Warga Nekat Mudik, Mendagri Tito: Alih-alih Minta Maaf ke Orangtua, Kita Malah Berbuat Dosa Menularkan Virus

Kompas.com - 03/05/2021, 07:07 WIB
Mendagri Tito Karnavian saat memberikan paparan ketika meninjau langsung pelaksanaan vaksinasi massal di Dining Hall kompleks Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (31/3/2021). KOMPAS.com/AJI YK PUTRAMendagri Tito Karnavian saat memberikan paparan ketika meninjau langsung pelaksanaan vaksinasi massal di Dining Hall kompleks Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (31/3/2021).

PALEMBANG, KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjelaskan, dari hasil survei, sekitar 33 persen warga akan tetap mudik ketika tidak ada larangan.

Namun, ketika muncul pengetatan, ada 11 persen yang tetap mudik. Kemudian, saat pengetatan berlangsung sekitar 7 persen yang lolos.

Padahal, di India, ada kasus yang menurutnya bisa jadi bahan pembelajaran, yakni tsunami Covid-19. Tsunami Covid-19 yaitu penyebaran virus yang sudah tak terkendali.

Penyebabnya, warga India abai dalam menjalankan protokol kesehatan ketika melaksanakan rangkaian kegiatan keagaamaan.

Akibatnya, kini angka kematian di India sudah mencapai 3.000 kasus dalam sehari.

Baca juga: Gubernur Sumsel Sempat Tak Larang Mudik, Mendagri: Ini Bukan Terkait Keagamaan tapi Soal Protokol Kesehatan

"Ini bukan terkait keagamaan, tetapi terkait ketaatan kita menjalani protokol kesehatan. Alih-alih ingin meminta maaf kepada orangtua, kita malah berbuat dosa karena menularkan virus kepada mereka,” ujar Tito saat berkunjung di Palembang, Minggu (2/5/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tito pun menegur keras semua kepala daerah agar mengingatkan warganya untuk tidak mudik menjelang Lebaran lantaran saat ini kondisi pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Menurut Tito, semua kepala daerah harus memiliki narasi yang sama dengan pemerintah pusat sehingga potensi risiko penularan Covid-19 dapat dicegah.

"Aturan ini sudah titik, tidak ada lagi koma. Apalagi makna tersirat memperbolehkan (mudik). Sudah dilarang saja masih ada yang nekat mudik, apalagi diperbolehkan," kata Tito.

Baca juga: Larangan Mudik Jadi Lebih Awal Mulai 22 April, Doni Monardo: Tahan Dulu Kerinduannya

Ia meminta para kepala daerah menggandeng tokoh agama dan masyarakat agar ikut menyuarakan soal larangan mudik. Terlebih lagi, kawasan zona merah yang angka penularannya cukup tinggi.

"Daerah juga jangan membuat acara yang bisa menimbulkan kerumunan, buka puasa bersama atau open house," ungkapnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Momen Siswi SMP Ketakutan dan Gemetaran Saat Divaksin, Begini Reaksinya Setelah Disuntik

Momen Siswi SMP Ketakutan dan Gemetaran Saat Divaksin, Begini Reaksinya Setelah Disuntik

Regional
Video Viral, Pengendara Moge Selamat Saat Motornya Tiba-tiba Terbakar di Jalur Bromo

Video Viral, Pengendara Moge Selamat Saat Motornya Tiba-tiba Terbakar di Jalur Bromo

Regional
Polisi Berlakukan One Way di Jalur ke Puncak Bogor, Kendaraan yang Hendak Naik Ditahan

Polisi Berlakukan One Way di Jalur ke Puncak Bogor, Kendaraan yang Hendak Naik Ditahan

Regional
Vaksinasi Covid-19 di Aceh Utara Baru 17 Persen

Vaksinasi Covid-19 di Aceh Utara Baru 17 Persen

Regional
Polisi Periksa 8 Saksi Terkait Tenggelamnya Kapal Pengayoman IV di Perairan Nusakambangan

Polisi Periksa 8 Saksi Terkait Tenggelamnya Kapal Pengayoman IV di Perairan Nusakambangan

Regional
Perahu Tenggelam Dihantam Gelombang di Perairan Tual, 2 Penumpang Hilang

Perahu Tenggelam Dihantam Gelombang di Perairan Tual, 2 Penumpang Hilang

Regional
Kantor LBH Yogyakarta Diteror dengan Bom Molotov

Kantor LBH Yogyakarta Diteror dengan Bom Molotov

Regional
Khofifah: Jatim Satu-Satunya Provinsi Level 1 PPKM, Tetap Disiplin Protokol Kesehatan

Khofifah: Jatim Satu-Satunya Provinsi Level 1 PPKM, Tetap Disiplin Protokol Kesehatan

Regional
Akhir Cerita 4 Penipu Pemburu 'Cashback' di Banten, Sudah Raup Rp 400 Juta

Akhir Cerita 4 Penipu Pemburu "Cashback" di Banten, Sudah Raup Rp 400 Juta

Regional
Komplotan Pencuri Kabel Tepergok Polisi Saat Beraksi, Seorang Pelaku Ditangkap Usai Ditinggal Kabur Rekannya

Komplotan Pencuri Kabel Tepergok Polisi Saat Beraksi, Seorang Pelaku Ditangkap Usai Ditinggal Kabur Rekannya

Regional
Upaya Eri Cahyadi Cegah Banjir di Surabaya, Keruk Endapan Saluran hingga Bangun Bozem

Upaya Eri Cahyadi Cegah Banjir di Surabaya, Keruk Endapan Saluran hingga Bangun Bozem

Regional
Mantan Pramugari Histeris Saat Sidang, Dianiaya Suami karena Pinjaman Online, Mengaku untuk Kebutuhan Keluarga

Mantan Pramugari Histeris Saat Sidang, Dianiaya Suami karena Pinjaman Online, Mengaku untuk Kebutuhan Keluarga

Regional
Polisi Terapkan Ganjil Genap di Jalur Menuju Lembang

Polisi Terapkan Ganjil Genap di Jalur Menuju Lembang

Regional
Jadi Tersangka, 5 Pelajar yang Terlibat Tawuran di Borobudur Tidak Ditahan, Ini Alasannya

Jadi Tersangka, 5 Pelajar yang Terlibat Tawuran di Borobudur Tidak Ditahan, Ini Alasannya

Regional
Profil dan Sejarah Kota Blitar

Profil dan Sejarah Kota Blitar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.