Ingin Penghasilan Rp 3 Miliar Tak Sampai 2 Tahun? Tanamlah Porang, Ini Caranya

Kompas.com - 07/04/2021, 15:34 WIB

"Bandingkan dengan sawit. Satu hektar porang dengan Sleman Boy, hasilnya lebih banyak dibanding 100 hektar sawit yang umurnya 20 tahun maksimal," katanya.

Begitu halnya, menanam porang tidak perlu ada penebangan liar karena tidak membutuhkan lahan luas seperti sawit.

"Satu keluarga dapat Rp 2 miliar tak sampai dua tahun kan cukup 1 hektar. Bahkan, dengan lahan 400 meter persegi dengan modal Rp 12 juta dalam dua tahun itu bisa menghasilkan Rp 120 juta," ujar pria yang meninggalkan profesi sebagai konsultan pajak demi porang ini.  

Namun demikian, lanjut Idris, untuk berhasil dalam menanam porang, ada sejumlah catatan yang harus diperhatikan.

Pihaknya selama ini menerapkan cara modern dan akal sehat ilmu pertanian. Oleh karena itu, mutu bibit haruslah yang baik, sehat, dan siap untuk ditanam.

"Jangan pernah beli bibit karena harganya murah. Beli bibit yang bermutu. Maka, dua hingga 3 tahun ke depan, saya yakin Sumut dengan memakai pola kita, akan bisa mendekati bahkan mengimbangi produksi Jawa Timur atau Jawa Tengah, karena kita punya hamparan luas," katanya. 

Potensi pasar

Edy Effendi, owner Porang Sumatera Boy mengatakan, ada 13 negara yang menunggu produksi porang. Sumut sendiri, kata dia, saat ini ada sekitar 300 hektare lahan penanaman porang. Dikatakannya, dia memilih menanam porang karena porang sudah menjadi kebutuhan internasional. Ekspor sudah porang sudah mennembus Jepang, Korea, China bahkan mulai berkembang ke Eropa, Amerika dan Australia.KOMPAS.COM/DEWANTORO Edy Effendi, owner Porang Sumatera Boy mengatakan, ada 13 negara yang menunggu produksi porang. Sumut sendiri, kata dia, saat ini ada sekitar 300 hektare lahan penanaman porang. Dikatakannya, dia memilih menanam porang karena porang sudah menjadi kebutuhan internasional. Ekspor sudah porang sudah mennembus Jepang, Korea, China bahkan mulai berkembang ke Eropa, Amerika dan Australia.

Sementara itu, Edy Effendi, pemilik Porang Sumatera Boy mengatakan, ada 13 negara yang menunggu produksi porang. Sumut sendiri, kata dia, saat ini ada sekitar 300 hektar lahan penanaman porang. 

Baca juga: Pengantin Baru di Kebumen Diwajibkan Tanam Bibit Pohon Minimal 2 Batang

 

Edy mengaku memilih menanam porang karena tanaman ini sudah menjadi kebutuhan internasional. Ekspor porang sudah menembus Jepang, Korea, China, bahkan mulai berkembang ke Eropa, Amerika, dan Australia. 

"Bisnis porang ini agak unik. Hilir menanti, hulu tidak ada. Luar negeri sudah menunggu porang dari Indonesia, tapi produksi sangat terbatas. Maka  sangat menarik untuk kita investasi dan ini peluang untuk meningkatkan devisa. Makanya, Menteri Pertanian dan Presiden mengangkat porang sebagai komoditas ekspor untuk dapatkan devisa negara," katanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X