Mengapa Interval Dosis Kedua Vaksin Sinovac Bisa 28 Hari?

Kompas.com - 24/03/2021, 10:46 WIB
Ilustrasi vaksinasi pada lansia SHUTTERSTOCK/BaLL LunLaIlustrasi vaksinasi pada lansia

BANDUNG, KOMPAS.com - Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Barat Daud Achmad menjelaskan soal adanya penambahan alternatif interval penyuntikan dosis pertama dan kedua yaitu 28 hari untuk populasi dewasa (18-59 tahun).

Hal itu mengacu pada Surat Edaran Nomor : HK.02.02/I/ 653 /2021 dari Kementrian Kesehatan tentang Optimalisasi Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19.

Daud mengatakan, SE itu membuat Jabar melakukan penyesuaian interval penyuntikan dosis pertama dengan dosis kedua sesuai surat edaran tersebut.

"Kita mengikut SE terbaru dari Dirjen P2P Kemenkes, bahwa vaksin dosis kedua untuk usia dewasa, usia 18-59 tahun, dan lansia usia di atas 60 tahun, diberikan setelah 28 hari pemberian vaksin dosis pertama. Tidak apa-apa," kata Daud di Bandung, Rabu (24/3/2021).

Baca juga: Proyek TPPAS Lulut Nambo Dilanjutkan, Jabar Sedot Investasi 133,3 Juta US Dollar

Daud pun mengimbau masyarakat tak perlu khawatir dan tetap mengikuti arahan pemetintah.

Ia juga mendorong pemerintah kota dan kabupaten untuk menyiapkan fasilitas kesehatan seperti puskesmas untuk melayani pemberian vaksinasi dosis pertama dan kedua.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ada puskesmas yang mungkin tidak akan mau ngasih vaksin dosis kedua saja, karena mungkin stok dia untuk paserta vaksin dosis kedua yang mendapat vaksin pertamanya di puskesmas itu. Makanya nanti dikasih tahu kalau sudah dekat ke waktu penyuntikan," ungkapnya.

Baca juga: Jadwal Vaksin Kedua di Jabar Mundur, Ini Penjelasan Ridwan Kamil

Ridwan Kamil jelaskan pemunduran jadwal vaksinasi dosis kedua

Gubernur Jabar Ridwan Kamil sebelumnya mengatakan, pemunduran jadwal itu merupakan keputusan medis. Emil, sapaan akrabnya, berkata hal itu disebabkan perbedaan jenis vaksin yang disuntikan kepada tiap orang.

"Ikuti saja sesuai panggilan itu pasti keputusan medis. Karena merk vaksin beda-beda, tumbuhnya antibodi juga beda-beda. Ada yang tumbuh 14 hari sudah ada, ada yang tumbuhnya 28 hari juga ada," ucap Emil di Bandung, Selasa(23/3/2021).

Emil pun meminta revisi jadwal itu tak membuat masyarakat bingung. Sebab, keputusan tersebut sudah dibuat melalui pertimbangan medis.

"Contoh akan ada perintah dari WHO disuntiknya tiga kali untuk vaksin tertentu itu namanya booster. Dua kali antibodinya ada, tapi supaya panjang ada suntikan ketiga satu tahun setelahnya. Ini kan baru wacana di dunia ada teori begitu, jangan kaget kalau ada perubahan yang penting divaksinnya. Karena tidak mungkin pemerintah memutuskan hal yang tidak ilmiah," jelas Emil.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Minta Menkominfo Blokir PUBG, Gubernur Aceh: Agar Syariat Islam Terlaksana...

Minta Menkominfo Blokir PUBG, Gubernur Aceh: Agar Syariat Islam Terlaksana...

Regional
'Korban Disuruh Vaksin Dulu Baru Akan Diterima Laporan Dugaan Percobaan Pemerkosaan Itu'

"Korban Disuruh Vaksin Dulu Baru Akan Diterima Laporan Dugaan Percobaan Pemerkosaan Itu"

Regional
Pria Dikira Mencuri dan Dibakar hingga Tewas, Ternyata Tak Ada Warga yang Kehilangan Motor

Pria Dikira Mencuri dan Dibakar hingga Tewas, Ternyata Tak Ada Warga yang Kehilangan Motor

Regional
Seorang Pria Tewas Dikeroyok karena Mengajak Jalan Kekasih Orang Lain, Begini Kronologinya

Seorang Pria Tewas Dikeroyok karena Mengajak Jalan Kekasih Orang Lain, Begini Kronologinya

Regional
Belitung Perpanjang PPKM Level 3, Ini Aturan yang Baru

Belitung Perpanjang PPKM Level 3, Ini Aturan yang Baru

Regional
Terseret Arus Saluran Irigasi, Bocah 11 Tahun Tewas Tenggelam

Terseret Arus Saluran Irigasi, Bocah 11 Tahun Tewas Tenggelam

Regional
Ini Peran Bos Pinjol Ilegal yang Ditangkap Polisi

Ini Peran Bos Pinjol Ilegal yang Ditangkap Polisi

Regional
Pria yang Aniaya dan Nyaris Bacok Polisi Ditangkap

Pria yang Aniaya dan Nyaris Bacok Polisi Ditangkap

Regional
Warga Magetan Temukan Banyak Batu Besar di Bukit Sepundung, Pemkab Lakukan Observasi

Warga Magetan Temukan Banyak Batu Besar di Bukit Sepundung, Pemkab Lakukan Observasi

Regional
Semarang Masih Sering Terendam Banjir, Ini Perintah Hendi

Semarang Masih Sering Terendam Banjir, Ini Perintah Hendi

Regional
Menurut Ridwan Kamil, Pinjol Marak karena Sulit Pinjam Uang di Bank

Menurut Ridwan Kamil, Pinjol Marak karena Sulit Pinjam Uang di Bank

Regional
Solar Langka di Sulut hingga Terjadi Antrean Truk, Ini Janji Pertamina

Solar Langka di Sulut hingga Terjadi Antrean Truk, Ini Janji Pertamina

Regional
Terjadi Lagi, 14 Orang Terjebak di Waduk Jatiluhur

Terjadi Lagi, 14 Orang Terjebak di Waduk Jatiluhur

Regional
Pengacara: Bupati Kuansing Ketakutan Merasa Diikuti sampai Matikan Ponsel

Pengacara: Bupati Kuansing Ketakutan Merasa Diikuti sampai Matikan Ponsel

Regional
Kota Semarang PPKM Level 1, Mal Sudah Diizinkan Beroperasi 100 Persen

Kota Semarang PPKM Level 1, Mal Sudah Diizinkan Beroperasi 100 Persen

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.