Menangis Ingin Bebas, Terdakwa Kasus Penolakan Jenazah Covid-19 Slamet: Saya Punya Anak Satu

Kompas.com - 18/03/2021, 18:39 WIB
Perangkat Desa, Slamet (kanan depan) yang jadi terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 menangis di Balai Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (18/3/2021). KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAINPerangkat Desa, Slamet (kanan depan) yang jadi terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 menangis di Balai Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (18/3/2021).

KOMPAS.com - Terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Kabuoaten Banyumas, Jawa Tengah, Slamet (46) terisak-isak menyesal dan minta dibebaskan.

Pria yang merupakan perangkat Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Banyumas itu menjelaskan dirinya tidak bermaksud menghalangi pekerjaan petugas.

"Sungguh niat saya bekerja, tidak mencari perkara kepada pejabat negara. Saya minta tolong bebaskanlah saya. Saya punya anak, anak satu," ujar Slamet di hadapan wartawan di Balai Desa Glempang, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Perangkat Desa Terdakwa Penolakan Jenazah Covid-19 Minta Dibebaskan, Bupati Banyumas: Biarlah Hukum Tetap Berjalan

Merasa tersiksa

Ilustrasi jenazahKompas.com Ilustrasi jenazah
Slamet mengatakan, sebetulnya dirinya mengadang ambulans untuk melindungi masyarakat yang takut dengan Covid-19.

"Niat saya bekerja, bukan mencari perkara. Saya menyesal yang sangat luar biasa, satu tahun ini saya merasa sangat tersiksa," kata Slamet dengan nada terbata-bata.

Bahkan dia telah meminta maaf kepada banyak pihak, seperti kepada sopir hingga para pejabat di Banyumas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya sudah minta kepada Forkompimda, saya sudah minta maaf kepada sopir yang membawa ambulans kosong, saya sudah habis-habisan minta maaf," kata Slamet melanjutkan dengan nada bergetar.

Baca juga: Polisi Korban Tsunami Aceh 2004 Diduga Ditemukan di RSJ, Keluarga: Sudah 17 Tahun, Percaya Enggak Percaya

 

Ilustrasishutterstock Ilustrasi
Siap bersujud

Slamet juga menyatakan bersedia jika harus bersujud di hadapan orang yang berkaitan dengan masalah itu sebagai permintaan maaf.

"Saya sudi bersujud di hadapannya, sungguh saya menyesal," ujar Slamet.

Slamet pun tak menyangka tindakannya membela warganya justru berujung menjadi kasus hukum.

"Kalau tahu akan terjadi seperti ini, saya tidak akan ikut apa-apa di desa ini, lebih baik jadi orang netral, daripada bergerak membela masyarakat akhirnya terjerat hukum," kata Slamet.

Baca juga: Abrip Asep Diberi Gelar Anumerta Usai Hilang Saat Tsunami Aceh, Ibunya Selama Ini Yakin Sang Anak Masih Hidup

PPDI surati Jokowi

Presiden Jokowi dalam sambutan dan arahan peringatan Dies Natalis ke-45 UNS yang digelar secara daring di Solo, Jawa Tengah, Jumat (12/3/2021).KOMPAS.com/LABIB ZAMANI Presiden Jokowi dalam sambutan dan arahan peringatan Dies Natalis ke-45 UNS yang digelar secara daring di Solo, Jawa Tengah, Jumat (12/3/2021).
Diberitakan sebelumnya, Slamet adalah satu dari tiga terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, April 2020 silam.

Paguyuban Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Banyumas kemudian mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.

PPDI berharap Presiden Jokowi membebaskan Perangkat Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas atas nama Slamet (46) dari hukuman.

Baca juga: Kisah Mbah Kusni, Dititipi Bayi dan Langsung Ditinggal Pergi, Ternyata Anak dari Hubungan Gelap Putranya

 

Bupati Banyumas Achmad Husein di kompleks Pendapa Sipanji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (17/2/2021).KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN Bupati Banyumas Achmad Husein di kompleks Pendapa Sipanji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (17/2/2021).
Bupati sebut hukum tak bisa diintervensi

Menanggapi hal tersebut, Bupati Banyumas Achmad Husein menyebut tidak bisa mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan.

"Di awal waktu itu, sesuai permintaan PPDI, saya sudah menyurati Kapolresta untuk mempertimbangkan permintaan teman-teman PPDI, namun kasus tetap berjalan," tutur Husein.

"Menurut pikiran saya, biarlah hukum tetap berjalan," ujar bupati.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Banyumas, Fadlan Mukhtar Zain | Editor : Teuku Muhammad Valdy Arief, Khairina)



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Disiksa 2 Hari, Buruh Perempun Ini Tewas Dianiaya 9 Orang, Dituduh Miliki Ilmu Guna-guna

Disiksa 2 Hari, Buruh Perempun Ini Tewas Dianiaya 9 Orang, Dituduh Miliki Ilmu Guna-guna

Regional
Disiram Minyak Panas oleh Istrinya, Pria Ini Alami Luka Cukup Serius

Disiram Minyak Panas oleh Istrinya, Pria Ini Alami Luka Cukup Serius

Regional
Dalam Sebulan NTT Diguncang 127 Gempa

Dalam Sebulan NTT Diguncang 127 Gempa

Regional
[POPULER NUSANTARA] Pelanggan Ludahi Petugas PLN yang Tagih Tunggakan Listrik | Istri Siram Suaminya dengan Minyak Panas

[POPULER NUSANTARA] Pelanggan Ludahi Petugas PLN yang Tagih Tunggakan Listrik | Istri Siram Suaminya dengan Minyak Panas

Regional
Viral, Video Emak-emak Bawa Sepeda Motor Masuk IGD RS di Jember, Ini Penjelasan RS

Viral, Video Emak-emak Bawa Sepeda Motor Masuk IGD RS di Jember, Ini Penjelasan RS

Regional
Kematian dengan Covid-19 di Blitar Melonjak 4 Kali Lipat selama Juli, Sebulan 425 Meninggal

Kematian dengan Covid-19 di Blitar Melonjak 4 Kali Lipat selama Juli, Sebulan 425 Meninggal

Regional
Polisi: Keluarga Bupati Yasin Payapo Menolak Pemakaman Sesuai Prokes

Polisi: Keluarga Bupati Yasin Payapo Menolak Pemakaman Sesuai Prokes

Regional
Sadis, Suami Diikat dan Sang Istri Dianiaya hingga Tewas oleh 9 Pelaku, Ini Ceritanya

Sadis, Suami Diikat dan Sang Istri Dianiaya hingga Tewas oleh 9 Pelaku, Ini Ceritanya

Regional
Jenazah Bupati Yasin Payapo Dibawa ke Rumah, Warga Beramai-ramai Datang Melayat

Jenazah Bupati Yasin Payapo Dibawa ke Rumah, Warga Beramai-ramai Datang Melayat

Regional
Keping Gamelan Kuno Ditemukan di Grobogan, Diduga Peninggalan Mataram

Keping Gamelan Kuno Ditemukan di Grobogan, Diduga Peninggalan Mataram

Regional
Preman yang Dibentak Sopir Truk Akhirnya Ditangkap Polisi

Preman yang Dibentak Sopir Truk Akhirnya Ditangkap Polisi

Regional
Jeritan PKL yang Tak Diberdayakan Bantu Warga Isoman di Madiun, Sepi Pembeli dan Berharap Bantuan

Jeritan PKL yang Tak Diberdayakan Bantu Warga Isoman di Madiun, Sepi Pembeli dan Berharap Bantuan

Regional
Polda Sumbar Larang Kegiatan Lomba dan Hiburan Selama HUT RI

Polda Sumbar Larang Kegiatan Lomba dan Hiburan Selama HUT RI

Regional
Bupati Yasin Payapo Meninggal Terpapar Covid-19, Jenazah Disemayamkan di Rumah Pribadi

Bupati Yasin Payapo Meninggal Terpapar Covid-19, Jenazah Disemayamkan di Rumah Pribadi

Regional
Gelombang Pasang Menghantam Pantai di Kebumen, Sejumlah Bangunan Rusak

Gelombang Pasang Menghantam Pantai di Kebumen, Sejumlah Bangunan Rusak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X