Mengenal Srinthil Tembakau Primadona dari Temanggung, Anugerah Tuhan di Lamuk Legok

Kompas.com - 21/03/2021, 00:27 WIB
Seorang warga menjemur tembakau jenis srinthil di lereng Gunung Sumbing, Desa Banaran, Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (23/9/2019). ANTARA FOTO/Anis EfizudinSeorang warga menjemur tembakau jenis srinthil di lereng Gunung Sumbing, Desa Banaran, Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (23/9/2019).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Srinthil dikenal sebagai tokoh penari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis oleh sastrawan Ahmad Tohari.

Namun nama srinthil juga digunakan untuk tembakau khas dari Temanggung.

Tembakau srinthil adalah salah satu jenis tembakau berkualitas terbaik yang memiliki kandungan nikotin sangat tinggi.

Dikutip dari tulisan Elva Laily (2016) yang berjudul Srinthil, Pusaka Saujana Lereng Sumbing, harga srinthil pada tahun 2011 per kilo setara dengan harga satu gram emas 24 karat.

Baca juga: Buka Produksi Tembakau Sintetis Rumahan di Makassar, 3 Mahasiswa Ditangkap

Harga tersebut sangat fantastis. Tercatat pada 2009 harga tembakau Srinthil mencapai Rp 500.000 hingga Rp 700.000/kg. Sementara tembakau rajangan bukan srinthil hanya berkisar Rp 125.000/kg.

Bahkan pada 2015, harganya tembus hingga Rp 1,25 juta/kg dan saat yang sama tembakau rajangan hanya Rp 55.000/kg.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari sumber koran lokal, pada 2018 harga tembakau srinthil mencapai Rp 550.000.

Baca juga: Gunakan Tembakau untuk Membasmi Hama Kutu Putih pada Media Tanam

Kisah Ki Ageng Makukukuhan

Petani tembakau di Lereng Gunung Sumbing, Desa Bansari, Kecamatan BuluKOMPAS.com/istimewa Petani tembakau di Lereng Gunung Sumbing, Desa Bansari, Kecamatan Bulu
Tidak semua daerah di Temanggung menghasilkan tembakau srinthil.

Beberapa desa yang menghasilkan srinthil adalah Desa Legoksari, Desa Tlilir, Desa Wonosari, Desa Losari, Desa Pagergunung, Desa Pagersari, Desa Wonotirto, Desa Banaran, Desa Bansari, Desa Gedegan, Desa Kemloko dan Desa Gandu.

Dikutip dari Indonesia.go.id, srinthil dari Dusun Lamuk Legok dan Dusun Lamuk Gunung lah yang memiliki kualitas terbaik.

Dua dusun tersebut berada di Desa Legoksari. Di desa tersebut juga cerita tutur tentang srinthil berawal.

Baca juga: Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka meski Nepal Van Java Tutup

Nama Lamuk konon berawal dari berakhirnya kekuasaan Raja Brawijaya ke-5 di Kerajaan Majapahit.

Kala itu hiduplah seorang mantan petinggi Majapahit yang bernama Tiknoyo Noto Yudho yang moksa di Gunung Sumbing.

Sebelum moksa, Tiknoyo melihat tempat yang samar yang dalam bahasa Jawa berarti nglamat-nglamat. Tempat mosak Tiknoyo dikenal sebagai nama nglamuk.

Para pengawal setia Tiknoyo kemudian melanjutkan membuka hutan dan mendirikan pemukiman. Lokasi tersebut dikenal dengan Desa Legoksari.

Baca juga: Silancur Highland, Wisata Selfie di Kaki Gunung Sumbing

Menuju Pos 3 Gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik, Magelang.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Menuju Pos 3 Gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik, Magelang.
Legoksari tak bisa dilepaskan dari kisah Ki Ageng Makukuhan, tokoh yang diyakini mengenalkan tanaman tembakau di daerah tersebut.

Ki Ageng Makukuhan adalah murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Ia berdarah China dengan nama asli Ma Kuw Kwan.

Selain belajar agama, dia juga belajar budi daya pertanian. Hingga suatu hari Sunan Kalijogo mengutusnya menyebarkan Islam di wilayah Kudus.

Selain menyebarkan agama Islam, Ki Ageng Makukuhan juga diminta mengajarkan soal pertanian pada masyarakat. Wilayah tersebut kemudian dikenal dengan hasil pertaniannya.

Baca juga: Tak Pakai Rapid Test, Ini Syarat Mendaki Gunung Prau, Sindoro, dan Sumbing

Sunan Kudus pun mengetahui keberhasilan Ki Ageng Makukuhan. Ia lalu mengutus santrinya yang bernama Bramanthi yang mengantarkan tiga macam bibit kepada Ma Kuw Kwan.

Bibit yang dibawa adalah bibit padi raja lele, bibit padi cempa, dan bibit yang kelak dikenal dengan tembakau.

Pertanian pun semakin berkembang. Ma Kuw Kwan pun dikenal dengan nama Kia Ageng Makukuhan. Dari cerita tutur, Makukuhan juga sering didatangi penduduk yang sakit untuk berobat.

Hingga suatu ada seseorang yang lumpuh datang ke Makukuhan. Saat itu, Makukuhan memberikan satu daun tumbuhan yang tak bernama, sambil berkata, “Iki tambaku,” yang berarti “inilah obatku.”

Baca juga: Nepal van Java Dusun Butuh Magelang yang Unik Berlatar Gunung Sumbing

Petilasan Ki Ageng Makukuhan di Gunung Sumbing.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Petilasan Ki Ageng Makukuhan di Gunung Sumbing.
Ucapan Ki Ageng Makukuhan ini kemudian dijadikan nama bagi tanaman tak bernama yang selama ini ditanamnya yang disebut tambaku.

Dari sinilah asal usul kata tembakau, yang diucapkan dalam versi lebih singkat menjadi “mbako.”

Hingga saat ini, mbako adalah kata yang dipakai orang Jawa untuk menyebut tanaman tembakau.

Sementara itu nama Lamuk Legok juga tak lepas dari foklore kesaktian Sunan Kudus.

Baca juga: Viral Gunung Sumbing Disebut Mengerikan karena Tertutup Awan Bertingkat

Hal tersebut berawal dari keluhan Ki Ageng Makukuhan karena penduduk lebih suka menanam padi dari pada tembakau.

Mendengat keluhan tersebut Sunan Kudus melemparkan idig atau rigen sambil berkata:

“Nek kowe arep miara godhong ‘tambaku’ sing piguna kanggo wargamu, tutna lakune idig kiye mengko tibane nang ngendi. Kui panggonan sing bakal metu tanduran godhong ‘tambaku’ sing apik.”

(“Jika kamu hendak menanam daun ‘obatku’ yang berguna buat warga masyarakat, ikutilah jalannya rigen ini nantinya jatuh di mana. Itulah tempat di mana akan muncul tanaman daun ‘obatku’ yang baik”)

Baca juga: Rayakan 17 Agustus, Mapala UI Kibarkan Merah Putih di Goa Grubug dan Tebing Sumbing

Idig atau rigen yang dilemparkan oleh Sunan Kudus jatuh di Lamuk. Sebagian tanahnya amblas, melesak, dan membentuk cekungan, yang dalam bahasa Jawa disebut “legok.

Wilayah yang secara topografis cekung inilah sekarang disebut Dusun Lamuk Legok.

Dari sanalah nantinya tembakau srinthil muncul sebagai hasil dari perpaduan pengetahuan lokal dan olah budidaya masyarakat petani plus kondisi alam di sana yang spesifik.

Baca juga: Cara Membuat dan Menggunakan Pestisida Organik dari Tembakau

Anugerah alam dan Tuhan

Ilustrasi Tembakau Ilustrasi Tembakau
Masyarakat menyebut srinthil dengan istilah mbakau pulung karena harga yang sangat fantastis.

Pulung artinya adalah beroleh bahagia (anugerah, hadiah, pangkat dan sebagainya) atau laksana kejatuhan bintang.

Tembakau jenis ini juga tidak bisa diciptakan sebagai buah rekayasa olah budidaya keahlian dan pengetahuan masyarakat petani.

Srinthil benar-benar sepenuhnya anugrah alam dan Tuhan.

Baca juga: Cerita Eli, Anak Petani Tembakau Asal Jember yang Berhasil Jadi Dokter

Dia tidak selalu muncul setiap musim panen di tiap tahunnya, juga tidak semua lokasi areal perkebunan tembakau di Temanggung bisa menghasilkan srinthil.

Secara kuantitas, jumlah srinthil nisbi tidaklah banyak. Dalam 10 kg tembakau rata-rata hanya terdapat kurang-lebih 1 kg.

Karena itulah tiap tiba masa mbakon yaitu istilah lokal untuk menyebut musim panen tembakau, wajar petani di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro itu selalu berharap sebagian tembakau hasil panenannya muncul dan menjadi kualitas srinthil.

Seandainya harapan itu terkabul jelas adalah ketiban pulung.

Baca juga: Tinggal di Dekat Pabrik Tembakau, Jumenah: Cucu Saya Sulit Bernapas, Tidak Lagi Bisa Berjalan...

Kandungan nikotin di dalamnya srinthil sangat tinggi. Namun srinthil tidak untuk dikonsumsi langsung.

Srinthil dikenal memiliki peranan sebagai pembentuk rasa dan pemberi aroma bagi tembakau lainnya.

Masyarakat setempat menyebutnya “tembakau lauk.”

Dengan komposisi dan perbandingan 1 kg srinthil sebagai pembentuk rasa dan pemberi aroma bagi 100 kg tembakau-tembakau lainnya yang disebut dengan “tembakau nasi.”



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekolah yang Nekat Gelar Tatap Muka Akan Dibubarkan dan Diberi Sanksi

Sekolah yang Nekat Gelar Tatap Muka Akan Dibubarkan dan Diberi Sanksi

Regional
Masuk ke Indonesia Melalui 'Jalur Tikus', Warga Timor Leste Diamankan

Masuk ke Indonesia Melalui "Jalur Tikus", Warga Timor Leste Diamankan

Regional
Jaya di Olimpiade, Greysia/Apriyani Dapat Hadiah di Kampung Halamannya

Jaya di Olimpiade, Greysia/Apriyani Dapat Hadiah di Kampung Halamannya

Regional
Pembunuh Plt Kepala BPBD Merangin Terancam Hukuman Seumur Hidup

Pembunuh Plt Kepala BPBD Merangin Terancam Hukuman Seumur Hidup

Regional
Sosok Apriyani Rahayu di Mata Teman Sesama Atlet Bulu Tangkis Sultra

Sosok Apriyani Rahayu di Mata Teman Sesama Atlet Bulu Tangkis Sultra

Regional
Didenda Rp 10 Juta Usai Warungnya Jadi Lokasi Pernikahan, Dendik: Kalau Tidak Kuat Bayar, Saya Dikurung Saja

Didenda Rp 10 Juta Usai Warungnya Jadi Lokasi Pernikahan, Dendik: Kalau Tidak Kuat Bayar, Saya Dikurung Saja

Regional
Rumah Kalapas Kotapinang Dibakar oleh Napi dan Pegawainya Sendiri

Rumah Kalapas Kotapinang Dibakar oleh Napi dan Pegawainya Sendiri

Regional
Baru Dilantik, 36 Pejabat Pemkot Solo Diminta Rajin Blusukan dan Aktif di Medsos

Baru Dilantik, 36 Pejabat Pemkot Solo Diminta Rajin Blusukan dan Aktif di Medsos

Regional
Bukan Tersangka, Anak dan Menantu Akidi Tio Hanya Wajib Lapor

Bukan Tersangka, Anak dan Menantu Akidi Tio Hanya Wajib Lapor

Regional
Dinkes Jateng Klaim Tingkat Kematian di Tempat Isolasi Terpusat Tak Sampai 5 Persen

Dinkes Jateng Klaim Tingkat Kematian di Tempat Isolasi Terpusat Tak Sampai 5 Persen

Regional
[POPULER NUSANTARA] Catatan Emas Greysia Polii/Apriyani Rahayu | Polemik Sumbangan Rp 2 T Akidi Tio

[POPULER NUSANTARA] Catatan Emas Greysia Polii/Apriyani Rahayu | Polemik Sumbangan Rp 2 T Akidi Tio

Regional
Demokrat Jateng Laporkan Unggahan Wamendes di Media Sosial ke Polisi

Demokrat Jateng Laporkan Unggahan Wamendes di Media Sosial ke Polisi

Regional
Momen Sandiaga Uno Video Call dengan Penjual Cilok Berjas: Halo Bapak Pejabat!

Momen Sandiaga Uno Video Call dengan Penjual Cilok Berjas: Halo Bapak Pejabat!

Regional
Pasien Covid-19 Dipulangkan Paksa Saat Kritis, Akhirnya Meninggal, Keluarga Tolak Jenazah Dimakamkan dengan Prokes

Pasien Covid-19 Dipulangkan Paksa Saat Kritis, Akhirnya Meninggal, Keluarga Tolak Jenazah Dimakamkan dengan Prokes

Regional
Stok Vaksin di Kota Semarang Nyaris Habis, Dinkes Jateng: Sambil Menunggu, Manfaatkan Dulu

Stok Vaksin di Kota Semarang Nyaris Habis, Dinkes Jateng: Sambil Menunggu, Manfaatkan Dulu

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X