Kisah Nurzein, Bocah Lulusan SD Jajakan “Borondong Beledug” demi Bantu Biaya Sekolah Adik hingga Kuliah

Kompas.com - 20/04/2021, 04:00 WIB
Nurzein, bocah 14 tahun bertemu Dedi Mulyadi saat anak yatim itu menjajakan berondong beledug di Purwakarta, Jawa Barat, pada 13 April lalu. Dok Dedi MulyadiNurzein, bocah 14 tahun bertemu Dedi Mulyadi saat anak yatim itu menjajakan berondong beledug di Purwakarta, Jawa Barat, pada 13 April lalu.

BANDUNG, KOMPAS.com - Dedi Mulyadi, anggota DPR RI yang juga mantan Bupati Purwakarta mengaku sangat kagum dengan kegigihan seorang bocah bernama Nurzein (14).

Dedi mengaku tidak sengaja bertemu Nurzein di jalan raya di daerah Purwakarta. Saat itu, Nurzein tengah memikul dua kantung plastik besar berisi makanan "borondong beledug" (sejenis popcorn) khas Jawa Barat.

Meski bertubuh kecil, Nurzein ternyata sangat kuat. Dia mampu berjalan puluhan kilometer untuk menjajakkan borondong beledug dagangannya dengan cara dipikul. Sesekali ia juga naik mobil angkutan umum untuk berjualan cemilan tersebut.

"Tubuh Nurzein memang kecil, dia baru berusia 14 tahun. Akan tetapi, semangat dan kekuatannya mengalahkan orang bertubuh besar. Dia berasal dari Pasir Jambu, Cianjur. Sang ayah sudah meninggal dan ibunya menikah lagi," kata Dedi saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/4/2021).

Baca juga: Perjuangan Regina Merawat Suami yang Lumpuh, Banting Tulang Menghidupi Keluarga

Dedi sempat bercengkrama dengan Nurzein dan aksi itu direkam video hingga diunggah ke akun YouTube dan Facebook Dedi Mulyadi.

Dedi mengaku kaget ketika mengetahui bahwa Nurzein saat ini tinggal di Ciwidey, Kabupaten Bandung, namun bisa berjualan ke Purwakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk diketahui, jarak dari Ciwidey ke Purwakarta mencapai 87 kilometer. Nurzein menaiki angkutan umum dan selebihnya berjala kaki.

Menurut Dedi, jika dagangannya banyak, dia bahkan bisa berjualan sampai ke Karawang yang jaraknya mencapai 117 kilometer dari Ciwidey.

"Nurzein hidup mandiri dengan mengontrak rumah di Ciwidey, Bandung. Di kontrakan itulah dia membuat borondong beledug. Dia menjualnya sendiri dengan berkeliling di Purwakarta, Subang dan Karawang. Kadang, dia berjalan sampai Garut dan Tasikmalaya," ungkapnya.

Dedi mengatakan, menurut pengakuan Nurzein, untung yang didapat dari jualan borondong beledung ternyata tidak terlalu besar.

"Dalam satu minggu, 4 kali biasanya dia menjelajah menapakan kaki di tengah terik matahari. Jika dagangannya habis, dia bisa mendapatkan keuntungan Rp 100.000. Uang keuntungan itu dia tabung," tuturnya.

Bertambah kaget Dedi ketika diketahui uang keuntungan penjualan borondong beledug yang tidak seberapa, ternyata juga disisihkan untuk menghidupi neneknya serta membiayai sekolah adiknya yang tinggal di Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.

Sisanya, lanjut Dedi, Nurzein tabungkan untuk menggapai mimpinya yang sangat sederhana.
"Cita-citanya sangat mulia yakni ingin naik haji, membuka toko dan membangun masjid. Tabungannya kini baru berjumlah Rp 6 juta saja. Sebagian uang keuntungan dagang dia gunakan untuk perawatan neneknya juga biaya sekolah sang adik di Pasir Jambu," bebernya.

Dedi tidak mampu membendung air matanya ketika mengetahui bahwa Nurzein masih sanggup menjalankan ibadah puasa meski harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari nafkah.

"Spirit Ramadhan membuat jiwanya menjadi semakin kuat. Ibadah puasa tidak menjadikan halangan baginya untuk terus berkeliling. Semoga Nurzein menjadi pengusaha besar, sebesar pikiran dan harapannya," tandasnya.

Ingin bantu adik hingga kuliah

Dedi mengatakan, Nurzein sudah ditinggal ayahnya meninggal sejak ia masih berada di dalam kandungan dengan usia 3 bulan. Ibunya melahirkan Nurzein di rumah sang nenek.

Sebulan setelah melahirkan Nurzein, sang ibu pergi bekerja menjadi pembantu lalu menikah lagi. Setelah itu, kata Dedi, Nurzein diurus oleh neneknya.

“Anak itu tumbuh menjadi mandiri karena keprihatinan hidupnya. Sejak belajar di kelas 1 SD, ia sudah bekerja membuat berondong beledug. Dia belerja dengan upah Rp 1 juta per bulan,” kata Dedi.

Setelah kelas 3 SD, Nurzein menjadi penjual makanan ringan seperti kacang polong dan lainnya. Ia berjualan cemilan itu sampai tamat SD.

Setelah tamat SD, Nurzein berjualan kerupuk yang dikirim dari bos kerupuk asal Cianjur. Ia berangkat dari rumahnya di Desa simpang, Kecamatan Pasir Kuda ke Kota Cianjur dengan menempuh perjalanan 3 jam naik mobil angkuan umum. Ia berangkat pukul 07.00 pagi dan sampai Kota Cianjur pukul 10.00. Lalu ia pulang pukul 19.00 dan sampai rumah pukul 22.00.

Ia melakoni usaha jualan itu selama setahun.

Setelah itu, Nurzein pindah berjualan ke Ciwidey, Kabupaten Bandung. Karena merasa capek harus pulang-pergi, Nurzein akhirnya menyewa sebuah rumah dengan biaya Rp 500.000 per bulan.

“Di rumah kontrakan itu, Nurzein membuat berondong sendiri, berjualan keliling Ciwidey sampai dia mampu menyewa kios untuk berjualan pulsa, minuman ringan dan makanan kecil,” kata Dedi.

Baca juga: Perjuangan Aldi, Anak Penggali Kubur yang Berjualan Cilok demi Beli HP untuk Sekolah Daring Kakaknya

Dedi mengaku kagum dengan perjuangan hidup remaja 14 tahun itu. Hal yang paling menginspirasinya adalah cita-cita Nurzein membantu biaya pendidikan sang adik hingga sampai kuliah di perguruan tinggi.

“Selain menafkahi neneknya, Nurzein juga bercita-cita membantu biaya adiknya hingga kuliah. Itu yang paling menginspirasi,” ujar Dedi.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Miris, Agus Pensiunan Polisi Kini Mengemis Jadi Manusia Silver, Bawa Kotak Sedekah ke Mana-mana

Miris, Agus Pensiunan Polisi Kini Mengemis Jadi Manusia Silver, Bawa Kotak Sedekah ke Mana-mana

Regional
Kisah Para Petani di Ngawi Jadi Penembak Hama Tikus, 1 Orang Bisa Dapat 100 Ekor

Kisah Para Petani di Ngawi Jadi Penembak Hama Tikus, 1 Orang Bisa Dapat 100 Ekor

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 26 September 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 26 September 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 September 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 September 2021

Regional
Perahu Ditabrak Kapal Kargo hingga Terbalik, 2 Nelayan Hilang

Perahu Ditabrak Kapal Kargo hingga Terbalik, 2 Nelayan Hilang

Regional
Sambil Menahan Tangis, Ayah Sebut Bharada Kurniadi yang Gugur di Papua Ingin Menikah Desember

Sambil Menahan Tangis, Ayah Sebut Bharada Kurniadi yang Gugur di Papua Ingin Menikah Desember

Regional
Ini Daerah Tanpa Hujan Terpanjang di NTT, Paling Lama 169 Hari

Ini Daerah Tanpa Hujan Terpanjang di NTT, Paling Lama 169 Hari

Regional
Pria Bakar Rumah Sendiri, Diduga Gangguan Jiwa

Pria Bakar Rumah Sendiri, Diduga Gangguan Jiwa

Regional
Mengaku Hamil, Remaja Putri di Kediri Diracun Pacarnya hingga Tewas di Lapangan Voli

Mengaku Hamil, Remaja Putri di Kediri Diracun Pacarnya hingga Tewas di Lapangan Voli

Regional
3 Bocah SD Seberangi Sungai dengan Kotak Busa, Pemda OKI: Biasa Itu, Masalah Kecil Dibesar-besarkan Jadi Besar

3 Bocah SD Seberangi Sungai dengan Kotak Busa, Pemda OKI: Biasa Itu, Masalah Kecil Dibesar-besarkan Jadi Besar

Regional
Nasib Pemburu Salah Sasaran, Dikira Tembak Babi Ternyata Manusia, Kini Ditahan dan Jadi Tersangka

Nasib Pemburu Salah Sasaran, Dikira Tembak Babi Ternyata Manusia, Kini Ditahan dan Jadi Tersangka

Regional
Laga Eksebisi PON XX Papua, Lampung Raih Medali Terbanyak Cabor Hapkido

Laga Eksebisi PON XX Papua, Lampung Raih Medali Terbanyak Cabor Hapkido

Regional
Bersitegang dengan Masyarakat Adat di Lokasi Pembangunan Waduk Lambo, Ini Kata Polisi

Bersitegang dengan Masyarakat Adat di Lokasi Pembangunan Waduk Lambo, Ini Kata Polisi

Regional
19 Tahun Jadi Polisi dan Pensiun, Agus Kini Mengemis Menjadi Manusia Silver karena Impitan Ekonomi

19 Tahun Jadi Polisi dan Pensiun, Agus Kini Mengemis Menjadi Manusia Silver karena Impitan Ekonomi

Regional
Gedung Meranti RSKD Dadi Makassar Terbakar, 39 Pasien Dipindahkan

Gedung Meranti RSKD Dadi Makassar Terbakar, 39 Pasien Dipindahkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.