaan ang bisa dilakukan Nenek Rubi adalah menjadi buruh kupas bawang merah milik warga.

"Tangan  ini rasanya nyeri dan  lemas. Paling bisa kerja buruh mengupas bawang merah. Sehari kalau dapat 20 kilo upahnya Rp 10.000," katanya.

Di rumah kecilnya tersebut Nenek Rubi juga tidak memiliki kamar mandi ataupun WC.  Di memilih mandi dan buang air besar di sungai tak jauh dari umahnya.

“Mandi ya di sungai situ. Mau numpang tetangga takut merepotkan,” ucapnya.

Baca juga: Kisah Pilu Aida, Siswi SMK Hidup Sebatang Kara di Rumah Reyot, Ditinggal Kedua Orangtua Sejak Balita

 

Kades: ada pandemi, usul rehab rumah Nenek Rubi terbentur anggaran 

Kepala Desa Sidowayah Suyatno mengatakan, keberadaan Nenek Rubi memang sudah memprihatinkan beberapa tahun terakhir.

Dia mengaku hanya bisa membantu melalui bantuan pangan nontunai serta PKH untk menunjang kebutuhan hidupnya.

"Kalau kebutuhan sehari hari kita bantu melalui pangan nontunai atau PKH," katanya.

Terkait rumah Nenek Rubi yang reyot menurut Suyatno pemerintah Desa Sidowayah telah berupaya menyisihkan anggaran Rp 5 juta untuk merehab rumah Nenek Rubi.

Suyatno mengaku kondisi pandemi Covid-19 membuat pemerintah desa belum bisa membantu melakukan rehabilitasi rumah Nenek Rubi karena terbentur anggaran.

Ia juga belum bisa memastikan kapan akan melakukan rehab rumah nenek renta tersebut. "Kami juga sudah usulkan ke pemerintah daerah untuk dibantu,” imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Hal Soal Sekapuk, Desa Miliarder di Gresik yang Dulu Tertinggal, Kini Miliki 5 Mobil Mewah yang Dibeli Tunai

5 Hal Soal Sekapuk, Desa Miliarder di Gresik yang Dulu Tertinggal, Kini Miliki 5 Mobil Mewah yang Dibeli Tunai

Regional
Capaian Vaksinasi Rendah di Pandeglang, Ini Penjelasan Pemkab

Capaian Vaksinasi Rendah di Pandeglang, Ini Penjelasan Pemkab

Regional
Pratu Ida Bagus Putu Gugur Ditembak KKB di Papua, Sempat Bawa Ribuan Masker untuk Dibagikan

Pratu Ida Bagus Putu Gugur Ditembak KKB di Papua, Sempat Bawa Ribuan Masker untuk Dibagikan

Regional
'Saya Kira Pembunuh Saudara Saya Ini Sudah Mati, Tahu-tahunya Masih Hidup...'

"Saya Kira Pembunuh Saudara Saya Ini Sudah Mati, Tahu-tahunya Masih Hidup..."

Regional
Kades Nyentrik di Gresik Sulap Bekas Galian Tambang Batu Kapur Jadi Destinasi Wisata Setigi, Kini Jadi Desa Miliarder

Kades Nyentrik di Gresik Sulap Bekas Galian Tambang Batu Kapur Jadi Destinasi Wisata Setigi, Kini Jadi Desa Miliarder

Regional
Muncul Klaster Covid-19 di Sekolah di Jawa Tengah, Anggota DPRD Jateng: Stop Dulu PTM

Muncul Klaster Covid-19 di Sekolah di Jawa Tengah, Anggota DPRD Jateng: Stop Dulu PTM

Regional
Mengenal Nasi Boranan yang Sah Jadi Milik Kabupaten Lamongan

Mengenal Nasi Boranan yang Sah Jadi Milik Kabupaten Lamongan

Regional
Resmi Milik Kabupaten Lamongan, Apa Ciri Khas Soto Lamongan?

Resmi Milik Kabupaten Lamongan, Apa Ciri Khas Soto Lamongan?

Regional
Gubernur Viktor Usulkan Pembangunan Lab Kesehatan Hewan untuk Tangani Flu Babi Afrika di NTT

Gubernur Viktor Usulkan Pembangunan Lab Kesehatan Hewan untuk Tangani Flu Babi Afrika di NTT

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ibu di Jepara Dibunuh Anak Kandungnya | Pakaian Bekas dari Timor Leste Diselundupkan ke Indonesia

[POPULER NUSANTARA] Ibu di Jepara Dibunuh Anak Kandungnya | Pakaian Bekas dari Timor Leste Diselundupkan ke Indonesia

Regional
Ganjar Pranowo Soroti Klaster PTM Purbalingga: yang Tidak Lapor, Bubarkan!

Ganjar Pranowo Soroti Klaster PTM Purbalingga: yang Tidak Lapor, Bubarkan!

Regional
Di Balik Kasus Perusakan Batu Nisan Pemakaman Muslim di Sukoharjo, Ini Penjelasan Polisi

Di Balik Kasus Perusakan Batu Nisan Pemakaman Muslim di Sukoharjo, Ini Penjelasan Polisi

Regional
Sultan Jamaludin dari Angling Dharma Pandeglang Bangun 30 Rumah Warga, Gubernur Wahidin: Pemda Ribuan

Sultan Jamaludin dari Angling Dharma Pandeglang Bangun 30 Rumah Warga, Gubernur Wahidin: Pemda Ribuan

Regional
Polisi Sebut Uang Nasabah Rp 1,2 Miliar yang Dicuri Teller Sudah Diganti Pihak Bank

Polisi Sebut Uang Nasabah Rp 1,2 Miliar yang Dicuri Teller Sudah Diganti Pihak Bank

Regional
Foto-foto Perumahan Angling Dharma Pandeglang yang Sempat Heboh Dikira Kerajaan

Foto-foto Perumahan Angling Dharma Pandeglang yang Sempat Heboh Dikira Kerajaan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.