Cerita Petani Usia 75 Tahun Jadi Tersangka karena Tebang Pohon Jati yang Ditanam Sendiri

Kompas.com - 26/02/2021, 14:24 WIB
Natu dan Ario Permadi di rumah panggung mereka di Desa Ale Sewo, Soppeng, Sulsel, Rabu (24/02). ARIO PERMADINatu dan Ario Permadi di rumah panggung mereka di Desa Ale Sewo, Soppeng, Sulsel, Rabu (24/02).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Pemidanaan terhadap petani yang secara turun-temurun tinggal di kawasan hutan kembali terjadi, kali ini di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sejak 2016 setidaknya ada 57 petani dan warga adat dijerat pasal-pasal dalam UU Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H).

Akhir Januari lalu, tiga petani di Desa Ale Sewo, Soppeng, salah satunya berusia 75 tahun, divonis bersalah karena menebang pohon jati yang ditanam keluarga mereka.

Aparat hukum mengeklaim pohon-pohon itu sejak tahun 2016 masuk kawasan hutan lindung sehingga terlarang untuk ditebang.

Baca juga: Jadi Contoh Reforma Agraria, Nelayan Dusun Seri Manfaatkan Sertifikat Tanah untuk Modal Usaha

Padahal, menurut kesaksian para petani, orang tua mereka menanam bibit pohon jati itu bertahun-tahun sebelum negara menjadikan tanah leluhur mereka sebagai hutan lindung.

Awal tahun 2020, Ario Permadi, petani berusia 32 tahun di Desa Ale Sewo, Soppeng, berencana membangun rumah untuk tempat tinggalnya bersama istri dan dua anaknya.

Sejak menikah, Ario masih menumpang di rumah ayahnya yang juga seorang petani, Natu bin Takka (75 tahun).

Seperti kakak, ayah-ibu dan leluhurnya di kampung itu, Ario hendak menggunakan kayu jati yang ditanam keluarganya sebagai bahan rumah sederhananya.

Baca juga: Mumpung Harga Cabai Rawit Rp 90.000 Per Kg, Petani Beramai-ramai Memanen meski Belum Matang

Ario Permadi di kebun jati milik keluarganya yang kini masuk kawasan hutan lindung.ARIO PERMADI Ario Permadi di kebun jati milik keluarganya yang kini masuk kawasan hutan lindung.
Bersama ayah dan pamannya, Sabang bin Beddu (45), Ario kemudian menebang 55 pohon jati di kebun keluarganya.

Februari 2020, batang-batang jati itu sudah mereka olah menjadi ratusan balok untuk menjadi tiang dan penyangga atap.

Namun sebelum kayu-kayu itu belum berdiri tegak menjadi rumah, Ario, Natu, dan Sabang ditangkap polisi.

Atas laporan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Walanae -- sebuah unit pengelola teknis di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan -- polisi menjerat satu keluarga itu dengan tuduhan menebang pohon di hutan lindung Laposo Niniconang tanpa izin.

Baca juga: Ini yang Dilakukan TaniHub untuk Sejahterakan Para Petani di 2021

"Kenapa baru saat itu disampaikan bahwa kebun itu masuk hutan lindung. Dari dulu itu bukan hutan lindung," ujar Ario, Selasa (23/2/2021).

"Saya mau bikin rumah, tiang-tiangnya sudah jadi, polisi kehutanan baru bilang seperti itu. Bagaimana bisa seperti itu?

"Mereka cuma pakai GPS, cuma berdasarkan nomor-nomor saja. Ke manapun mereka pergi, kalau tanah yang mereka tindis itu masuk GPS, itu kawasan lindung," kata Ario.

Baca juga: Berdalih untuk Modal Tambang, Petani Ini Nekat Gadaikan 3 Mobil Orang

Proses hukum terhadap ketiga petani itu berlangsung hampir setahun. Tanggal 19 Januari lalu, majelis hakim di Pengadilan Negeri Watansoppeng menjatuhi hukuman tiga bulan penjara kepada mereka.

Walau dinyatakan melanggar pasal 82 ayat (2) UU P3H, Ario, Natu, dan Sabang tidak diwajibkan mendekam di penjara.

Namun balok-balok kayu dari kebun leluhur mereka disita.

Baca juga: Curi Kayu Milik Perhutani, Petani Ini Tebang Pohon Jati dengan Gergaji Manual Tengah Malam

'Tiba-tiba dijadikan hutan lindung'

Rumah milik Natu bin Takka. Hampir seluruh warga Ale Sewo secara turun-temurun berprofesi sebagai petani.ARIO PERMADI Rumah milik Natu bin Takka. Hampir seluruh warga Ale Sewo secara turun-temurun berprofesi sebagai petani.
Ario, yang hanya pernah mengecap pendidikan sekolah dasar, tak habis pikir saat kebun leluhurnya diklaim masuk kawasan hutan lindung.

Saat kakak perempuannya yang bernama Arida membangun rumah tahun 2002 silam, keluarganya juga menebang pohon jati di kebun yang sama.

"Dari dulu kami menebang di situ tidak pernah bermasalah. Sekarang pohon kami juga masih ada yang tersisa di situ karena kemarin kami pilih-pilih sebelum menebang," ujarnya.

Kasus hukum ini kini membuat warga Desa Ale Sewo waswas.

Baca juga: Mentan Minta Pemda dan Petani Optimalkan Food Estate Sumba Tengah

Apalagi, kata sebagian dari mereka, pemerintah tidak pernah mensosialisasikan batas hutan lindung.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X