Bayi di Riau Ini Menderita "Omphalocele", Lahir dengan Organ Perut di Luar, Butuh Uluran Tangan Dermawan

Kompas.com - 11/04/2021, 12:04 WIB
M Fareski, bayi berusia 27 hari yang mengidap penyakit Omphalocele butuh uluran tangan, beredar di media sosial, Sabtu (10/4/2021). Dok. IstimewaM Fareski, bayi berusia 27 hari yang mengidap penyakit Omphalocele butuh uluran tangan, beredar di media sosial, Sabtu (10/4/2021).

PEKANBARU, KOMPAS.com - Beredar di media sosial foto seorang bayi laki-laki mengalami penyakit "Omphalocele" di Provinsi Riau.

Omphalocele atau omfalokel adalah kelainan lahir yang ditandai dengan keluarnya organ yang ada di dalam rongga perut bayi, seperti lambung, hati, usus, melalui pusar. Kasus ini sangat jarang terjadi.

Beberapa foto bayi malang itu diposting dengan disertai keterangan oleh akun Facebook Alya Jazilah Zila.

"Assalamualaikum..mohon doa dan batuannya sudara/i dengan sedikit menyisihkan rezki kita untuk bayi ibu rita susrianti (ita) yang mengidap penyakit omfalokel sejak lahir, pernah dirawat di RS ARIFIN AHMAD pekanbaru selama 21 hari dan sekarang sudah dibawah pulang dikarna keterbatasan biaya. Sekarang adek bayi tingga di Desa Batu Bersurat, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar," tulis akun facebook itu.

Dilihat Kompas.com, kondisi bayi itu sangat memperihatinkan. Organ dalam perutnya keluar.

Baca juga: Cerita Pilu Bayi Aqila, Alami Gizi Buruk dan Penyakit Penyerta, Ibu: Saya Pasrah...

Bayi dibawa pulang dari RSUD setelah 21 hari dirawat

Bayi tersebut anak dari pasangan Izuldi (46) dan Rita Susrianti (40). Mereka berdomisili di Desa Tali Kumain, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Izuldi saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, mengaku anaknya kini berada di rumah orangtuanya di Desa Batu Bersurat, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar.

Bayinya dibawa pulang lagi setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, pada Selasa (6/4/2021), karena tak ada biaya selama di sana.

"Anak saya dirawat selama 21 hari. Tetapi, belum ada tindakan operasi. Karena, kata dokter rumah sakit harus nunggu organ yang keluar itu mengecil dulu. Kalau sudah masuk lagi organ yang keluar baru dijahit. Tapi harus nunggu sampai usai sekitar delapan bulan," kata Izuldi, Sabtu (10/4/2021) malam.

Baca juga: Viral Foto Bocah 11 Tahun Tinggal Tulang dan Kulit di Aceh Utara, Derita Tipes Akut

Tidak ada biaya untuk menunggui bayi di RSUD

Namun, ia memutuskan untuk merawat bayinya di rumah saja, karena kekurangan biaya selama berada di rumah sakit. Apalagi, sampai menunggu selama itu.

Sedangkan untuk biaya perawatan bayinya di rumah sakit ditanggung BPJS.

"Jadi, bukan rumah sakit yang menyuruh pulang. Memang kami mau merawat di rumah. Karena, kalau masih lama di rumah sakit kami tidak ada uang lagi buat beli makan, minum, beli obat dan sebagainya. Selama di sana saya tidur di ruang tunggu rumah sakit, lebih kurang tiga pekan lamanya," kata Izuldi.

Dia menceritakan, anak ke tujuhnya itu lahir pada 15 Maret 2020, sekitar pukul 14.00 WIB, di Rumah Sakit Surya Insani di Rohul. Saat itu, bayinya lahir sudah ada kelainan, yaitu Omphalocele.

Bayi berusia 27 hari bernama Muhammad Fareski itu kemudian dirujuk ke RSUD Rohul. Setelah dirawat lima hari, akhirnya dirujuk ke RSUD Arifin Achmad di Pekanbaru.

Baca juga: Derita Kristina, Bayi 1 Bulan Lahir Tanpa Anus dan Butuh Biaya untuk Operasi

 

Ayah mengaku bingung memikirkan biaya ke RS di Pekanbaru, jual emas hingga pinjam saudara

Izuldi sempat bingung memikirkan biaya untuk berangkat ke Pekanbaru.

"Saya akhirnya jual emas istri setengah emas dan pinjam uang adik untuk berangkat ke Pekanbaru," sebut Izuldi.

Pada minggu pertama di rumah sakit, bayinya dalam kondisi normal. Tapi, minggu kedua kondisi bayi menurun, bahkan minum susunya harus pakai alat bantu.

Sementara bayinya belum bisa dioperasi.

Karena uangnya sudah habis, Izuldi akhirnya memutuskan untuk merawat bayinya di rumah saja.

Selama di Pekanbaru, ia mengaku sudah menghabiskan uang sekitar Rp 5 juta.

Tak punya ongkos pulang ke Rohul, nyaris nekat bawa pulang bayi pakai motor

Setelah keluar dari rumah sakit, Izuldi dan istri bahkan nyaris nekat membawa bayinya pulang ke Rohul menggunakan sepeda motor.

"Kami mau pakai sepeda motor pulang, karena, tak ada lagi uang bayar ongkos mobil. Tapi, akhirnya kami dijemput pakai mobil saudara di kampung," kata Izuldi.

Pria ini mengaku hanya bekerja sebagai menderes karet milik orang lain bersama istrinya. Hasil panen dibagi dua dengan pemilik kebun.

Dalam sebulan, Izuldi mendapat uang dari hasil panen karet hanya sekitar Rp 2 juta. Buat makan istri dan anak-anaknya.

Ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di sebuah rumah papan di Desa Tali Kumain, Kecamatan Tambusai, Rohul.

"Anak saya sebenarnya sudah tujuh orang. Tetapi, empat meninggal dunia. Cuma tiga yang selamat masuk yang baru lahir sekarang ini," ujar Izuldi.

Kini, Izuldi dan istrinya hanya bisa pasrah merawat anaknya. Berharap ada keajaiban anaknya bisa normal kembali.

"Sekarang kami rawat di rumah. Kalau dibawa ke rumah sakit lagi kan butuh biaya, sementara uang kami tak punya," tutup Izuldi.

 

RSUD: Dibiayai BPJS, bayi dibawa pulang atas permintaan keluarga

Direktur RSUD Arifin Achmad Nurzeli Husnedi menyampaikan bahwa pasien Omphalocele masuk rumah sakit dibiayai oleh BPJS.

Artinya, semua pembiayaan pelayanan kesehatannya selama di rumah sakit ditanggung negara.

Bayi tersebut masuk rumah sakit pada 19 Februari 2021 usia empat hari.

"Selama dalam perawatan dilakukan perbaikan keadaan umum sesuai dengan kondisi klinisnya oleh dokter spesialis anak dalam ruang khusus di Instalasi Perinatologi," kata Nurzeli dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (11/4/2021).

Perkembangan penyakit pasien selalu dipantau dan ada perbaikan. Sesuai kondisi penyakitnya, memerlukan waktu yang lama.

Bisa berbulan-bulan menunggu menutupnya daerah yang terbuka secara alamiah sesuai perkembangan bayinya.

Tidak ada tindakan operasi segera yang bisa dilakukan untuk kasus pasien ini. Hal tersebut sudah dijelaskan kepada orang tua atau keluarganya.

"Pasien dibawa pulang atas permintaan keluarga pada tanggal 6 April 2021. Alasannya adalah akan merawat bayi di rumah sendiri. Walaupun merupakan hak keluarga untuk membawa pulang pasien, namun petugas medis tetap memberikan penjelasan semaksimalnya apa yang bisa dilakukan keluarga. Karena, seharusnya pasien tetap berada dalam perawatan rumah sakit," kata Nurzeli.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tipu Petani soal Penjualan BBM, Briptu JS Diburu Propam Polres Rote Ndao

Tipu Petani soal Penjualan BBM, Briptu JS Diburu Propam Polres Rote Ndao

Regional
Senyum Pedagang Suvenir Menyambut Kedatangan Pengunjung Makam Bung Karno

Senyum Pedagang Suvenir Menyambut Kedatangan Pengunjung Makam Bung Karno

Regional
Cuaca Buruk, Lima Daerah di Polewali Mandar Rawan Banjir dan Longsor, Masyarakat Diminta Waspada

Cuaca Buruk, Lima Daerah di Polewali Mandar Rawan Banjir dan Longsor, Masyarakat Diminta Waspada

Regional
Ini Cerita TNI Gadungan Berani Bentak Anggota Kodim Saat Ditangkap

Ini Cerita TNI Gadungan Berani Bentak Anggota Kodim Saat Ditangkap

Regional
Diterjang Puting Beliung, 36 Rumah di Banyuwangi Rusak

Diterjang Puting Beliung, 36 Rumah di Banyuwangi Rusak

Regional
Mobil Berisi Satu Keluarga yang Hendak Melayat Tenggelam di Sungai, 3 Orang Hilang

Mobil Berisi Satu Keluarga yang Hendak Melayat Tenggelam di Sungai, 3 Orang Hilang

Regional
Pengemudi Tak Konfirmasi Pelanggaran ETLE, Sebanyak 6.925 STNK Terancam Diblokir

Pengemudi Tak Konfirmasi Pelanggaran ETLE, Sebanyak 6.925 STNK Terancam Diblokir

Regional
Oknum Polisi Menghilang Usai Tipu Petani, Begini Penjelasan Polres Rote Ndao

Oknum Polisi Menghilang Usai Tipu Petani, Begini Penjelasan Polres Rote Ndao

Regional
Hari ini Kendaraan yang Naik ke Puncak Bogor Dihentikan Sementara, One Way Berlaku ke Arah Jakarta

Hari ini Kendaraan yang Naik ke Puncak Bogor Dihentikan Sementara, One Way Berlaku ke Arah Jakarta

Regional
Peziarah Banjiri Makam Bung Karno di Hari Pertama Uji Coba Pembukaan

Peziarah Banjiri Makam Bung Karno di Hari Pertama Uji Coba Pembukaan

Regional
Kronologi Tabrakan Beruntun yang Libatkan 9 Kendaraan di Agam, 8 Orang Luka-luka

Kronologi Tabrakan Beruntun yang Libatkan 9 Kendaraan di Agam, 8 Orang Luka-luka

Regional
Mengenal Gendang Beleq, Musik Tradisional Lombok, Dulu Dipakai untuk Menyambut Pasukan Perang

Mengenal Gendang Beleq, Musik Tradisional Lombok, Dulu Dipakai untuk Menyambut Pasukan Perang

Regional
Truk yang Tabrak 8 Kendaraan di Jalan Raya Padang-Bukittinggi Diduga ODOL

Truk yang Tabrak 8 Kendaraan di Jalan Raya Padang-Bukittinggi Diduga ODOL

Regional
Bus Rombongan Pegawai RSUD Semarang Terguling, Dinas Sesalkan Aktivitas Wisata di Masa PPKM

Bus Rombongan Pegawai RSUD Semarang Terguling, Dinas Sesalkan Aktivitas Wisata di Masa PPKM

Regional
Ali Kalora dan Pengawalnya Tewas, DPO Teroris Poso Tersisa 4 Orang, Diduga Sembunyi di Hutan

Ali Kalora dan Pengawalnya Tewas, DPO Teroris Poso Tersisa 4 Orang, Diduga Sembunyi di Hutan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.