Petani Rumput Laut NTT Menangi Gugatan Tumpahan Minyak Australia Setelah 12 Tahun

Kompas.com - 22/03/2021, 10:29 WIB
Ketua Tim Advokasi Masyarakat Korban Montara Ferdi Tanoni saat bertemu dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson Dokumentasi Ferdi TanoniKetua Tim Advokasi Masyarakat Korban Montara Ferdi Tanoni saat bertemu dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson


KUPANG, KOMPAS.com - Pengadilan Federal Australia di Sidney, memenangkan gugatan belasan ribu petani asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (19/3/2021).

Sidang pembacaan putusan dibacakan oleh hakim tunggal David Yates, dihadiri Pengacara Ben Slade dari kantor pengacara Maurice Blackburn.

Gugatan itu diwakili Daniel SandaI asal Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Dia melayangkan gugatan mewakili 15.000 rekan seprofesinya di NTT yang menjadi korban pencemaran laut Timor sejak 21 Agustus 2009.

Gugatan Daniel tersebut didaftarkan sejak 3 Agustus 2016.

Baca juga: Ribuan Petani Rumput Laut NTT Menang Ganti Rugi Tumpahan Minyak Australia, Ini Ceritanya

Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara, Ferdi Tanoni yang merupakan tokoh utama di balik gugatan itu, mengaku bangga dengan perjuangan mereka selama 12 tahun yang berbuah hasil manis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Perkara ini adalah rakyat NTT melawan PTTEP Australasia yang dimenangkan oleh rakyat NTT, dipimpin Daniel Sanda dari Rote,” ungkap Ferdi kepada Kompas.com, Senin (22/3/2021).

Ferdi menuturkan, meledaknya kilang minyak Montara milik PTT Exploration and Production di Australia yang terjadi di Blok Atlas Barat pada 21 Agustus 2009 telah menyebabkan pencemaran besar-besaran di Laut Timor, NTT.

Banyak pihak merespons kejadian itu secara serius karena menimbulkan masalah besar.

Sejak kejadian itu, lelaki asal Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, tersebut begitu gigih memperjuangkan Laut Timor bagi warga NTT.

Bagi Ferdi, pencemaran itu telah menjadi petaka bagi masyarakat NTT, khususnya yang bermukim di pesisir pantai.

Ferdi yang merupakan Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) itu terus berjuang untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah Australia dan PTT Exploration and Production.

Selama perjuangannya, Ferdi mendesak pemerintah pusat untuk mengirimkan nota protes kepada Australia.

Ia dan belasan ribu nelayan NTT melakukan gugatan class action kepada perusahaan minyak PTTEP di Pengadilan Federal Sydney Australia.

Menurut Ferdi, yang membuat kasus ini tersendat adalah adanya perbedaan pendapat antara masyarakat dan pemerintah pusat di era sebelumnya.

Akibatnya, persoalan menumpuk. Terjadi pertentangan antara fakta di lapangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah maupun masyarakat yang ia suarakan dan fakta yang dimiliki oleh pemerintah pusat.

Ia mengaku, pertentangan itu menjadi masalah paling berat karena seolah-olah masyarakat NTT dan pemda di NTT melawan pemerintah pusat.

Kira-kira tiga bulan setelah Jokowi menjabat sebagai presiden, kata Ferdi, ada pertemuan besar yang cukup intens sehingga menimbulkan pertentangan dengan kementerian terkait.

"Pada akhirnya mereka sepakati bahwa langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat melalui saya itu sudah benar, dan perlu didukung sehingga keluarlah satu dukungan politik dari pemerintah pusat kepada kita," kata Ferdi.

Jadi, menurut Ferdi, persoalan ini baru diselesaikan secara benar sejak tahun 2015 sampai 2016. 

"Kita tidak meminta Presiden Jokowi untuk mengintervensi gugatan class action yang sedang berjalan di Pengadilan Australia itu. Biarlah prosesnya tetap berjalan, tetapi sesungguhnya gugatan itu hanyalah representasi maksimal 10 persen dari total kerusakan yang terjadi di Laut Timor,"ujar dia.

Baca juga: Kasus Pencemaran Laut Timor, Warga NTT Minta Jokowi Tidak ke Australia

"Ini kita belum bicara tentang kesehatan masyarakat, nelayan, kerusakan ekosistem dan terumbu karang serta restorasi Laut Timor," sambung Ferdi.

Ia berharap, kasus ini bisa segera diselesaikan sehingga masyarakat NTT yang menjadi korban bisa memeroleh keadilan.

Sementara PTT Exploration and Production (PTTEP) Australasia dalam rilis resmi yang diterima Kompas.com, menimbang untuk mengajukan banding atas vonis yang diterima dalam kasus meledaknya ladang minyak Montara pada 2009 yang berdampak terhadap pencemaran Laut Timor.

PTTEP akan mempertimbangkan dengan bijak putusan itu serta jalur banding yang tersedia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pencarian 3 Pekerja Proyek di Karo yang Tertimbun Longsor Dihentikan, Dilanjutkan Senin Pagi

Pencarian 3 Pekerja Proyek di Karo yang Tertimbun Longsor Dihentikan, Dilanjutkan Senin Pagi

Regional
5 Orang Tertimbun Longsor di Kabupaten Karo, 2 Ditemukan, 1 Selamat 1 Meninggal

5 Orang Tertimbun Longsor di Kabupaten Karo, 2 Ditemukan, 1 Selamat 1 Meninggal

Regional
Agus, Pensiunan Polisi yang Ngemis Jadi Manusia Silver Diberi Uang oleh Kapolda dan Dicarikan Pekerjaan

Agus, Pensiunan Polisi yang Ngemis Jadi Manusia Silver Diberi Uang oleh Kapolda dan Dicarikan Pekerjaan

Regional
Sebuah Mobil Terbakar di Magetan, Diduga Angkut BBM, Sopir Selamat

Sebuah Mobil Terbakar di Magetan, Diduga Angkut BBM, Sopir Selamat

Regional
Sekhdam, Film Kolaborasi Sineas Muda Lampung, Sajikan Pelestarian Kearifan Lokal

Sekhdam, Film Kolaborasi Sineas Muda Lampung, Sajikan Pelestarian Kearifan Lokal

Regional
5 Atlet Dayung dan 2 Pelatih di Riau Positif Covid-19, Kondisinya Membaik

5 Atlet Dayung dan 2 Pelatih di Riau Positif Covid-19, Kondisinya Membaik

Regional
Dalam Waktu 7 Jam, Polisi Bekuk Pembunuh Warga di Sigi, Ini Motif Pelaku

Dalam Waktu 7 Jam, Polisi Bekuk Pembunuh Warga di Sigi, Ini Motif Pelaku

Regional
Pekanbaru dan Dumai, Daerah dengan Capaian Vaksinasi Covid-19 Tertinggi di Riau

Pekanbaru dan Dumai, Daerah dengan Capaian Vaksinasi Covid-19 Tertinggi di Riau

Regional
Miris, Agus Pensiunan Polisi Kini Mengemis Jadi Manusia Silver, Bawa Kotak Sedekah ke Mana-mana

Miris, Agus Pensiunan Polisi Kini Mengemis Jadi Manusia Silver, Bawa Kotak Sedekah ke Mana-mana

Regional
Kisah Para Petani di Ngawi Jadi Penembak Hama Tikus, 1 Orang Bisa Dapat 100 Ekor

Kisah Para Petani di Ngawi Jadi Penembak Hama Tikus, 1 Orang Bisa Dapat 100 Ekor

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 26 September 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 26 September 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 September 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 September 2021

Regional
Perahu Ditabrak Kapal Kargo hingga Terbalik, 2 Nelayan Hilang

Perahu Ditabrak Kapal Kargo hingga Terbalik, 2 Nelayan Hilang

Regional
Sambil Menahan Tangis, Ayah Sebut Bharada Kurniadi yang Gugur di Papua Ingin Menikah Desember

Sambil Menahan Tangis, Ayah Sebut Bharada Kurniadi yang Gugur di Papua Ingin Menikah Desember

Regional
Ini Daerah Tanpa Hujan Terpanjang di NTT, Paling Lama 169 Hari

Ini Daerah Tanpa Hujan Terpanjang di NTT, Paling Lama 169 Hari

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.