Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gadis 16 Tahun yang Diperkosa dan Dianiaya Ayah Kandung Alami Trauma, Korban Didampingi Psikolog

Kompas.com - 17/03/2021, 10:11 WIB
Sigiranus Marutho Bere,
Dheri Agriesta

Tim Redaksi

KUPANG, KOMPAS.com - Aparat Kepolisian Resor Kupang Kota, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mendalami kasus GYN (16) siswi SMA yang menjadi budak seks ayah kandungnya SYN.

GYN yang menjadi korban pencabulan, pemerkosaan, dan penganiayaan, itu masih trauma. Polisi menyiapkan pekerja sosial dan psikolog untuk mendampingi korban.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Hasri Manasye Jaha mengatakan, pihaknya hendak menitipkan korban ke rumah harapan GMIT, tetapi korban masih nyaman di rumah bersama keluarga.

"Walau korban nyaman di rumah keluarga namun tetap ada pendampingan oleh pekerja sosial dan psikolog karena trauma berat," Kata Jaha di Mapolres Kupang Kota, Rabu (17/3/2021) pagi.

Jaha menjelaskan, korban pertama kali dicabuli ayah kandungnya pada 2010. Saat itu, korban masih berusia lima tahun.

Baca juga: Mulai 1 April, Warga Surabaya yang Ingin Mendapatkan Layanan Kesehatan Cukup Pakai KTP

"Waktu itu korban tidak melawan karena takut," kata Jahat.

Namun, korban sempat menceritakan kepada ibunya.

Mendengar cerita korban, sang ibu pun hendak membawa korban ke kampung halaman di Sulawesi Selatan guna menghindari perbuatan pelaku.

Namun, sang ibu jatuh sakit pascakejadian itu dan meninggal pada 2015.

Pada 2017, pelaku menikah lagi. Selama pernikahan itu, pelaku kerap menganiaya istrinya dan dilaporkan ke polisi.

"Pelaku pun divonis bersalah dengan hukuman satu tahun enam bulan," kata Jaha.

 

Setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Penfui Kupang, pelaku berkumpul kembali dengan anak-anaknya termasuk korban. Pelaku kembali memerkosa korban.

Korban pun menolak, namun pelaku mengancam tidak membayar biaya sekolah dan menafkahi korban serta adiknya.

Puncaknya, pada pekan lalu, saat hendak hendak diperkosa lagi, korban mengancam akan menceritakan perbuatan pelaku pada kerabatnya.

"Pelaku pun menganiaya korban. Soal alasan korban lalai tidak mengumpulkan tugas dan dianiaya pelaku, korban memiliki alasan tersendiri, tidak bisa mengikuti sekolah secara online karena tidak memiliki handphone," ungkapnya.

Baca juga: Cerita Andreas Buat Tas Berbentuk Masker N95 karena Usaha Suvenir Pernikahan Hampir Mati Terdampak Pandemi

Hal ini menjadi alasan pelaku memukul korban dengan kayu. Pelaku juga mengancam kembali menganiaya korban.

"Karena takut maka korban kabur dari rumah. Selain itu pelaku memaksa korban dan memerkosanya," kata Jaha.

Korban yang sudah tidak tahan dengan perlakuan sang ayah bercerita kepada keluarga dan sebuah lembaga bantuan hukum. Kasus itu kemudian dilaporkan ke Mapolres Kupang Kota.

Setelah menerima laporan, polisi lalu bergerak cepat membekuk pelaku di kediamannya.

 

Saat diperiksa, pelaku sempat membantah. Namun ketika dikonfrontasi dengan sejumlah saksi, pelaku akhirnya mengaku.

"Motif pelaku memperkosa anaknya karena nafsu lantaran sudah lama 'puasa' dan sudah lama tidak melakukan hubungan biologis," kata Jaha.

Pelaku pun dijerat tiga pasal yakni Pasal 81 Ayat (1) dan (3), Pasal 82 Ayat (2) Undang-Undang Perlindungan Anak serta Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Baca juga: Kapolda Papua Mewanti-wanti Bupati dan Wabup Tak Tinggalkan Daerahnya Setelah Dilantik

"Kita jerat juga dengan pasal dalam KUHP karena tindakannya berlanjut serta dilakukan ayah kandungnya," jelasnya.

Dari tiga pasal yang dikenakan, pelaku terancam hukuman 15 tahun penjara ditambah sepertiga karena dilakukan oleh orangtua atau denda Rp 5 miliar.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Jaring Bakal Calon Pilkada Solo, Gerindra Sebut Kebanjiran Tokoh

Jaring Bakal Calon Pilkada Solo, Gerindra Sebut Kebanjiran Tokoh

Regional
Tumbuhkan Perekonomian Lamongan, Pemkab Lamongan Optimalkan Reforma Agraria 

Tumbuhkan Perekonomian Lamongan, Pemkab Lamongan Optimalkan Reforma Agraria 

Regional
Hampir Dua Tahun Tak Terungkap, Keluarga Almarhum Iwan Boedi Tagih Hasil Penyelidikan ke Polisi

Hampir Dua Tahun Tak Terungkap, Keluarga Almarhum Iwan Boedi Tagih Hasil Penyelidikan ke Polisi

Regional
Momen Korban Perampokan Duel dengan Pelaku, Uang Ratusan Juta Rupiah Berhamburan

Momen Korban Perampokan Duel dengan Pelaku, Uang Ratusan Juta Rupiah Berhamburan

Regional
Teken MoU dengan LCH, Pak Yes Ingin Showroom Produk-produk Unggulan Lamongan Terus Berkembang

Teken MoU dengan LCH, Pak Yes Ingin Showroom Produk-produk Unggulan Lamongan Terus Berkembang

Regional
Pilunya Apriani, Bocah 1 Tahun Penderita Hidrosefalus yang Butuh Dana Berobat ke Bali

Pilunya Apriani, Bocah 1 Tahun Penderita Hidrosefalus yang Butuh Dana Berobat ke Bali

Regional
Dorong Realisasi Program Lamongan Sehat, Bupati Lamongan Resmikan Poliklinik II RSUD Dr Soegiri

Dorong Realisasi Program Lamongan Sehat, Bupati Lamongan Resmikan Poliklinik II RSUD Dr Soegiri

Kilas Daerah
Video Mesum di Salah Satu Lapas Jateng Ternyata Dibuat sejak 2020

Video Mesum di Salah Satu Lapas Jateng Ternyata Dibuat sejak 2020

Regional
Prakiraan Cuaca Pekanbaru Hari Ini Selasa 23 April 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Pekanbaru Hari Ini Selasa 23 April 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Regional
Dijual di Atas HET, 800 Tabung Elpiji Milik Agen Nakal Disita Polisi

Dijual di Atas HET, 800 Tabung Elpiji Milik Agen Nakal Disita Polisi

Regional
Hadapi Pilkada, Elite Politik di Maluku Diminta Tak Gunakan Isu SARA

Hadapi Pilkada, Elite Politik di Maluku Diminta Tak Gunakan Isu SARA

Regional
Diisukan Maju Pilkada Semarang dengan Tokoh Demokrat, Ini Kata Ade Bhakti

Diisukan Maju Pilkada Semarang dengan Tokoh Demokrat, Ini Kata Ade Bhakti

Regional
Korban Kasus Dugaan Pencabulan di Kebumen Bertambah Jadi 6 Orang Anak, 1 Positif Hamil

Korban Kasus Dugaan Pencabulan di Kebumen Bertambah Jadi 6 Orang Anak, 1 Positif Hamil

Regional
Sebelum Tewas, Wanita Tinggal Kerangka di Wonogiri Miliki Hubungan Asmara dengan Residivis Kasus Pembunuhan

Sebelum Tewas, Wanita Tinggal Kerangka di Wonogiri Miliki Hubungan Asmara dengan Residivis Kasus Pembunuhan

Regional
Pilkada Kota Semarang, Sejumlah Pengusaha dan Politisi Antre di PDI-P

Pilkada Kota Semarang, Sejumlah Pengusaha dan Politisi Antre di PDI-P

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com