Kejari Blora Sita Uang Rp 865 Juta Terkait Dugaan Pungli di Pasar Induk Cepu

Kompas.com - 28/04/2021, 18:41 WIB
Kantor Kejaksaan Negeri Blora yang terletak di Jalan A. Yani, Blora KOMPAS.com/ARIA RUSTA YULI PRADANAKantor Kejaksaan Negeri Blora yang terletak di Jalan A. Yani, Blora

BLORA, KOMPAS.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora menyita uang sebanyak Rp 865 juta terkait kasus dugaan pungutan liar (pungli) di Pasar Induk Cepu.

Kasi Intel Kejari Blora Muhammad Adung mengatakan, penyitaan uang tersebut dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB sore tadi.

"Tim penyidik Pidsus Kejari Blora dipimpin oleh Kasi Pidsus, Rendy, melakukan penyitaan untuk kepentingan penyidikan uang sebesar Rp 865 juta dari kas daerah Kabupaten Kabupaten (Pemkab) Blora yang diduga berkaitan dengan kasus pungutan liar pada penempatan kios Pasar Cepu," ucap Adung kepada Kompas.com, Rabu (28/4/2021).

Baca juga: Bupati Blora Turun Tangan Atasi Permasalahan Dana CSR untuk Masyarakat

Uang hasil penyitaan tersebut kemudian diamankan ke rekening Kejari Blora yang ada di salah satu bank pemerintah.

"Posisi uang tersebut telah disetor dan dititipkan di rekening titipan Kejari Blora di BRI Cabang Blora," katanya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada saat kejari melakukan proses penyitaan tersebut, turut disaksikan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Blora, Slamet Pamudji.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Blora Slamet Pamudji alias Mumuk mengatakan, pihak kejaksaan telah berkoordinasi untuk menyita uang tersebut pada minggu lalu.

"Prosesnya sudah minggu lalu, jadi permintaan itu dari kejaksaan dan kita juga kaji dari bagian hukum dan teman-teman lain, mekanismenya seperti apa, dan ini juga baru pertama kali, makanya saya harus hati-hati juga," kata Mumuk.

Baca juga: Bupati Blora Lobi Lion Air agar Buka Jalur Penerbangan ke Bandara Ngloram

Menurutnya, uang hasil dugaan pungli yang telah masuk ke kas daerah tidak boleh diakui sebagai pendapatan.

Sehingga Pemkab Blora tidak berhak untuk menggunakan uang yang dianggap tidak sah tersebut.

"Jadi secara prinsip ya karena itu kami enggak tahu asal-usulnya, makanya ketika itu sebagai barang bukti ya saya pikir hanya masalah mekanisme bagaimana cara mengeluarkannya," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejari Blora telah menaikkan status penyelidikan ke penyidikan terkait pungli jual beli kios di Pasar Induk Cepu.

Sejumlah orang pun dipanggil untuk dimintai keterangannya. Mulai dari Pejabat Dindagkop dan UMKM Blora, Bagian Hukum Sekda Blora, pedagang, kepala UPT Pasar wilayah II, kepala dan bendahara Pasar Cepu, hingga pihak BPPKAD Kabupaten Blora.

Besaran uang yang ditarik dari pedagang untuk kios bervariasi mulai dari Rp 30 juta, Rp 60 Juta dan Rp 75 juta.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Stok Vaksin di Kabupaten Belitung Habis, Vaksinasi Dihentikan Sementara

Stok Vaksin di Kabupaten Belitung Habis, Vaksinasi Dihentikan Sementara

Regional
Banyuwangi Belum Larang Hajatan, Bupati: Nanti Ekonomi Berpengaruh

Banyuwangi Belum Larang Hajatan, Bupati: Nanti Ekonomi Berpengaruh

Regional
Dinkes Sebut Sudah Terjadi Transmisi Lokal Covid-19 Varian Delta di Jawa Timur

Dinkes Sebut Sudah Terjadi Transmisi Lokal Covid-19 Varian Delta di Jawa Timur

Regional
Penjelasan Polisi soal Sindikat Pencurian Anjing di Jayapura, Dijual Rp 500.000 Per Ekor

Penjelasan Polisi soal Sindikat Pencurian Anjing di Jayapura, Dijual Rp 500.000 Per Ekor

Regional
Sapa Aruh Sultan HB X: Implementasi PPKM Mikro Belum Berjalan Maksimal

Sapa Aruh Sultan HB X: Implementasi PPKM Mikro Belum Berjalan Maksimal

Regional
Jual Organ Harimau, Pria di Bengkulu Ditangkap Polisi, Barang Bukti dari Kulit hingga Kepala Disimpan di Kardus

Jual Organ Harimau, Pria di Bengkulu Ditangkap Polisi, Barang Bukti dari Kulit hingga Kepala Disimpan di Kardus

Regional
Massa Rusak Pagar Pembatas Jembatan Suramadu Sisi Surabaya, Polisi: Akan Diproses Hukum

Massa Rusak Pagar Pembatas Jembatan Suramadu Sisi Surabaya, Polisi: Akan Diproses Hukum

Regional
Varian Delta Masuk Jabar, Kasus Terbanyak di Karawang, Ini Kata Ridwan Kamil

Varian Delta Masuk Jabar, Kasus Terbanyak di Karawang, Ini Kata Ridwan Kamil

Regional
Pengendara yang Melintas di Suramadu Wajib Tunjukkan SIKM dan SKS, atau Harus Pilih Ini

Pengendara yang Melintas di Suramadu Wajib Tunjukkan SIKM dan SKS, atau Harus Pilih Ini

Regional
Viral, Video 100 Pengendara Terobos Pemeriksaan Swab dan Dorong Petugas di Pos Penyekatan Suramadu, Ini Penjelasan Satgas Covid-19

Viral, Video 100 Pengendara Terobos Pemeriksaan Swab dan Dorong Petugas di Pos Penyekatan Suramadu, Ini Penjelasan Satgas Covid-19

Regional
Kasus Covid-19 Sumedang Naik, Mantan Napi Terorisme Ikut Terpapar dan Meninggal

Kasus Covid-19 Sumedang Naik, Mantan Napi Terorisme Ikut Terpapar dan Meninggal

Regional
Brimob Gadungan Ditangkap Setelah Bawa Kabur Mobil Korban, Ini Modusnya

Brimob Gadungan Ditangkap Setelah Bawa Kabur Mobil Korban, Ini Modusnya

Regional
Mati Mendadak, 1,5 Ton Ikan Nila di Waduk Gajah Mungkur Dikubur, Pemilik Rugi Puluhan Juta Rupiah

Mati Mendadak, 1,5 Ton Ikan Nila di Waduk Gajah Mungkur Dikubur, Pemilik Rugi Puluhan Juta Rupiah

Regional
8 Kabupaten dan Kota di NTT Dilanda Kekeringan Ekstrem

8 Kabupaten dan Kota di NTT Dilanda Kekeringan Ekstrem

Regional
Dibebaskan Polisi, Pemuda yang Tantang Pegang Mayat Pasien Covid Minta Maaf dan Mengaku Menyesal

Dibebaskan Polisi, Pemuda yang Tantang Pegang Mayat Pasien Covid Minta Maaf dan Mengaku Menyesal

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X