Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Kompas.com - 05/03/2021, 06:40 WIB
Ibu Meliana didampingi Kuasa Hukum Deddy Gunawan KOMPAS.com/RISKA FARASONALIAIbu Meliana didampingi Kuasa Hukum Deddy Gunawan

KOMPAS.com - Seorang ibu di Semarang, Jawa Tengah, dilaporkan ke polisi oleh anak kandungnya gara-gara warisan.

Ibu bernama Meliana Widjaja (64) juga mengatakan dirinya terus diteror oleh anaknya yang berinisial J (39).

Dengan suara lirih, Meilana mengingatkan bahwa dirinyalah yang sudah mengandung J hingga membesarkannya tanpa minta balasan.

Namun, justru sikap tak menyenangkan yang didapatkan Meliana.

"Anak ini sering meneror saya bertahun-tahun. Sejak papanya enggak ada suka bentak-bentak. Pakaian dilempar ke lantai. Bahkan menyebar beling di kamar saya," kata Meliana.

"Saya ketakutan. Saya mengandung dia selama sembilan bulan tidak pernah minta balasan," ucapnya lirih.

Baca juga: Cerita Meliana Dilaporkan oleh Anak yang Disayanginya: Disekolahkan ke Australia hingga Dibelikan Mobil

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bersikap kasar sejak ayah meninggal

Ilustrasishutterstock Ilustrasi
Sikap kasar J disebut-sebut bermula semenjak ayahnya yang juga suami Meliana meninggal pada 2008.

Selain itu, Meliana juga menyebut tindakan J semakin keras sejak menikah.

"Dia (J) memaksa minta warisan kepada saya, padahal saya masih hidup kok. Itu anak durhaka," ungkap Meliana.

Baca juga: Tangis Seorang Ibu di Semarang Usai Dilaporkan Anak ke Polisi karena Warisan

 

Ilustrasi ibu milenial mengasuh anak.SHUTTERSTOCK.com/ Ilustrasi ibu milenial mengasuh anak.
Anak yang paling disayang

J merupakan anak ketiga dari Meliana.

Dari ketiga anaknya, Meliana sangat menyayangi J hingga menyekolahkan ke Australia dan membelikan mobil.

"Dulu sangat sayang sama dia. Dulu dia kuliah di luar negeri yang mengirim uang saya. Dia saya belikan mobil yang harganya mahal sekali. Itu ya saya yang belikan," kata Meliana seperti dilansir dari Tribun Jateng, Rabu (3/3/2021).

Dari kasus yang dialaminya, Meliana berpesan kepada para ibu agar tidak terlalu memanjakan anaknya.

Baca juga: Anak yang Polisikan Ibu Kandung Buka Suara: Enggak Sesuai Fakta

Disebut bohongi orangtua

Meliana menyebut anaknya ternyata tidak bersekolah selama berada di Australia, padahal keluarga selalu mengirimi uang.

Dia mendapat informasi bahwa anaknya di Australia sering melakukan pelanggaran.

"Dia dimarahin papanya, katanya sekolah-sekolah, ternyata tidak. Suatu saat dideportasi," ujarnya.

Suaminya kemudian mengusir J, kemudian anak sulungnya menolong J karena kasihan.

Namun, kata Meliana, J juga melaporkan kakak sulungnya itu ke polisi.

Baca juga: Abaikan Saran Ganjar, Wali Kota Tegal Tetap Tak Mau Cabut Laporan, Polisi Segera Panggil Saksi

 

Ilustrasi hukumShutterstock Ilustrasi hukum
Laporan terkait pemalsuan dokumen tanah warisan

Sementara itu, kuasa hukum Meliana, Deddy Gunawan, mengatakan tanah yang dipermasalahkan yakni seluas 220 meter persegi dan 221 meter persegi.

Dalam kasus ini, Meliana dilaporkan atas dugaan pemalsuan dokumen.

Meliana pernah mengurus balik nama tanah tersebut melalui wanita berinisial R melalui konsultasi.

Namun Meliana janggal karena nama ahli waris hanya berubah satu nama, yakni anak pertama, padahal Meliana memiliki tiga anak.

Dia lalu mengembalikan kepemilikan tanah menjadi nama suaminya.

"Ketika kami mencoba memediasikan, Ibu Meliana menolak karena masih hidup. Kalau memang mau ya ini kami berikan sertifikat, hak dia senilai Rp 1 miliar. Itu yang akan diberikan kepada J. Namun, J tidak ada tanggapan dan cenderung menantang bagaimana proses ini dilanjutkan sampai ke peradilan," tegasnya.

Deddy berharap agar permasalahan itu diselesaikan secara kekeluargaan karena tidak ada yang dirugikan.

"Toh bisa dibicarakan baik-baik tidak harus melaporkan ke polisi. Kami berharap Ibu Meliana mendapatkan keadilan agar tidak menimbulkan kerugian," ucapnya.

Baca juga: Duka Keluarga Briptu Herlis, Brimob yang Gugur dalam Kontak Senjata dengan MIT: Kami Masih Tidak Percaya

Pelapor sebut cerita ibunya tidak sesuai fakta

Anak sulung Meliana, Tommy, berharap agar adiknya menyelesaikan perkara secara kekeluargaan.

"Semoga ini bisa dihentikan, kasihan Mama," ujar Tommy.

Sementara J saat tidak mau banyak berkomentar terkait persoalan tersebut.

"Sementara saya enggak gubris, saya malah geli. Saya lebih baik diam karena enggak sesuai fakta," ucapnya.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Indra Mardiana membenarkan soal adanya aduan tersebut.

"Kita masih tindak lanjuti pengaduan. Laporannya bentuk pengaduan," kata Indra lewat pesan singkat.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Semarang, Riska Farasonalia | Editor : Dony Aprian, Teuku Muhammad Valdy Arief), Tribun Jateng



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejumlah Warga Tak Mau Terima BST Dobel, Begini Respons Ganjar Pranowo

Sejumlah Warga Tak Mau Terima BST Dobel, Begini Respons Ganjar Pranowo

Regional
Bantu Pemkab Bogor Kejar Target, Telaga Kahuripan Fasilitasi Vaksin untuk Warga

Bantu Pemkab Bogor Kejar Target, Telaga Kahuripan Fasilitasi Vaksin untuk Warga

Regional
11 Tahun Menanti, Wonogiri Akhirnya Kantongi Predikat KLA Tingkat Pratama

11 Tahun Menanti, Wonogiri Akhirnya Kantongi Predikat KLA Tingkat Pratama

Regional
Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, Pemkot Semarang Tak Lagi Lakukan Penyekatan

Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, Pemkot Semarang Tak Lagi Lakukan Penyekatan

Regional
Isoman Rawan Tularkan Virus, Pemkab Wonogiri Terapkan Tempat Isolasi Terpadu

Isoman Rawan Tularkan Virus, Pemkab Wonogiri Terapkan Tempat Isolasi Terpadu

Regional
Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Regional
Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Regional
Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Regional
Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Regional
Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Regional
Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Regional
Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Regional
Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X